Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 60



"Itu benar. Aku sangat menyukai anak kecil. Kalau dikasihnya sekarang kenapa tidak. Tapi aku nggak tahu bagaimana Kak Budiman?"


Tanya Adinda yang tidak mau kecewa karena Budiman.


"Saran ibu bicarakan aja semuanya. Biar nanti ke depannya bisa mendapatkan pencerahan."


Jawab Tia yang dapat persetujuan dari Kamila.


"Ibumu benar. Begitu juga dengan Mama. Mama ingin Budiman bertanggung jawab atas hidupmu dan juga anak-anakmu kelak. Jika Budiman tidak bertanggung jawab. Maka Mama Yang akan menghukumnya."


Tambah Kamila.


Pembicaraan soal anak pernah dicetuskan oleh Budiman. Karena Budiman sadar betul, kalau usianya sudah hampir kepala tiga. Apakah Budiman akan menjadi pria tua yang tidak memiliki seorang anak?


Itu salah besar. Di dalam hatinya ia ingin menjadi pria sempurna. Yang di mana pria sempurna memiliki istri dan anak kandung. Meskipun Budiman pria nakal, ia berhak mempunyai hak memiliki seorang anak bahkan lebih.


Kedua wanita paruh baya itu berharap akan terjadi. Mereka selalu berdoa agar Budiman cepat sadar. Jujur, meskipun Budiman membuat Kamila maupun Tia kesal, tapi mereka masih bisa memaafkannya.


"Bersabarlah kalian. Ini akan dibicarakan lebih lanjut lagi."


Ucap Adinda.


"Tidak apa-apa. Yang penting lukamu yang harus disembuhkan. Bener-bener itu Kanaya. Jika ingin melakukan pembunuhan. Maka dia selalu memesan para preman yang galak."


Kesal Kamila yang berharap Adinda cepat sembuh.


"Biarin aja. Nanti kalau sudah ada waktunya. Pasti Kanaya tertangkap oleh kepolisian. Begitu juga dengan Gilang. Bilanglah selama ini yang menutupi kasusnya Kanaya. Maka dari itu Gilang memang sengaja Kanaya kabur dari Indonesia untuk bersembunyi di daerah Eropa. Khususnya daerah Inggris sana."


Jelas Adinda yang mengetahui sepak terjang mereka berdua.


Tepat berada di kantor SM Company, Herman bersama Faris sedang makan siang bersama. Mereka sangat kompak sekali dalam menjalankan bisnis keluarga.


"Paman, bisa nggak Paman menyediakan beberapa orang untuk melindungi Adinda?"


Tanya Faris yang melahap makanannya.


"Coba kamu tanyakan saja kepada Budiman. Kemungkinan besar Budiman menyetujui atau tidak. Soalnya Budiman sekarang sudah menjadi suami Adinda. Kita tidak bisa menyalahi aturannya."


Jawab Herman yang memberikan solusi kepada Faris.


"Sangat susah sekali. Entah kenapa Budiman tiba-tiba saja jatuh cinta pada Adinda. Seperti kita lihat, dulu Adinda suka sekali berantem sama Budiman."


"Jangan mengeluh seperti itu. Biarkan saja mereka menjalankan rumah tangganya itu. Kalau ada apa-apa, maka kita turun tangan."


Mereka terdiam sejenak dan bermain ponsel sambil makan. Tak lama pintu ruangan Faris terbuka. Lalu ada seorang pria memakai baju serba hitam mendekati Herman. Orang itu membungkukkan badannya sambil memberi salam.


"Selamat siang tuan Herman."


"Siang Jo. Ada berita apa? Apakah Kanaya masih berada di Indonesia?"


Tanya Herman dengan tegas.


"Maaf tuan. Kanaya sudah kabur ke Inggris pagi menjelang siang. Bisa jadi Gilang yang menyuruhnya pergi ke sana."


Jawab Jo nama panggilan orang itu.


"Sudah aku tebak. Cara liciknya Gilang berarti jalan dengan sempurna. Kalau begitu keluarlah. Aku tidak akan memarahimu "


Melihat kode tangan dari Herman, Jo akhirnya keluar. Kemudian Faris mulai bertanya, "Kenapa Paman tidak menangkapnya?"


"Biarkan saja. Cepat atau lambat biarkan Adinda yang bekerja. Aku hanya menemaninya dari belakang."


Jawab Herman dengan sungguh-sungguh.


"Sepertinya ada udang di balik batu."


"Jangan ngaco kamu. Jangan kamu mencurigaiku. Percuma kalau nggak ada bukti pun kamu nggak bisa melakukannya. Soal dia kabur, aku akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Aku akan menyuruh orang di Inggris untuk memantaunya. Jadi kita tahu kegiatan dia apa aja."


Jelas Herman yang sengaja melepaskan Kanaya dari genggamannya.


"Paman malah santai saja membiarkan semuanya ini terjadi."


"Ingatlah. Di belakang Gilang ada seseorang. Dia sedang melakukan permainan licik. Kalau kita menangkapnya, bisa jadi si wanita ular itu memutar balikan fakta. Gilang akan menutupnya dengan rapat dan tidak ada orang yang tahu. Contohnya saja pembunuhan tentang Rizal. Kamu tahu kan, kasus Rizal sampai saat ini tidak ditemukan. Maka dari itu kita nggak usah terburu-buru."


Jelas Herman yang mengingatkan Faris dalam kasus pembunuhan Rizal.


"Ya sudah deh paman. Kita akan berkoordinator dengan Budiman dan juga Adinda."


"Tapi tidak sekarang. Sebab Adinda sendiri akan fokus dalam perpindahannya ke Amerika dalam jangka dua tahun ke depan."


Mereka segera menghabiskan sisa makanan itu. Mereka kembali tenang dan membiarkan Kanaya pergi terlebih dahulu. Akan ada masanya jika Kanaya tertangkap. Maka semuanya bisa berakhir tanpa harus ada peperangan.


Sore yang cerah. Ketika Adinda sedang tidur, ada seorang seorang suster datang. Entah kenapa Adinda terbangun lalu menyipitkan matanya.


Adinda tidak mengenali Suster itu. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya di dalam hati, "Siapakah Suster itu? Bukankah Paman Kevin sudah membentuk suster untuk merawatku? Tapi kenapa Aku curiga pada suster ini."


Adinda memutuskan untuk tidak memperhatikan Suster itu. Namun sudut matanya tidak bisa dibohongi. Suster itu meraih kantongnya untuk mengambil botol obat dan suntikan. Ketika susur itu mulai mengambil obat tersebut dan memasukkannya ke dalam suntikan. Adinda mulai berpikir ulang. Dalam hatinya ini ada yang tidak beres dengan suster tersebut. Ia tahu pada sistem akan memberikan obat dalam bentuk tablet. Dan semuanya Itu sudah terkoordinir dengan baik.


Budiman yang selesai meeting dengan klien merasakan perasaan yang tidak enak. Untung saja tempat meeting Budiman tidak jauh dari rumah sakit di mana Adinda dirawat. Ia meminta Tio untuk mengantarkannya ke rumah sakit segera. Tio pun menyetujuinya lalu menancapkan gasnya menuju ke rumah sakit tersebut.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Budiman berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Adinda. Untung saja jalanan sore ini tidak terlalu macet. Karena jam-jam segini belum ada karyawan pulang.


"Bisakah kamu mengendarai mobil lebih cepat lagi? Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan istriku."


Pinta Budiman sambil mengucapkan dengan nada dingin.


Tio segera menancapkan gasnya lalu menuju ke rumah sakit. Dalam beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit.


Dengan cepat Budiman langsung menuju ke kamar Adinda dengan diikuti oleh Tio. Meskipun jaraknya jauh sekali, kedua pria itu memang jago berlari dengan cepat.


Budiman segera naik lift bersama Tio. Ia harap-harap cemas agar Adinda selamat.


"Ada apa sih? Kok lu lari-larian seperti ini?"


Tanya Tio sambil memandang wajah Budiman.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Tanpa menjawab Budiman langsung meluncur ke kamar Adinda. Di sana Adinda sudah menangkap suster tersebut. Adinda mengikat tangan itu di atas brangkar. Ia segera menghubungi sepupunya agar ke sini. Namun Budiman dan Tio sudah masuk ke dalam kamar mewah tersebut. Mereka melihat Kalau Adinda melakukan hal yang gila. Tanpa babibu.. mereka menangkap suster tersebut.