Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 166



"Ya kamu bisa mencari lagi agar bisa membuat kamu nyaman," jawab Budiman.


Andara menyetujui jawaban Budiman. Ia akan membuat persyaratan buat calon asistennya itu.


"Untung datang duluan," sapa Adinda yang mendekati Andara.


"Untung saja enggak macet sama sekali. Jadinya bisa ngebut sedikit," jelas Tio.


"Apakah yang aku minta sudah dipersiapkan?" tanya Budiman.


"Sudah dari kemarin," jawab Tio.


"Apa itu?" tanya Budiman.


"Sebuah berkas yang bisa menjatuhkan mereka," jawab Tio.


"Berkas?" pekik Adinda.


"Hmmmp sepertinya kamu tidak perlu ikut-ikutan dech," jawab Budiman yang tidak ingin ikut-ikutan dalam masalah ini.


"Bisakah kamu memberikan dokumen itu kepadaku?" tanya Adinda yang mulai menatap tajam ke arah Budiman.


"Hmmmp... ini bahaya sayang. kamu akan terbunuh dengan Gilang," jawab Budiman yang merayu Adinda.


"Hehehe... kamu belum tahu siapa aku? Seluruh berkas yang kamu miliki tak selengkap punyaku. Aku sudah mengetahui berkas itu," ujar Adinda secara blak-blakan.


"Apakah yang dikatakan oleh Adinda benar. berkas yang kita miliki hanya sekelumit. Adinda sudah memiliki berkas yang sangat lengkap sekali. Aku yakin Adinda tidak akan tinggal diam ketika mereka merendahkan kamu nanti," ucap Tio dengan jujur.


"Aku sependapat yang dikatakan oleh Adinda," sahut Andara yang membaca novel online di ponselnya itu.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Budiman.


"Kita bisa tenang untuk menghadapi mereka. Apalagi Herman dan Faris juga menghadiri pernikahan Albert,' jawab Tio.


"Iya itu benar. Kedua orang iktu memang sudah tahu keluarga besarmu yang akan menjatuhkan martabatmu," jelas Adinda. "Bukannya aku mencari muka di keluarga besarmu itu. Tapi aku mencari keadilan atas kematian Rizal."


Budiman menganggukan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan oleh Adinda. Ia memegang tangan Adinda sambil berbisik, "Kenapa k,ita tidak melakukannya berdua ya?"


"Ngapain berdua? Apakah kamu akan membuat aku k.o di atas ranjang?" tanya Adinda balik.


Bukannya marah, Budiman malah tertawa. Jujur yang dimaksud Adinda sangat parah sekali. Mungkinkah Adinda ketularan sama Budiman?


"Memangnya kamu ya?" tanya Budiman yang membuat mereka memandanginya.


"Belum saatnya," jawab Adinda yang menatap wajah Budiman laku menunduk karena sadar atas ucapannya itu.


"Memangnya ada apa ya? Kok aku penasaran sekali dengan ucapan kalian,'' tanya Andara.


"Pengen tahu saja. Anak kecil enggak boleh tahu," ledek Budiman.


"Idih... kakak make rahasia-rahasiaan segala. nanti aku bilangin sama mama loh," ledek Andara balik.


Adinda hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum melihat kelakuan adik kakak itu. Kemudian Adinda melihat jam sambil bertanya, "Jam berapa kita berangka?"


"Ini jam sepuluh pagi. lebih baik kita jalan," ajak Adinda yang memimpin mereka semuanya.


"Hmmmp... baiklah. Aku setuju berangkat sekarang. Aku takut sekali terkena macet," ucap Budiman yang menyetujui permintaan Adinda.


Mereka akhirnya berangkat menuju bandara. Saat perjalanan ke bandara, Adinda merasakan ada sesuatu. Ia membuka ponselnya sambil membaca sebuah ancaman. Yang dimana ancaman itu adalah ancaman pembunuhan.


Isi pesan itu.


Serahkan tender itu. Atau ibu kamu akan mati.


"Sial!" maki Adinda yang membuat Tio mengerem secara mendadak.


"Ada apa?" tanya Budiman yang kesal terhadap Tio.


"Enggak ada apa-apa. Adinda sepertinya marah. Ada apa ini?" tanya Tio yang menoleh ke arah Adinda.


"Ada yang bermain-main dengan aku!" geram Adinda.


"Maksud kamu apa?" tanya Budiman.


"Ada yang mengirim pesan yang katanya orang itu sedang ingin membunuh ibu," jawab Adinda yang membuat mereka semuanya terkejut.


Beberapa saat kemudian, ponsel Adinda berdering. Ia langsung melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kemudian Adinda mengusap lambang berwarna hijau itu sambil menyapanya, "Halo."


"Kamu dimana?Apakah kamu sudah terbang?" tanya seorang pria yang bersuara bariton.


"Kami menuju ke bandara. Tapi kami masih berada di tengah jalan," jawab Adinda.


"Apakah kamu menerima sebuah pesan yang berisikan ancaman dari seseorang? Yang isinya ibu sedang disandera seseorang," tanya Faris nama pria itu.


"Hmmmp... iya. Aku tahu siapa dia," jawab Adinda yang tersenyum lucu.


"Ini serius. Orang itu menyuruh menyerahkan tender kamu yang besar itu," ucap Faris yang kesal terhadap orang itu.


"Iya ya... aku tunggu di pintu tol yang mengarah ke bandara," sahut Adinda.


"Siap," seru Faris yang membuat Adinda yang menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Kamu kirim aja lokasinya. Aku akan segera meluncur.


"Kakak," seru Adinda yang membuat Faris tertawa terbahak-bahak.


"Jangan marah begitu. Nanti cantikmu akan hilang," ledek Faris yang sengaja memutuskan sambungan teleponnya.


"Selalu saja begitu," kesal Adinda.


"Kenapa?" tanya Budiman yang sebenarnya gelisah.


"Ibu diculik sama Gilang. Kita pergi ke pintu utama jalan tol. Nanti aku akan memberitahukan ke Kak Faris titik temunya itu," jawab Adinda.


"Sudah aku duga!" geram Tio.


"Maksud kakak apa?" tanya Andara.