Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 183



"Bener juga apa yang kamu katakan. Ayolah kita tidur. Aku benar-benar lelah malam ini," ajak Rizal sambil memegang tangan Yuki menuju ke kamarnya.


Sepasang suami istri itu pun tersenyum dan menerima satu sama lain. Beban yang dirasakan oleh mereka sudah hilang seketika. Semuanya itu karena pertemuan tadi bersama Adinda dan juga Budiman.


Pagi yang cerah di kota Jakarta. Tia bersama Malik sudah bangun terlebih dahulu. Malik segera membersihkan kamarnya lalu menerima sebuah pesan. Pesan itu mengatakan kalau Adinda sudah bertemu dengan Rizal. Pria paruh baya itu sangat terkejut. Ia menatap wajah Tia sambil bergidik ngeri.


Melihat sang suami sedang bergidik ngeri, Tia segera mendekatinya. Tia menatap wajahnya sambil berkata, "Pagi-pagi begini kok bergidik ngeri."


"Aku begitu ngeri gara-gara mendapat pesan dari Adinda. Bagaimana bisa dirinya bertemu dengan Rizal yang sudah meninggal dunia?" tanya Malik.


"Firasat ku mengatakan kalau Rizal itu tidak meninggal dunia. Rizal masih hidup dan menetap di suatu negara. Aku tahu hatinya sangat dongkol karena ulah Gilang dan keluarganya. Kamu tahu ada kejadian yang di mana Gilang pernah membuat keluarga Rizal merasa malu berat hanya demi masalah sepele. Sampai sekarang keluarga Rizal tidak akan pernah mau menyapa keluarga Gilang," jawab Tia yang membuat Malik terkejut.


"Bukannya Albert itu saudara angkatnya Rizal?" tanya Malik yang membetulkan bantal-bantalnya itu.


"Rizal itu anak kandungnya Ibu Tatiana adiknya bapaknya Budiman. Ibu Tatiana memang mengangkat Albert untuk dijadikan teman untuk Rizal. Ibu Tatiana sudah tidak bisa memiliki anak lagi. Makanya itu Albert dan Rizal adalah saudara angkatnya," jawab Tia yang mengetahui kebenarannya.


"Sepertinya mereka tidak tahu kalau Rizal itu saudara sepupunya Budiman?" tanya Malik lagi.


"Ya nggak tahu. Rizal dan Budiman sepakat untuk tidak memberitahukan tali persaudaraan ini. Nanti takutnya Budiman membuat namanya Rizal jelek. Itu sih alasannya. Tapi kalau alasan sebenarnya tanyakan saja pada Budiman," jawab Tia yang membuat Malik paham.


"Untung ya semuanya berjalan dengan baik. Aku sekarang masih bingung dengan pikirannya Gilang. Apakah kamu mau ikut ke Singapura untuk menghadiri pernikahan Albert?" tanya Malik.


"Katanya nggak jadi ke sana? Katanya mau di rumah saja," jawab Tia.


"Nggak jadi. Aku harus ke sana. Aku harus melihat suasana di acara pernikahan itu. Aku tidak ingin putriku diinjak-injak oleh mereka. Putriku adalah seorang wanita terhormat yang dilahirkan dari keluarga yang terhormat juga. Apakah kamu mengerti maksudku bagaimana?" Tanya Malik yang sedikit emosi dan mengingat nama Gilang menghadiri pesta pernikahan itu.


"Kalau begitu kita berangkat ke sana saja. Juga sudah mendapatkan undangan resminya. Lebih baik kita nikmati saja satu hari semalam di Singapura," ajak Malik.


Dengan terpaksa wanita paruh baya itu mau mengikutinya. Pagi ini juga Tia dibantu dengan Malik akan ikut bersamanya. Sedangkan Herman dan Faris juga bersiap-siap. Namun otaknya mulai berpikir. Apakah pernikahan ini akan dihancurkan oleh Gilang? Jawabannya tidak tahu.


"Paman," seru Faris sengaja berdiri di ambang pintu.


'Ada apa memangnya?" tanya Herman.


"Apakah Paman serius ikut menghadiri pernikahan Albert?" tanya Faris balik sambil melipat kedua tangannya di dada dan masuk ke kamar.


"Sebenarnya aku sendiri malas. Tapi Albert adalah teman sekolahku dulu. Bahkan temen sebangku lagi. Mau nggak mau aku harus hadir dalam pernikahannya itu," jawab Herman yang malas dengan pertanyaan Faris.


"Okelah kalau begitu. Aku menunggumu di bawah," ucap Faris yang meninggalkan Herman di dalam kamar.


"Apakah Pak Gono sudah ditemukan?" tanya Herman sambil mengepak bajunya lalu memasukkannya ke dalam koper.


"Semalam sudah ditemukan oleh pihak berwajib. Aku dan Ayah sudah pergi ke sana. Untungnya Pak Gono dan mobilnya baik-baik saja. Si Netty ternyata diam-diam mengikuti mobilnya ibu. Habis gitu Netty memberhentikan secara paksa sambil memegang pisau. Pak Gono ketakutan dan sengaja berhenti. Pak Gono tahu kalau Netty itu adalah temannya Adinda. Dengan sikap lamanya Pak Gono menyambut kedatangan Netty. Sementara itu Ibu sedang menghitung bahan belanjaannya itu. Sang preman menarik paksa ibu untuk ikut dengannya. Pak Gono diikat dan dibuang di samping sungai. Dalam masalah ini kita tidak boleh menyalahkan Pak Gono. Pak Gono tidak mengerti apa yang telah terjadi antara Adinda dan juga Netty. Sebab kita semua belum konfirmasi tentang kejadian kemarin," jelas Faris berhenti tanpa membalikkan badannya.


"Aku juga nggak bisa menyalakan sembarang orang. Pak Gono sudah lama bekerja di sini. Lagian kita nggak seharusnya bercerita masalah ini ke setiap pelayan maupun sopir. Ini adalah privasi keluarga kita. Kalaupun bercerita bisa saja para pelayan maupun lainnya membocorkan masalah internal ke para tetangga. Kamu tahu kan rival Adinda itu siapa di kampung ini?" sambung Herman yang menutup kopernya.


"Orang itu selalu membuat masalah. Dia belum tahu siapa Adinda sebenarnya," sahut Faris. "Kalau begitu aku tunggu di bawah ya?"