
“Ya tanya lo,” jawab Herman sambil menatap wajah Budiman.
“Memangnya bangunnya jam berapa? Kok Paman bertanya seperti itu?” tanya Adinda.
“Dia bangunnya sering siang. Sekitar jam sebelas paling telat. Kalau lagi ke kantor jam delapan. Kalau jam segini kesurupan setan,” jelas Herman yang membuat Adinda bengong.
Melihat sang adik bengong, Faris memukul pundak Adinda. Ia sudah biasa melihat Budiman bangun jam segitu. Lalu ia menyadarkan Adinda supaya tidak terlalu bengong.
“Jangan terlalu bengong apa? Nanti kesurupan setan seperti Budiman,” ledek Faris yang membuat Budiman menahan tawanya.
“Aku enggak bengong. Kenapa juga Kak Budiman bangunnya siang seperti itu? Bukankah meeting di kantor itu Kak Budiman sangat dibutuhkan?” tanya Adinda yang menggelengkan kepalanya.
“Perusahaan itu sebenarnya masih dipegang sama papa mertuamu. Aku sebelumnya belum bisa memegang perusahaan itu. Kamu tahukan kalau aku terkena setan bucin sama wanita ular itu? Jadinya yang aku takutkan Njawe Groups akan bangkrut begitu saja,” jelas Budiman yang mengakui kesalahannya.
“Syukurlah. Lu udah mengakui semuanya. Kalau tidak, Njawe Group akan kehilangan banyak tender besar,” jelas Herman yang mengetahui semuanya.
“Lain kali lu jangan balik lagi sama wanita ular itu. Kalau lu sampai balik lagi, aku akan menjodohkan Adinda bersama Roni atau Irwan," ancam Faris yang tidak main-main.
"Apa?" pekik Budiman sepertinya tidak terima dengan keputusan dengan Faris.
"Iyalah. Secara mereka berdua mereka ingin sekali mempersunting Adinda semenjak sekolah. Akunya yang belum mau menjadi paman secara mendadak," ledek Faris.
"Ini tidak bisa dibiarkan saja. Aku harus mencintai Adinda dan menjaganya," jelas Budiman yang tidak terima dengan perkataan Faris.
"Lalu kamu mau apa?" jelas Faris yang sengaja meledek Budiman.
"Kenapa kalian jadi berantem seperti ini sih? Kalian ini sangat aneh sekali. Aku sudah putuskan untuk menjadi istri dari Budiman," kesal Adinda yang mulai pergi meninggalkan mereka sedang mengintimidasi Budiman.
"Ternyata kalian sudah membuat Adinda marah ya? Jangan harap gaji kalian akan turun bulan ini," kesal Malik yang melihat Faris sedang meledek Budiman.
"Apa?" pekik Faris yang menatap Malik dengan sendu. "Bagaimana ini? Seharusnya aku bisa membeli jaket kulit yang baru saja keluar di toko online?"
"Lalu aku bagaimana? Aku ingin sekali mengganti velg mobilku," tanya Herman yang mulai menatap Malik sambil meminta pertolongan.
"Aku tidak bisa membantumu kalian. Aku hanya menyampaikan hal ini untuk kalian," ucap Malik yang mengangkat tangannya tanda menyerah.
Malik pergi meninggalkan mereka dan tidak memperdulikannya. Ia hanya tersenyum manis sambil merasakan mereka panik setengah mati.
Sedangkan mereka mulai mendekati Budiman. Mereka mulai merayu Budiman agar Adinda tidak membekukan gajinya bulan ini.
Belum sempat merayu, ada suara mobil yang datang. Budiman tahu kalau yang datang adalah Tio. Budiman segera meninggalkan mereka dan keluar sambil melihat Tio.
"Pagi banget datang?" tanya Budiman.
"Kamu itu bagaimana? Kamu menyuruhku pagi seperti ini malah protes," protes Tio.
"Aku enggak protes sama sekali. Aku hanya terkejut melihatmu sudah bangun jam begini," ucap Budiman.
"Aku malah belum sempat cuci muka dan gosok Gigi kesini. Hanya karena berkas-berkas yang belum kamu tanda tangani," ujar Tio yang membawa berkas-berkas lalu menyodorkannya ke arah Budiman.
"Ya udah. Nanti aku tanda tangani," sahut Budiman langsung meraih berkas-berkas itu.
"Ke markas,' ajak Tio.
"Lu sering kesini?" tanya Budiman.
"Iya. Meski lu terjerat cinta bodoh sama wanita ular itu. Markas itu gue tempati bersama Kevin, Irwan dan Roni," jawab Tio dengan jujur.
"Pantas saja. Setiap gue cari lu malah hilang," kesal Budiman.
"Gue ketiduran pas lu telepon," ucap Tio yang tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian mereka masuk ke dalam. Tidak sengaja Tio melihat Herman bersama Faris dengan wajah memelas. Ia langsung menunjuk ke arah mereka sambil bertanya, "Kenapa mereka semuanya?"
Tio langsung meledakkan tawanya karena wajah memelas mereka. Tio tahu kalau mereka sekarang tidak memiliki uang pada bulan ini. Hingga akhirnya Tio mendapatkan lemparan asbak.
Dengan cepat Tio segera menghindar. Tio langsung menjauhi arah Budiman. Hingga terjadi...
Plakkkkkkk!
"Paman! Kakak!" teriak Adinda yang membuat mereka terkejut.
Ya... asbak itu terkena di wajah Adinda. Hingga Adinda terkena abu rokok mereka berdua. Dengan kesalnya Adinda langsung naik ke atas toilet. Ia segera mencuci wajahnya.
"Hmmmp... sepertinya kali ini aku tidak bertanggung jawab atas peristiwa ini. Jadi jika gaji kalian dibekukan. Maka aku tidak bisa membantu kalian," ejek Budiman sambil melambaikan tangannya dan tersenyum konyol.
Budiman segera pergi ke kamar. Ia akan menyusul sang istri. Ketika masuk ke dalam, Adinda sudah berdiri di hadapannya.
"Bener-bener dech itu orang. Selalu saja begitu. Untungnya aku belum memakai baju kerja," gerutu Adinda yang membuat Budiman menelan salivanya dengan sudah payah.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Budiman.
"Aku enggak apa-apa. Aku hanya kesal saja dengan mereka," kesal Adinda.
"Kenapa tidak kamu hukum saja?" tanya Budiman.
Tak lama kemudian Adinda memiliki ide yang sangat unik untuk menghukum mereka. Ia tersenyum manis sambil meninggalkan Budiman masih di posisi sama.
Setelah mereka turun, Adinda melihat Faris dan Herman sedang menunggunya. Mereka memang sengaja menunggu kedatangan Adinda. Agar Adinda memaafkannya.
"Aku minta maaf Din," ucap Herman dengan wajah memelas.
"Baiklah. Ayo ikut aku," ajak Adinda menuju ke ruangan kerjanya.
Mereka langsung mengikuti Adinda menuju ke ruangan Adinda. Sesampainya di sana, Adinda masuk ke dalam dan melihat Malik sedan menyiapkan materi untuk bahan kuliah nanti siang.
"Ayah," panggil Adinda sambil menatap Malik.
"Ada apa?" tanya Malik sambil mengangkat wajahnya lalu melihat Adinda.
"Aku meminjam ruangan ini sebentar," jawab Adinda sambil meminta izin.
"Pakai saja," suruh Malik.
Lantas Adinda berteriak sambil memanggil mereka. Lalu mereka masuk seperti kucing terjebur kolam yang berisi air.
"Din," panggil Faris dengan nada memelas.
Mata Malik membulat sempurna melihat mereka. Ia lalu menatap wajah Adinda sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi empuknya.
"Sepertinya ada kasus besar nich? Apakah kasus tentang tadi?" tanya Malik.
"Kasus mana?" tanya Herman dengan lirih yang sempat didengar oleh Malik.
"Kasus tentang perjodohan Adinda dengan Roni atau Irwan?" tanya Malik sambil tersenyum meledek mereka.
"Salah satunya itu. Ada lagi Yah," jawab Adinda.
Malik terkejut dengan pernyataan Adinda. Malik menatap sang Putri dan mengerutkan keningnya, "Ada apa?"
"Kasus asbak terbang yang menimpa wajahku," jelas Adinda.
Mata Malik membulat sempurna, Bagaimana bisa sang putri mendapatkan hadiah asbak salah satu dari mereka. Ia lantas bertanya lagi, "Kok bisa?"