
Sesampainya di rumah berlian, Adinda mengajak Budiman untuk menemui Claudia. Sebenarnya pernikahan Adinda ditentang oleh Claudia. Ia tidak ingin sepupunya itu menderita karena ulah Budiman.
"Kak," panggil Adinda.
Claudia yang sedang mempersiapkan pesanan customernya terkejut mendengar Adinda. Lalu Claudia mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis.
"Tunggu di dalam ruanganku. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku sebentar lagi," suruh Claudia yang memiliki wajah oriental tersebut.
"Baik kak," balas Adinda yang mengajak Budiman pergi ke ruangan Claudia.
Setelah itu Adinda mengajak Budiman duduk di sofa panjang. Tiba-tiba saja tubuh Budiman melemas. Karena sebelum terjadi pernikahan, Budiman pernah diancam Claudia dan menentang pernikahannya. Jujur Budiman sebenarnya tidak takut sama Claudia. Tapi Budiman pernah mendengar kalau Claudia itu adalah wanita barbar. Jika ada yang menyakiti keluarganya, Claudia orang pertama yang akan maju dan menyerangnya balik. Hal ini membuat Budiman sudah panas dingin saat bertemu dengannya.
"Kamu kenapa?" tanya Adinda.
"Sebenarnya aku takut ke sini. Aku takut bertemu dengan Kak Claudia. Yang aku dengar Kak Claudia adalah seorang wanita barbar. Jika ada salah satu keluarga yang disakitinya. Maka dia orang pertama yang maju dan menyeretnya ke jeruji besi," jawab Budiman.
"Bahkan Kanaya pernah dihajar habis-habisan olehnya. Ancamannya itu seperti pisau belati. Jika sampai dia melaporkan kejadian ini ke aparat terkait. Dia tidak akan selamat dari Kak Claudia," jelas Adinda yang membuat Budiman bergidik ngeri.
"Ah ini sangat menyeramkan sekali bagiku. Aku harus bagaimana ini? Dulu Memang sifatku sangat jahat sekali sama kamu. Bahkan aku sering mengancammu jika mengganggu hidupku," ucap Budiman sambil meringis dalam hati.
"Kalau benar ngapain kamu marah dan takut sama Kak Claudia? Kak Claudia itu orangnya sangat baik. Gara-gara dia aku juga menjadi barbar. Sangking barbarnya, aku sering sekali tawuran sekolah," ucap Adinda.
"Kamu memang hebat Din. Aku aja kalah sama kamu. Bagaimana bisa kita bertukar kodrat seperti ini? Aku dulu tidak pernah ikut tawuran. Yang ikut tawuran itu Faris. Tapi sekarang kakakmu itu tidak pernah lagi melakukannya," ujar Budiman.
"Kak Faris kan aku yang nyuruh. Sebelum ada tawuran besar-besaran, aku yang berada di sana dan menghitung semua orang-orang yang terlebih dahulu. Setelah itu aku yang maju dan melawan mereka satu persatu. Itulah kisahku ketika menjadi cewek nakal. Tapi ketika kami sudah dewasa dan tidak tawuran lagi. Mereka tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian masa lalu. Begitu juga dengan aku. Aku harap kamu kakak nggak cemburu sama mereka," pinta Adinda.
"Aku nggak cemburu sama mereka. Lagian mereka sudah menjadi orang sukses dan memiliki calon istri semuanya. Kapan-kapan mereka akan melakukan reuni. Aku nggak tahu waktunya kapan. Soalnya aku sendiri bukan panitia yang jadi panitianya adalah Roni dan Irwan. Tunggu mereka berdua. Karena mereka sendiri sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya," jelas Budiman.
Ceklek.
"Sudah lama ya menungguku?" tanya Claudia sambil membawa tiga botol minuman dan menaruhnya di atas meja.
"Nggak kak. Nggak apa-apa jika Kakak ada pekerjaan yang banyak. Aku akan pergi dulu dan mencari sesuatu," jawab Adinda.
"Ya nggak gitu kali," ucap Claudia yang duduk di hadapan mereka. "Aku memang menyuruhmu datang kesini untuk mengambil kado ulang tahunmu. Aku sudah membuatnya dan jadinya begini."
Lalu Claudia mengambil kotak beludru di dalam kantongnya. Ia segera menyerahkannya ke Adinda. Kemudian Adinda menerimanya dan membuka kotak beludru berwarna biru itu. Adinda mengambil kalung itu dan melihatnya. Matanya sangat berbinar sekali dan mengagumi ciptaan dari kakak sepupunya itu. Meskipun desainnya sangat sederhana, namun Adinda sangat menyukainya.
"Ini sangat indah sekali. Aku sangat menyukainya. Terima kasih ya kak. Aku jadi merepotkan kakak," jelas Adinda.
"Tidak apa-apa. Aku sudah berjanji kepadamu untuk memberikan sesuatu. Aku juga berterima kasih kepadamu karena sering membantuku untuk mengusir para preman yang menghadang di rumahku dulu," ucap Claudia dengan penuh senyuman.
"Itu kan dulu kak. Memang sudah seharusnya para preman itu diusir dari rumah. Aku sudah tahu siapa orang itu sebenarnya. Dia suruhan Kanaya. Mereka sudah bekerja sama denganku. Mereka juga tidak mau menjadi anak buahnya Kanaya lagi. Karena Kanaya tidak pernah membayarnya satu sen pun," jelas Adinda yang membuat Claudia dan Budiman terkejut.
"Apa itu benar Din?" tanya Budiman yang benar-benar bingung dengan Kanaya.
"Semuanya itu benar. Aku sudah menyelidikinya berkali-kali. Waktu penangkapan itu aku dibantu dengan Paman Herman. Mereka meminta damai dan nggak mau berurusan dengan pihak aparat. Dengan terpaksa aku membuat perjanjian sama mereka. Mereka sengaja aku kirim ke kebun buah milik Ayah yang berada di pulau Jawa ini. Jadi mereka sekarang hidupnya makmur bersama anak istrinya," jelas Adinda.
"Syukurlah kalau begitu," balas Claudia sambil mendoakan mereka agar tetap bahagia. "Kamu sama Budiman udah baikan?"
"Sudah Kak. Aku nggak akan pernah menceraikannya sedikitpun. Banyak sekali yang harus aku tata satu persatu. Nggak semua orang itu sempurna Kak. Aku ingin menikah hanya Untuk sekali saja," jawab Adinda yang membuat Claudia terharu.
"Ya nggak apa-apa. Kakak pernah mengancam Budiman agar memperbaiki sikap terhadapmu. Aku yakin kalian bisa bersatu seperti aku bersama suamiku. tetaplah bahagia dan jangan pernah menyerah. Nanti akan ada lagi dua kado pernikahanmu dari kami. Tunggu saja ya. Kakak akan mengirimkannya dalam waktu dekat ini.
"Terima kasih Kak," ucap Adinda dengan tulus.
Ayo apa hadiah yang tepat buat Adinda setelah menikah dari kakak sepupunya itu?