Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 169



Mereka dikatakan pecundang oleh Adinda, tidak terima sama sekali. Jujur harga dirinya sudah tercabik-cabik oleh ejekan Adinda. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung bergantian menghajar Adinda.


Budiman hanya diam saja melihat Adinda. Bisa-bisanya saat genting seperti ini bercanda habis-habisan. Namun dirinya tidak tinggal diam. Ia langsung membantu Adinda menghajar mereka satu persatu.


Mereka baku hantam dengan para preman. Untung saja mereka sudah memiliki skill untuk membela dirinya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain. Adinda dan Budiman sudah terbiasa dengan ilmu bela diri bahkan mereka dengan kompak memiliki ilmu bela diri yang sama dan tingkatan sama.


30 menit kemudian datang mobil Andra bersama lainnya. Sedangkan Andra yang melihat Adinda dan Budiman bertarung sangat geram sekali. Andra bergegas menghampiri mereka. Dengan tinjunya yang sekali, Andra langsung menghajarnya bertubi-tubi.


Beberapa saat kemudian para preman itu lumpuh seketika. Ketiga orang itu melihatnya sangat kasihan sekali. Namun apa daya mereka sudah melakukan kesalahan yang fatal. Andra menghubungi seseorang untuk membawa anak buahnya ke sini.


Setelah dinyatakan steril oleh Andra, Malik dan Herman memutuskan untuk mendekatinya. Sedangkan yang lainnya berjaga di depan. Andra memiliki insting kalau para preman itu jumlahnya sangat sedikit. Akan tetapi Andra menyuruh lainnya untuk bersiap-siap dan tidak boleh lengah. Sebab Andra tidak ingin ada yang terluka ketika serangan mendadak terjadi.


"Berhati-hatilah kalian. Kita harus mencari cara agar tidak terjadi serangan mendadak. Aku yakin mereka masih bersembunyi di suatu celah yang tidak dapat ditemukan," pesan Andra dengan tegas.


Mereka langsung masuk ke dalam dan mulai memisahkan diri masing-masing. Andra bersama Malik dan Herman menuju ke arah kanan. Sedangkan Budiman bersama Adinda menuju ke arah kiri. Mereka berjalan dengan santai. Namun mereka juga berjaga-jaga agar tidak terjadi serangan mendadak.


Dalam hitungan menit, Adinda mendengar suara orang berteriak-teriak. Adinda menyuruh Budiman berhenti dan menatap matanya. Kemudian mereka berdua dengan kompak mencari asal suara tersebut.


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya berjalan menuju ke lorong yang sempit. Namun sayang, beberapa ular berbisa berjalan di lantai. Memang, sang penculik itu sengaja melepaskan ular berbisa di tempat tersebut. Dengan cepat Adinda lompat ke dalam pelukan Budiman. Jujur saja Budiman terkejut dan melihat banyak ular.


"Sungguh sial hidupku seperti ini. Din turun Din," suruh Budiman yang ternyata dirinya takut dengan ular.


"Kamu kenapa Kak?" tanya Adinda.


"Kamu turun gih. Ini ular semakin mendekat kepadaku. Aku tidak bisa mengambil pistol. Aku akan menembak di bagian kepalanya," jawab Budiman.


Adinda teringat kalau di belakang punggungnya ada airsoft gun. Dengan ketakutan, Adinda turun ke bawah. Adinda sendiri segera mengambil airsoft gun itu. Dengan cepat ia mengarahkan pistol itu ke arah kepala ular tersebut.


Dor...


Dor...


Dor....


"Ini mah penculikan sangat konyol sekali. Ayolah kita ke sana," ucap Budiman yang tubuhnya melemas karena melihat ular terkapar di lantai tersebut.


Mereka akhirnya menuju ke suara tadi. Ketika ingin masuk ke dalam ruangan itu, Netty langsung menghadangnya. Wanita yang memakai gaun coklat tersebut menertawai Budiman dan Adinda. Ia memasang wajahnya itu yang angkuh sekali. Lalu dirinya berkata, "Selamat datang di neraka jahanam."


"Ngapain lu di sini? Lu kan yang menculik Ibu gue?" tanya Adinda dengan blak-blakan.


"Iya. Gue memang menculik Ibu lo. Lu nggak pernah tahu rasanya keluarga gue menderita?" tanya Netty.


"Lu kenapa nyulik Ibu gue? Ibu gue nggak ada salah apa-apa sama elu. Kalau lu pengen berurusan dengan gue. Jangan pernah membawa teman-teman gue ataupun keluarga. Lu ngomong langsung aja sama gue. Soalnya gue nggak mau nyariin mereka yang tidak berdosa dengan masalah ini. Apa lu paham dengan gue?" tanya Adinda yang mendekati Netty dan memutari tubuhnya.


"Serahin tender sebanyak tujuh triliun itu!" bentak Netty.


"Sekarang gue tanya sama lu. Lu kerja nggak ngurusin tender itu? Lu tau nggak gimana perjuangan gue dapetin? Lu tau nggak hampir tiga bulan anak-anak pada nyerah untuk ngurus tender seperti itu. Lu seenaknya minta tender Itu demi menebus hutang-hutang keluarga lu ke Gilang. Kalau gue kasih ke elu. Bagaimana perasaan mereka yang sudah kerja keras selama beberapa bulan itu? Gue pasti di amuk sama mereka. Lu tahu sendiri kalau gue kayak apa. Hutang-hutang. Jangan pernah menyeret apapun tentang perusahaan gue ke ranah pribadi lo. Seenaknya saja Lu minta tanpa mikir terlebih dahulu. Kenapa lu usaha untuk membayar hutang? Kok bisa-bisanya tender gue dibuat dari hutang keluarga elu ke Gilang?" tanya Adinda yang menjelaskan Bagaimana perjuangannya mendapatkan tender tersebut.


Budiman yang mendengarnya hatinya sangat sakit sekali. Apa yang dikatakan oleh Adinda itu benar. Meskipun Budiman tidak pernah mengorek soal tender tersebut. Budiman sendiri mengetahui informasi itu dari Faris maupun Herman. Bukannya minder, Budiman malah bahagia mendapatkan seorang istri yang cukup cerdas.


Sementara itu Netty sangat geram terhadap kelakuan Adinda. Wanita angkuh dan sombong itu langsung memukul Adinda. Dalam hitungan persekian detik, Adinda menangkis pukulan dari Netty. Netty baru sadar kalau Adinda adalah pemegang sabuk hitam dari cabang beberapa ilmu bela diri.


"Lepasin Ibu gue! Atau lu yang akan gue banting! Meskipun badan gue kecil seperti ini! Gue bisa membanting lo dengan cepat tanpa harus aba-aba!" perintah Adinda sambil mengancam Netty.


Netty tidak memperdulikannya sama sekali. Malahan ia mengambil pisau dari belakang tubuhnya. Budiman yang melihat itu langsung mendekati Adinda dan melemparkannya ke tembok. Jujur saja puisi yang dipegang oleh Netty akhirnya jatuh ke bawah. Budiman memeriksa Adinda untuk mencari luka di perutnya itu. Budiman bersyukur karena Adinda tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya Budiman mengucapkan syukur dan melihat Netty sudah duduk di lantai bersandarkan tembok. Ia sendiri memuntahkan banyak darah dari dalam mulutnya.


Ketika Budiman melemparkan Netty ke arah tembok, Budiman hanya mengerahkan sedikit tenaga dalamnya. Budiman sudah tidak memperdulikannya dan berharap Adinda tidak terjadi apa-apa. Kemudian Budiman sendiri langsung mengajak Adinda mencari keberadaan ibu mertuanya itu.


Beberapa saat kemudian mereka menemukan Tia yang sedang berbaring di lantai. Adinda berlari mendekatinya dan jongkok. Adinda mulai melepaskan ikatan tangan dan kakinya sang ibu. Kemudian Adinda memeriksa keadaan Tia.


"Apakah ibu baik-baik saja?" tanya Adinda.


"Ibu baik-baik saja. Ibu tidak apa-apa. Untung saja kamu datang di waktu yang tepat. Netty ingin membunuh ibu. Netty sudah mempersiapkan karung yang berisikan ular. Karung pertama sengaja dilemparkan keluar demi kamu nggak bisa masuk ke dalam sini. Karung kedua masih terbungkus rapi di dalam sana," jawab Tia sambil menunjuk karung berada di hadapannya itu.


"Apa?" tanya Budiman yang baru mengetahui kalau temannya Adinda sangat kejam sekali.