
"Apakah kamu mau tahu berapa pacar kakakmu?" tanya Tia yang mulai menuang minyak di wajan.
"Apakah satu bu?" tanya Adinda balik.
Faris malah tersenyum manis dan mendekati mereka. Ia menghempaskan bokongnya lalu menatap Adinda.
"Satu buat kakak kamu kurang," jawab Tia.
"Kok bisa bu?" tanya Adinda.
"Kamu tahukan kisah ayahmu?" tanya Tia tentang Malik.
"Ya... Aku tahu dari Paman Ali. Kalau ayah itu orangnya playboy," jawab Adinda yang sebenarnya sudah mengetahui sifat Malik.
"Hmmmp... Kamu benar. Dan kamu pasti tahu kalau pacarnya papa kamu berapa selama menikah berapa?" tanya Tia yang membuat Adinda mengingat sebuah teka-teki.
"Kira-kira seratus tiga puluh orang. Itu secara global. Di luar negeri ada tujuh puluh orang wanita. Di dalam negeri ada enam puluh negeri. Ada yang janda, perawan bahkan ada emak-emak enggak lepas dari incarannya," jawab Adinda yang membuat Tia tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya kamu mengetahui semuanya?" tanya Faris.
"Apakah kamu bertanya ini semuanya ke Paman Ali?" tanya Tia yang semakin penasaran.
"Tidak. Aku tidak bertanya kepada siapa-siapa. Aku menemukan sebuah data dari berbagai macam artikel. Bukannya ayah saat itu sangat terkenal sebagai dosen?" tanya Adinda. "Bahkan saking terkenalnya, pesona sang ayah tidak luntur sama sekali."
"Wow... Amazing banget deh ayah," puji Faris yang bangga terhadap ayahnya.
"Amazing bagaimana? Ayah sudah keterlaluan sekali mejadi pria. Bisa-bisanya papa telah memacari banyak wanita," kesal Adinda.
"Ayah jan macari semuanya demi mencari seseorang yang pantas untuk dijadikan seorang istri. Ayah enggak mau salah pilih. Jadinya ayah berpetualang untuk mencari istri yang baik dan juga menjadi ibu yang mampu untuk merawat dan mengurus kalian dengan baik," jelas Malik.
"Tapi tetap saja itu namanya mempermainkan banyak perempuan," ujar Adinda dengan nada datarnya.
""Mereka mau kok sama ayah. Mereka rela menyerahkan dirinya untuk kesenangan sesaat," ucap Malik yang mengakui.
"Iya sih... Untungnya ayah sekarang sudah sadar dari kekonyolannya. Sebenarnya ayah itu orang baik. Bahkan ayah adalah ayah terbaik," jelas Adinda yang memuji Malik.
"Enggak semua orang seperti itu. Ada yang setia, ada yang selingkuh, ada juga yang egois dan ada juga yang tidak bisa ditebak. Soalnya aku sendiri sudah sering di lingkaran pria yang memiliki sifat sangat aneh sekali," ungkap Adinda yang sesuai dengan kenyataan.
"Syukurlah... Kamu sudah pintar... Sekarang kamu lebih teliti untuk mencari pria yang bisa menyayangi kamu sepenuh hati," celetuk Faris yang sengaja menyulut perang dunia ketiga.
"Apa maksudnya?" tanya Adinda yang membuat Faris tersenyum melihat Adinda. "Aku sudah menikah kakak. Kasihan kalau aku mencari yang lain. Sebenarnya Budiman itu sangat mengasyikkan sekali sebagai pria. Aku sudah jatuh cinta sama dia," ucap Adinda dengan jujur.
"Hmmmp... Ternyata panah asmara telah menancap ke dalam tubuhmu terutama hati," ledek Faris yang sengaja membuat Adinda menjadi malu.
"Hehehe... Aku jadi malu," celetuk Adinda yang menaruh pisaunya dan kabur menghilang dengan wajah memerah.
Seketika Faris meledakkan tawanya karena melihat Adinda yang benar-benar malu. Ia telah berhasil membuat adiknya mengakui, kalau mencintai Budiman. Memang namanya cinta tidak bisa ditebak sama sekali. Yang dulu sering berantem, sekarang malah seperti lem dan kertas.
"Kamu ini ada-ada saja. Bisa-bisanya kamu membuat adik kesayanganmu memerah karena malu," kesal Tia yang tersenyum manis.
Meskipun kesal, Tia tidak pernah marah kepada Faris. Ia sangat bersyukur sekali mendapatkan dua orang anak yang sangat kompak sekali. Bahkan sekalinya kompak, semua orang yang berada di dekatnya sangat iri sekali.
Tepat jam tujuh pagi, keluarga Adinda memutuskan untuk sarapan pagi. Mereka makan dengan damai dan tidak ada yang mengganggu sama sekali.
Setelah selesai, Adinda memutuskan untuk mengecek lagi. Saat menutup koper, ada tangan kekar langsung memeluknya. Adinda terkejut dan menatap tangan kekar itu. Lalu Adinda tersenyum manis.
"Dari mana?" tanya Adinda yang membalikkan badannya.
"Dari hati yang paling dalam... terucap kata cinta untukmu," jawab Budiman yang sengaja menyanyikan sebuah lagu lama.
"Malah nyanyi nich orang," ledek Adinda yang memang menyukai suara merdu dari Budiman.
"Memangnya nggak boleh ya? Kalau gitu aku memilih untuk membaca puisi saja," ucap Budiman.
"Nggak deh. Aku yakin Kakak nggak begitu bisa baca puisi. Kalau baca puisi kayak orang kesurupan," ledek Adinda yang membuat Budiman tertawa.