
"Kita akan berbulan madu ke Maldives. Jika kamu setuju aku akan memesankan tiketnya. Dan kita bisa berangkat malam ini juga," jawab Budiman yang membuat Adinda terkejut.
"Kamu ini kena setan apa sih? Siang-siang kok langsung membuat rencana bulan madu. Aku belum pengen untuk bulan madu. Aku masih melepas tugas dikit demi sedikit untuk Kak Faris. Cepat atau lambat kita akan menempuh pendidikan S3," jelas Adinda.
"Kamu sudah diberitahu? Dimana kita akan menempuh pendidikan S3?" tanya Budiman yang melepaskan Adinda.
"London. Di Helsinki kita batal. Bukankah di London ada Kanaya?" tanya Adinda yang sengaja melirik Budiman.
''Duduklah terlebih dahulu," suruh Budiman. "Kamu akan di sini hingga nanti sore."
"Apakah kamu akan menahanku di sini?" tanya Adinda yang menghempaskan bokongnya di sofa panjang. "Aku ke sini hanya untuk melakukan bisnis bukan bermain."
"Ayolah sayang. Nanti aku akan bilang pada Faris kalau kamu di sini. Aku memang sengaja menahanmu agar tidak kemana-mana. Agar hatiku tenang. Soalnya lukamu belum benar-benar sembuh total," ucap Budiman menuju ke arah mejanya untuk mengambil beberapa berkas-berkas kerjasama.
"Kok aku ditahan sih di sini? Bagaimana bisa kamu menahanku di sini?" tanya Adinda.
"Semuanya bisa. Karena Kamu adalah istriku. Jadi seorang suami berhak menahan istrinya agar tetap di samping," jawab Budiman sambil tersenyum manis.
"Astaga! Mana ada seorang klien kamu tahan hingga nanti sore? Kamu itu lama-lama aneh deh," celetuk Adinda.
"Aku nggak aneh sama sekali. Kamu tahu kalau siang ini Faris akan mengadakan pertemuan sama orang Jepang. Kemungkinan besar Faris akan melakukannya hingga sore nanti. Terus Herman juga tidak ada di tempat. Lalu kenapa kamu kembali ke kantor? Sementara tidak ada orang sama sekali di sana? Yang aku dengar nanti juga ikut sama Faris. Jadi tempat itu kosong sama sekali. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?" tanya Budiman yang duduk di hadapannya Adinda sambil membaca berkas-berkas tersebut untuk ditandatanganinya.
"Aku tahu itu. Kalau kamu sudah menahannya ya bagaimana. Aku hanya bisa pasrah tinggal di sini. Semoga saja para karyawan tidak iri hati kepadaku," jawab Adinda.
"Kenapa kamu menjawab seperti itu?" Tanya Budiman.
"Yang pernah aku dengar, kamu adalah incaran para karyawatimu. Mereka mendambakanmu untuk dijadikan seorang suami. Sekarang aku sendiri yang bingung," jawab Adinda.
"Memangnya aku tampan ya?" tanya Budiman dengan penuh kesungguhan.
"Aku masih bingung untuk menjawabnya. Ya sudah mana dokumen kerjasamanya," jawab Adinda.
Budiman menyerahkan kerjasama itu ke Adinda. Lalu Adinda menerimanya dan membaca seluruh berkas-berkas tersebut. Adinda sangat terdengar melihat nominalnya. Jujur menurutnya harga ini sangat mahal sekali. Tapi Adinda sadar kalau kaleng yang dimiliki oleh Budiman adalah kaleng yang memiliki kualitas terbaik. Hasil produksi memang sangat unik sekali. Adinda sebenarnya tertarik sudah dari namun Adinda mengurungkan niatnya terlebih dahulu. Karena SM Company masih terikat kontrak dengan pihak lain.
"Bisa diturunin nggak nominalnya?" Tanya Adinda.
"Aku tidak bisa menurunkan nominalnya. Semuanya itu sudah standar dari terdahulunya. Maaf neng, namanya bisnis tidak akan bisa turun begitu saja. Jadi aku akan memberikan bonus sebagai gantinya," jawab Budiman yang merasa tidak enak kepada Adinda.
"Nggak usah diturunin. Aku hanya nego saja. Sepertinya Kak Faris setuju dengan ini," sahut Adinda.
"Kamu benar. Bukankah kamu pernah mengeluh tentang standar kaleng yang dipakai?" tanya Budiman yang mulai serius dengan pembicaraan perkalengan.
"Itu benar. Jujur produksinya sangat buruk sekali. Sebelum dipakai kami harus mencari tenaga tambahan untuk mengeceknya ulang. Dan itu memakan waktu yang sangat lama sekali. Aku sering telat untuk ekspor keluar," jelas Adinda.
"Ya kamu benar. Aku memang mencari partner untuk bekerja sama sampai nanti. Aku ini sebenarnya malas untuk bergonta-ganti klien. Kalau begitu aku akan menandatanganinya," ucap Adinda yang selesai membaca dokumen itu.
Tidak sengaja Adinda menemukan beberapa poin konyol dari Budiman. Poin-poin itu merujuk ke penahanan dirinya jika berada di perusahaan ini. Adinda langsung menepuk jidatnya lalu bertanya, "Bagaimana bisa kamu membuat poin seperti ini?"
"Inilah poin yang paling konyol aku buat. Tapi kamu harus menurutinya," jawab Budiman dengan serius.
"Terserah apa katamu. Aku hanya bisa pasrah untuk menemanimu saja. Oh ya Kok aku nggak ketemu Nda?" tanya Adinda.
"Dia berada di Kalimantan untuk mensurvei tempat dan dibangun pabrik baru," jawab Budiman. "Oh ya, menyambung tentang Kanaya aku akan memberitahukanmu sesuatu. Aku mendapatkan informasi ini dari seseorang. Dia temanku ketika berada di Inggris. Aku sudah menyuruhnya untuk mencari keberadaan Kanaya."
"Kalau kamu menemukannya, apakah kamu akan kembali kesana?" tanya Adinda yang mulai curiga terhadap Budiman.
Budiman tahu kalau Adinda sedang mencurigainya. Budiman mengerti perasaan Adinda untuk saat ini. Akan tetapi Budiman tidak akan pernah kembali ke Kanaya. Ia sudah menetapkan hatinya ke Adinda. Jika Kanaya datang, kemungkinan besar ia tidak akan berani mendekatinya. Karena Budiman tahu kelemahan Kanaya itu apa?
"Kamu tahu kelemahannya apa?" tanya Budiman yang berdiri mengambil air di kulkas lalu kembali lagi dan menyerahkannya ke Adinda.
Adinda segera merayu botol itu dan membukanya. Sebelum melanjutkan pertanyaannya, Adinda minum terlebih dahulu. Setelah minum Adinda bertanya lagi, "Memangnya apa kelemahannya?"
"Hidup Kanaya bersama orang tuanya bergantung pada Gilang. Sepertinya kamu harus mengetahui ini deh. Aku harap kamu nggak marah sama aku," jawab Budiman yang takut Adinda marah.
"Lebih baik kamu jujur saja. Ketimbang kamu harus berbohong kepadaku," pinta Adinda yang tidak ingin Budiman berbohong.
"Okey... Kanaya beserta keluarganya itu bergantung pada Gilang. Mereka tinggal di Inggris. Beberapa bulan yang lalu, Gilang dicekal dari Inggris. Penyebabnya adalah Gilang telah membuat onar dan memukuli seseorang. Kamu tahu seseorang itu siapa?" tanya Budiman.
"Aku nggak tahu dan belum mencari informasi tentang hal itu," jawab Adinda yang benar-benar tidak tahu tentang masalah itu.
''Gilang pernah bermasalah dengan salah satu pangeran di Inggris. Penyebabnya Gilang menabrak mobil pangeran itu. Lalu pangeran tersebut mendatangi Gilang dan bertanya baik-baik supaya dapat menolongnya. Tapi apa yang didapatkannya? Malah mengajak berantem dan pukul-pukulan. Setelah pukul-pukulan Gilang langsung dideportasi dan dicekal. Di negara Eropa juga sama. Gilang juga dicekal habis-habisan dan tidak boleh masuk ke tanah Eropa. Yang ini lebih parah daripada yang tadi. Gilang telah melakukan penipuan kepada banyak orang. Kamu pasti tahu tentang beberapa tender besar," jelas Budiman.
"Sangat parah sekali ya. Syukurlah kalau Gilang sudah dicekal di mana-mana. Aku sedikit lega mendengar akan hal itu," ucap Adinda. "Lalu bagaimana dengan Amerika? Katanya Kak Faris kita sama-sama dalam bahaya."
"Gilang lebih licik ketimbang kita. Dia sudah membunuh beberapa orang demi menutupi kejahatannya. Pasti kamu tahu kalau Gilang bekerja sama dengan mafia," jawab Budiman sambil menatap Adinda.
"Aku tahu itu. Lalu apa hubungannya dengan pembunuhan itu?" tanya Adinda mulai mengkait-kaitkan mafia dengan pembunuhan.
"Jadi sebenarnya gini. Gilang nyuruh mereka untuk mengejar klien tersebut. Setelah mendapatkannya Gilang menyuruhnya untuk membunuh. Istilahnya Gilang menyuruh untuk orang membunuh. Tapi dia sangat pandai sekali memakai alibi. Dia memilih bungkam dan tidak berkata apa-apa kepada publik. Itulah Gilang sebenarnya," jelas Budiman yang membuat Adinda tercengang.
"Apakah itu benar? Sepertinya ini sangat mengerikan sekali," tanya Adinda. "Kejamnya. Terus kita sekarang yang sedang diintai?"
"Iya itu benar. Kita memang sedang diintai oleh Gilang. Kalau kita sampai menginjakkan kaki di Amerika. Mereka bisa menghabisi kita di sana. Itulah kenapa aku meminta ayah Untuk membatalkan kuliahmu di Harvard. Kita harus pergi ke London. Di London SM company sudah berkibar. Kamu akan bekerja di sana sebagai distributor. Dan aku sendiri akan menjadi pekerjaan lain agar bisa menutupi hidup," jelas Budiman.
"Kenapa kamu tidak bekerja dalam satu perusahaan bersamaku? Apakah kamu malu tentang hal itu?" tanya Adinda.