
"Ya itu benar Yah. Bagaimana bisa wajahku yang sangat cantik ini terkena bedak abu?" tanya Adinda yang membuat Malik tertawa terbahak-bahak.
"Maaf,'' ucap Herman dengan nada sendu.
"Tiada kata maaf bagi kalian! Kalian harus mengerjakan perintah dariku kali ini!" tegas Adinda sambil melipat kedua tangannya.
"Bekukan aja gaji mereka dalam bulan ini," saran Malik sambil menghentikan tawanya.
"Oh... itu sebagai alternatif pertama," ucap Adinda yang menatap mereka dengan tajam.
"Waduh, kalau marah persis banget sama papa ya," ujar Faris secara terang-terangan.
"Aku kan anaknya ayah Malik," sahut Adinda yang membuat Malik mengacungkan jempolnya.
"Jadi hukumannya apa?" tanya Malik sambil menatap sang Putri.
"Hukumannya adalah Kak Faris pergilah ke Palembang. Aku ingin makan empek-empek Palembang nanti malam!" perintah Adinda.
"Apa!" pekik Faris. "Janganlah kamu menyuruhku membeli empek-empek di Palembang."
"Kenapa? Apakah kamu menolaknya?" tanya Adinda.
"Ya... siang ini akan ada kerjasama dengan Njawe Group," jawab Faris dengan jujur.
"Pergilah! Biar aku yang menanganinya!" terang Adinda. "Paman Herman!"
"Ya," sahut Herman yang merasakan dirinya sangat khawatir.
"Pergilah ke Jogjakarta! Aku ingin makan Gudeg nanti siang!" perintah Adinda yang membuat Herman terkejut.
"Yang benar saja. Masa aku harus bolak-balik?" tanya Herman.
"Iyalah... atau aku bekukan gaji kalian bulan ini," jawab Adinda yang mengeluarkan ultimatum.
"Janganlah kamu seperti itu. Aku ingin pergi ke kantor advokat. Aku ingin menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan gadis SMA sedang viral saat ini,'' jelas Herman.
"Iya Din. Aku ada dua pertemuan klien. Yang satu sama Njawe Groups. Satunya lagi bertemu dengan klien dari Taiwan," ucap Faris dengan serius.
Adinda menganggukan kepalanya sambil mencari alternatif. Ia juga merasa kasihan sama sang kakak dan pamannya. Ia segera mencari alternatif lain lalu berteriak, "Waduh. Aku lupa! Cabe kering, bawang merah, bawang putih, lada dan saus tiram."
Adinda segera berlari menuju ke luar ruangan. ia langsung pergi ke warung untuk membeli bahan dapur yang diminta oleh Tia. Sementara itu Budiman bingung melihat sang istri berlarian. Ia memutuskan untuk menjemput Adinda.
"Memang benar tugas hari ini kalian seperti itu?" tanya Malik.
"Benar ayah. Shubuh-shubuh Netty menghubungiku dan memberitahukan kalau Tuan Satoshi akan bertemu pada siang ini di restoran milik ibu di Tangerang," jawab Faris.
"Njawe Group gimana? Aku tidak bisa menanganinya. Aku harus pergi ke aktor advokasi. Netty akan menjaga kantor," jelas Herman.
"Ayah tidak bisa ke kantor hari ini. Ayah banyak sekali pekerjaan di kampus. tahukan kalau hari ini adalah hari Kamis. Betapa sibuknya ayah hari ini," ucap Malik dengan lemah. "Sebenarnya kapan sih pertemuan dengan Tuan Satoshi?"
"Pertemuannya sih malam hari. Berhubung papanya Tuan Satoshi masuk rumah sakit, jadinya dimajukan. Setelah pertemuan itu Tuan Satoshi langsung terbang ke Jepang," jawab Faris.
"Hmmp... terpaksa Adinda yang turun tangan mengurusi Njawe Group," celetuk Herman.
"Mau bagaimana lagi. Memangnya kamu mau melakukannya?" tanya Faris.
"Ya enggak. Aku ada pekerjaan di kantor advokat," jawab Herman.
"Yang dikatakan oleh Faris benar. Adinda disuruh masuk untuk sementara waktu," ucap Malik yang membuat mereka menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Lalu lukanya bagaimana?" tanya Herman.
"Katanya sudah kering. Kevin memakai obat dari luar negeri. Jadinya penyembuhannya lebih cepat," jawab Malik.
"Ya sudah Yah. Habis pertemuannya dengan Njawe Group, aku suruh pulang," ucap Faris mendapatkan persetujuan dari Malik.
"Kasih saja jadwalnya," saran Malik.
"Iya ayah," jelas Faris.
"Ya untuk sementara aku ajak sebentar. Aku lagi butuh asisten untuk menghandle pekerjaanku dalam mencatat poin-poin tertentu atas kerjasama ini," jelas Faris.
Adinda yang selesai membeli bahan-bahan dapur langsung keluar dari warung. Ia berjalan santai sambil menghirup udara segar.
"Din," panggil Budiman.
"Apa kak?" tanya Adinda.
"Aku ngantor hari ini," jawab Budiman.
"Tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja. meskipun nyeri sedikit. Aku masih kuat. Jangan terlalu khawatir sama aku," jelas Adinda.
"Ya... sudah. Nanti aku kirimkan uang jajan untukmu seharian," ucap Budiman.
"Enggak usah banyak-banyak. Dua lembar uang merah saja," pinta Adinda.
"Sedikit amat," sahut Budiman yang meminta kantong kresek itu.
'Itu sudah banyak. Aku tidak ingin menghambur-hamburkan uang," jawab Adinda yang memberikan kantong kresek itu.
"Hmmp... kirim saja nomor rekeningmu," ucap Budiman.
"Nanti kalau sudah di rumah," sahut Adinda. "Ayo kita pulang!"
Mereka akhirnya pulang ke rumah. Saat berjalan menuju ke rumah, para tetangga mulai membicarakan Adinda. Banyak sekali hujatan yang didengar Adinda. Mereka mengatakan kalau dirinya adalah seorang pelakor.
Adinda menarik Budiman masuk ke dalam. Budiman menuruti Adinda sambil bertanya, "Kenapa sih mereka membicarakan kamu sebagai pelakor?"
"Aku sendiri tidak tahu. Aku tidak mempedulikan apa kata mereka. Biarkan saja mereka membicarakan aku. Asalkan jangan pernah menyerang aku," jawab Adinda.
"Kamu terlalu sabar untuk menghadapi mereka. Andai saja aku berada di posisimu. Aku akan menghubungi pengacaraku dan melaporkan mereka ke aparat terkait," jelas Budiman.
"Enggak perlu lagi. Aku jarang sekali membuat onar di rumah. Yang mereka bicarakan juga enggak terbukti," ujar Adinda.
"Betul itu," seru Tia yang mendekati Adinda.
"Bu," panggil Budiman.
"Ada apa?" tanya Tia.
"Tapi mereka membicarakan Adinda sebagai pelakor," kesal Budiman.
"Jangan khawatir soal itu. Kata-kata seperti itu sudah berhembus semenjak Adinda mulai kuliah di Amerika. Gosipnya makin parah," kata Tia yang mengetahui kisah Adinda. "Pesanan ibu dimana?"
"Kak, kantong kresek tadi?" tanya Adinda.
Budiman menyerahkan ke arah Adinda. Adinda lalu meraihnya dan menyodorkan ke arah Tia. Ia tersenyum manis sambil berucap, "Selamat memasak."
"Kamu enggak usah memasak. Ada Mbok Jum baru saja datang," ucap Tia yang segera meninggalkan Adinda.
Adinda menatap Budiman sambil tersenyum manis. Tangannya mulia memegang lengan kekar Budiman. Ia mulai mengelus-ngelusnya hingga membuat Budiman tenang dan emosinya mereda.
"Kamu tenang saja . Aku tidak apa-apa. Biarkan saja mereka berkata apa. Aku bukan pelakor kok. Kamu tahu sendiri kalau aku sibuk di kantor. Terkadang sampai lembur dan enggak pulang sama sekali. Saking banyaknya pekerjaan," jelas Adinda.
"Bukannya begitu Din Aku sendiri enggak habis pikir sama mereka. Bisa-bisanya mereka mengatakan kamu seperti itu. Aku tahu kegiatan kamu sapa setiap hari. Padahal saat itu aku sangat membencimu," sambung Budiman.
"Lalu, apakah aku harus melawan mereka?" tanya Adinda.
"Ya harusnya kamu lawan," jawab Budiman.
"Enggak bisa begitu. Melawan mereka sama saja menghabiskan tenaga. Lebih baik aku menyimpan tenagaku untuk kegiatan lainnya," jelas Adinda. "Ke kamar yuk."
"Bercinta," ajak Budiman.
"Sudah siang Budiman. Lebih baik kamu mandi dan pergilah ke kantor. Aku akan mempersiapkan baju kerjamu," kesal Adinda.
"Kalau sekarang... memangnya ada apa?" tanya Budiman.