Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 19



Budiman semakin kesal terhadap sang resepsionis tersebut. Ia tidak ingin dipermainkan oleh siapapun untuk saat ini. Ia ingin menghajar orang saat ini.


“Dimana Dinda berada?” tanya Budi yang berwajah muram.


“Yang Anda maksud Dinda siapa? Disini ada lima nama Adinda,” jawab Melani. “Terus jabatannya apa? Disini para karyawan memiliki jabatan sendiri-sendiri.”


Melani menjelaskan tentang aturan perusahaan disini. Jujur setelah mendapatkan penjelasan, Budi sangat terkejut. Ia sendiri tidak tahu sang istri memiliki jabatan sebagai apa. Hingga akhirnya Budi menjelaskan Dinda dengan ciri-cirinya.


“Dia bernama Adinda Susanto. Memiliki ciri-ciri tinggi kalau tidak salah sekitar seratus tujuh puluh enam sentimeter. Berat tubuhnya kurang lebih empat delapan kilogram. Memiliki rambut hitam panjang. Kalau memakai baju selalu modis,” jelas Budi yang membuat Melani tersenyum.


“Memangnya Anda sudah membuat janji sama beliau?” tanya Melani.


Budi sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Ia menatap wajah Melani sambil bertanya, “Apakah aku harus membuat janji sama dia?”


“Dia siapa Pak?” tanya Melani.


“Dia Adinda maksud saya,” jawab Budi.


“Oh... harus. Anda harus membuat janji sama beliau. Sebab beliau adalah CEO di kantor ini,” jawab Melani.


Sontak saja Budiman terkejut. Wajahnya semakin pucat mendengar apa yang dikatakan oleh Melani. Ia tidak menyangka kalau sang istri adalah seorang CEO.


“Apa yang kamu bilang?” tanya Budiman yang masih terkejut.


“Iya... Beliau adalah seorang CEO idaman seluruh pria,” jawab Melani. “Banyak sekali mengejar-ngejarnya untuk dijadikan istrinya. Jujur... banyak sekali pria yang datang kesini. Ditambah lagi Bu Dinda memiliki kebaikan hatinya yang tidak bisa diukur oleh harta apa pun itu,” jelas Melani yang mengagumi Dinda.


Budiman segera mencari cara agar bisa bertemu dengan Dinda. Namun ia akan memakai cara yaitu dengan cara menipu sang resepsionis. Ia akan mengatakan kalau dirinya sudah membuat janji.


“Saya sudah membuat janji sama Bu Dinda,” ucap Budi yang tidak mau kalah dari Melani.


“Sebentar... saya akan menanyakan kepada Bu Netty. Apakah Bu Dinda masih berada di tempat atau sudah meeting?” ucap Melani yang menghubungi Netty.


Budiman menganggukan kepalanya. Ia yakin kalau Adinda berada di dalam ruangannya. Namun tidak disangka kalau Dinda sudah meeting bersama karyawan lainnya.


“Maaf tuan. Bu Dinda nya sudah meeting dengan karyawan,” ucap Melani.


Dengan terpaksa Budiman pergi meninggalkan meja resepsionis tanpa berpamitan. Hatinya sangat geram dan ingin menghajar Dinda saat ini juga.


Satu fakta yang tidak pernah diketahuinya. Bahwa Dinda adalah seorang CEO dari perusahaan SM Company. Yang di mana SM company adalah perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan tersebut penghasil makanan kaleng yang cukup terkenal. Maka dari itu Budiman hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


Lalu bagaimana dengan Budiman? Budiman meneruskan perusahaan keluarganya yang memproduksi kaleng kosong. Nama perusahaannya adalah Njawe Company. Meskipun perusahaannya tidak besar dan tidak kecil juga. Perusahaan itu adalah perusahaan turun temurun dari keluarga Budiman. Terpaksa Budiman memutuskan untuk kembali ke kantor. Dalam hati Budiman, Ia sangat apa sekali menikahi Adinda.


Harusnya Budiman bersyukur, sebab dirinya mendapatkan seorang istri yang cerdas dan baik hati. Banyak sekali klien bisnis Dinda yang berjenis kelamin pria sangat menginginkannya untuk dijadikan pendamping hidup selamanya.


“Papa,” ucap Budiman dengan lirih.


“Dari mana saja kamu? Semalam kamu nggak pulang ke rumah istrimu itu,” tanya Kartolo.


Dengan wajah ketakutan Budiman langsung menetralisir keadaan. Ia menatap wajah Kartolo sambil berkata, “Aku pulang ke rumah. Kata siapa nggak pulang ke rumah?”


“Kamu selalu saja bohong kepada papa. Kamu pergi ke apartemen Kanaya,” jawab Kartolo sambil menatap tajam ke arah Budiman.


“Sepertinya Papa salah informasi,” ujar Budiman yang tidak ingin disalahkan sama sekali.


“Salah informasi bagaimana?” kesal Kartolo. “Sudah Papa bilang sama kamu. Jangan sekali-sekali berkumpul dengan Kanaya. Kanaya itu adalah wanita ular. Wajahnya cantik tapi hatinya iblis. Jika kamu terus-terusan bersamanya. Aku pastikan perusahaan ini akan kuberikan kepada Adinda!” ancam Kartolo yang beranjak berdiri lalu pergi meninggalkan Budiman saat ini juga.


“Kenapa sih Papa selalu saja membuat aku marah? Aku ingin bercerai dari Adinda sekarang juga!” garam Budiman sampai terdengar ke telinga Kartolo.


“Ya sudah, cerai... cerai saja sana. Setelah ini seluruh fasilitas yang kamu dapatkan akan aku tarik semuanya,” ancam Kartolo lagi.


Budiman hanya bisa terdiam dan menatap kepergian Kartolo. Jujur dirinya hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.


Hidup Budiman ibarat seperti menggenggam bara api yang panas di tangannya. Jujur selama ini Budiman tidak mencintai Adinda sama sekali. Meskipun sering bertemu, Budiman jarang sekali menyapa Adinda. Padahal Adinda adalah seorang gadis yang sangat periang sekali. Lalu bagaimana dengan Adinda? Ia hanya bisa memaklumi sifat Budiman sedari kecil. Budiman sendiri lebih memperhatikan Kanaya ketimbang Andara sang adik perempuannya itu. Ditambah lagi jika ada bahaya dengan Andara. Orang pertama kali yang menolong adalah Adinda atau Tio. Itulah kenapa hubungan antara Budiman dan Andara tidak cocok sama sekali.


Selesai mendapatkan ultimatum Budiman hanya bisa pasrah. Namun hatinya masih mengharapkan Kanaya untuk menjadi istrinya. Ia sedang mencari cara agar bisa menikahi Kanaya tanpa harus bercerai dengan Adinda. Dengan cara itulah Budiman tidak akan kehilangan fasilitas yang didapatnya itu.


Selesai meeting dengan karyawannya, Adinda diberitahukan oleh Netty ada orang yang menghubunginya. Namun Netty tidak menyebutkan nama orang tersebut. Hingga akhirnya Dinda mengecek CCTV yang berada di lobby.


Alangkah terkejutnya dirinya itu. Bisa-bisanya Adinda melihat Budiman berada di lobby. Entah kenapa senyumnya yang mematikan itu hanya mengejeknya di dalam hati.


Melihat hal itu, Netty hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian Netty bertanya, “Memangnya ada apa sih? Kok tiba-tiba saja kamu memamerkan senyum mematikan seperti itu?”


“Ternyata yang di bawah itu adalah Budiman. Aku tahu Budiman ke sini hanya untuk memintaku agar tidak bertanggung jawab. Rasanya aku sangat malas sekali bertemu dengannya,” kesal Dinda sambil meraih pulpennya.


“Lagian juga kamu nikah sama orang seperti itu. Lebih baik kamu cari pria yang baik hati dan ingin berjuang bersamamu. Dia akan mencari cara untuk menyakitimu,” ucap Netty yang tidak main-main.


“Bagaimana bisa menyakitiku? Sedangkan dirinya saja sudah disakiti sendiri,” tanya Adinda yang bingung dengan ucapan Netty.


“Maksudnya bagaimana sih kok aku nggak tahu?” tanya Netty balik.


“Kalau mau nyakitin ya nyakitin aja. Dia tidak akan pernah melihat bagaimana wanita tangguh ini menyakiti dirinya secara perlahan,” jawab Adinda yang membuat Netty bergidik ngeri.


“Jangan-jangan kamu?” tanya Netty.