
"Beuh.... Bisa-bisanya lu kagak kenal gue," kesal Rizal. "Kita kan satu saudara."
Gilang tidak sengaja melihat wajah Rizal. Gilang langsung melepaskan dirinya dan berteriak hantu. Rizal pun hanya tersenyum sinis dan tidak tertawa. Padahal Rizal ingin tertawa terbahak-bahak. Namun dirinya menahan agar tidak tertawa.
"Ka... Ka... Kamu hantu ya?" tanya Gilang.
"Aku bukan hantu. Tapi aku adalah seorang polisi yang ingin menangkap kamu. Kejahatanmu di negara Amerika sudah banyak sekali. Jadinya aku turun tangan untuk mengejarmu hingga detik ini," jawab Rizal dengan tegas.
Gilang bergidik ngeri ketika mendengar kata polisi. Jujur Rizal baru membuka identitasnya sekarang. Sedangkan Kanaya yang masih berlutut juga terkejut. Pria yang dibunuhnya itu telah hidup kembali.
"Apa?" pekik Kanaya yang tidak sengaja melihat Rizal. "Ka... Ka.. kamu masih hidup."
"Iya aku memang masih hidup. Kamu ternyata bodoh ya. Demi Cinta kamu bisa melakukan hal segalanya. Bahkan membunuhku kamu pun rela. Tapi aku sudah memiliki trik agar tidak mati di tanganmu itu," ucap Rizal.
Kanaya semakin ketakutan dan tidak bisa berbicara apapun. Wajahnya memuja seiring berjalannya waktu bergulir. Bagaimana dengan Gilang? Gilang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia ingin mengelak. Akan tetapi Rizal sudah memiliki barang bukti yang cukup kuat.
Rizal langsung memberikan mengayunkan tangannya. Ia sengaja memberikan sebuah kode agar bawahannya datang. Memang cukup mudah menangkap Gilang. Mereka akhirnya menangkap Gilang dan membawanya ke suatu tempat.
Pagi ini semua kebusukan Gilang terbuka dengan jelas. Tadinya Gilang menyuruh Kanaya untuk menyingkirkan Adinda terlebih dahulu. Namun semuanya sudah punah.
Di sisi lain, Adinda dan Budiman sudah lega. Mereka berharap Gilang bersama Kanaya mempertanggung jawabkan semuanya. Tidak akan ada lagi orang-orang yang akan menghentikan langkah mereka.
"Bagaimana ini? Misiku sudah selesai membantu kamu untuk menyelesaikan semuanya," ucap Adinda.
"Lalu?" tanya Budiman yang tersenyum sambil menatap wajah Adinda.
"Aku sudah tidak bersegel lagi," jawab Adinda yang membuat Budiman tertawa.
"Apa masalahnya sekarang?" tanya Budiman.
"Kamu harus bertanggung jawab atas hidup aku ini," jawab Adinda.
"Iya apa? Aku sudah bertanggung jawab atas hidup kamu ini. Aku akan menjadi seorang suami untuk kamu," jelas Budiman sambil tersenyum manis.
"Aku lapar," celetuk Adinda.
Budiman mendekati Adinda dan memegang tangannya. Ia segera mengajak Adinda untuk pergi ke suatu tempat. Yang dimana tempat itu adalah tempat favorit Budiman ketika berkunjung ke Singapura.
"Mumpung masih pagi aku akan mengajak kamu ke suatu tempat," ajak Budiman yang sengaja menarik tangan Adinda.
"Kalian mau kemana?" tanya Andara yang baru saja datang kesini.
"Kalian tidak perlu tahu apa yang kami lakukan," seru Budiman yang meninggalkan mereka.
'Ada apa memangnya?" tanya Andara.
Orang-orang itu sengaja tidak menjawabnya sama sekali. Mereka tidak menggubris atas kehadiran Andara.
Tak lama datang beberapa orang yang memakai baju seragam kepolisian. Mereka terkejut dan memilih diam saja. Salah satu dari mereka meminta Andara dan Tio pergi dari sana.
"Dimohon kalian pergi dari sini!!" perintah salah satu petugas kepolisian.
Mereka akhirnya meninggalkan area tersebut. Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Sebelum pergi ke kamar masing-masing, Andara mendapatkan sebuah pesan dari Kartolo. Kartolo menyuruh Andara menemuinya sekarang juga di kamarnya.
"Sepertinya kita harus pergi ke kamar papa," ucap Andara sambil menatap wajah Tio.
"Baiklah. Kita akan kesana," ajak Tio.
Mereka melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar Kartolo. Jujur sampai saat ini mereka sangat penasaran sekali dengan kejadian tadi.
Sesampainya disana, Andara bersama Tio langsung masuk ke dalam. Mereka disambut atas kedatangan Kartolo. Mereka langsung duduk di sofa.
"Ada apa sih? Kok lorong sebelah kiri sangat ramai sekali?" tanya Andara yang sangat penasaran sekali.
"Gilang tertangkap oleh interpol Amerika Serikat," jelas Kartolo.
"Apa?" pekik Andara yang sangat terkejut sekali.
"Iya itu benar. Ternyata interpol Amerika sudah memburunya beberapa bulan yang lalu. Mengingat Gilang sudah sering membuat ulah di berbagai negara. Yang lebih parahnya lagi Gilang membuat masalah besar di Amerika. Dia melakukan penipuan beberapa pengusaha besar di sana. Mereka tidak terima dan meminta pihak interpol memburu Gilang," jelas Kartolo.
"Lalu bagaimana dengan Gilang yang bekerja sama dengan beberapa mafia disana?" tanya Tio.
"Kalau itu tanyakan saja pada Adinda. Karena aku sendiri mendapatkan informasi dari Adinda," jawab Kartolo.
"Apakah pernikahan Kak Budiman batal?" tanya Andara yang ketakutan.
"Ya nggaklah. Misi Adinda sudah selesai. Memangnya kamu mau kalau kakakmu menjadi duda keren? Apakah kamu nggak mau memiliki kakak ipar seperti Adinda?" tanya Kamila.
"Pengen. Bagiku Adinda adalah sahabat karib aku sendiri. Dia yang sangat tepat berada di sisi Kak Budiman. Jujur selama ini Aku mengharapkan mereka tidak pernah menyelesaikan pernikahan ini," jawab Andara.
"Tapi sekarang Budiman menjadi bucin sama Adinda. Aku sendiri sangat bingung melihat kebucinannya Budiman," celetuk Tio.
"Kamu benar," jelas Kartolo.
"Apakah mereka jadi pergi ke London?" tanya Andara.