
“Apalah mereka tinggal serumah?” tanya Budiman yang tidak sadar atas pertanyaan itu.
“Kata siapa mereka tinggal serumah?” tanya Adinda yang bingung dengan pernyataan dari Budiman.
“Kalian berdua ngapain?” tanya Andara yang juga ikutan bingung.
“Jujur kenapa aku bingung dengan ucapan kakakmu itu?” tanya Adinda sambil menatap wajah Budiman.
“Sepertinya Kak Budiman tidak mendapatkan jatah dari Kak Adinda. Makanya sangat aneh sekali,” jawab Andara yang membuat Adinda berdecak kesal.
"Sudah masuk ke dalam ruangan kamu sana. Banyak sekali pekerjaan yang sudah menunggumu di atas meja!” perintah Budiman sambil mengusir Andara dari hadapannya itu.
Andara hanya tertawa mengejek sambil menatap Budiman. Setelah itu Andara memutuskan untuk pergi dari hadapannya. Ia tertawa mengejek karena Budiman tidak mendapatkan jatah dari Adinda malam tadi. Karena ia tahu sendiri Kalau Adinda sedang mendapatkan tamu bulanan.
Untuk saat ini Budiman tidak kesal kepada Andara. Malah Budiman membiarkan saja Andara mengejeknya. Dengan cepat Budiman menarik tangan Adinda untuk mengajaknya masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Duduklah di situ. Tidak usah dipikirkan kata-kata Andara. Aku tahu kenapa Tio memilih untuk diam ketika pulang bersama Andara,” jelas Budiman yang menyuruh Adinda duduk di sofa panjangnya itu.
“Memangnya ada apa Kak?” tanya Adinda yang bokongnya di sofa panjang itu.
“Tio orangnya tidak bisa sabaran sama sekali. Maka dari itu, Rio menahan amarahnya karena tidak menyukai kemacetan yang sangat parah ketika pulang ke rumah. Kalau nggak dia memilih untuk singgah ke rumahmu itu sambil membuat kopi dan menunggu kemacetan itu hilang. Atau Tio tidak pernah pulang ke rumah sama sekali. Memutuskan untuk tinggal di rumahmu sementara waktu alias menginap,” jawab Budiman yang mengetahui sifat temannya itu.
“Pantas saja. Kalau Kak Tio itu orangnya sedikit pendiam ketimbang banyak bicara. Tapi kalau sudah kenal, Kak Tio itu orangnya sangat menyenangkan sekali,” puji Adinda.
“Jangan kamu memuji orang lain. Dia bukan untukmu. Aku adalah untukmu selamanya,” kesal Budiman yang tidak ingin Adinda memuji pria lain selain dirinya.
“Kamu ini sangat aneh sekali. Kamu itu sering banget cemburu. Padahal aku sendiri tidak melakukan apa-apa terhadap pria lain,” ucap Adinda.
“Jangan mulai lagi deh. Karena kamu tidak memberikan aku jatah malam tadi. Aku bisa-bisa mengamuk terhadap karyawanku,” jawab Budiman sambil menatap tajam ke arah Adinda.
“Kamu itu kebiasaan banget. Dari dulu sifatnya sensitif mu tidak pernah hilang sama sekali. Seharusnya aku yang memiliki sifat sensitif itu. Kok jadi kebalik ya?” tanya Adinda.
“Tuh kamu tahu. Sebenarnya aku adalah pria yang memiliki kadar tipe cemburu yang sangat besar sekali. Sangking cemburunya aku bisa-bisa menghancurkan orang itu dalam waktu sekejap. Kamu jangan sekali-sekali memuji orang lain selain diriku. Aku tidak akan menyakitimu. Tapi orang itulah yang akan menjadi korban dari aku,” jelas Budiman yang sengaja memberikan ultimatum kepada Adinda.
Ketimbang Adinda memperpanjang masalah ini. Adinda memilih diam dan meraih ponselnya itu. Sepertinya Budiman tidak tahu siapa Adinda sebenarnya. Adinda bukanlah Kanaya. Yang suka mengobrol atau memuji pria lain di hadapannya. Adinda juga tidak bisa membedakan pria tampan ataupun tidak tampan. Karena otaknya sudah dipenuhi banyak pekerjaan di kantornya itu. Hingga Adinda sendiri tidak terlalu mementingkan pria tampan di sekitarnya.
Adinda baru tahu kalau Budiman adalah tipe pencemburu yang berat. Mungkin saja Adinda terkekang oleh Budiman. Akan tetapi Adinda membiarkan Budiman melakukan hal itu. Sebab dirinya harus bisa menjaga norma-norma pernikahannya. Jangan sampai retak hanya karena dirinya memuji pria lain.
Beberapa saat kemudian Tio datang dengan membawa tab-nya. Ia berdiri tegak sambil memandang Budiman. Meskipun teman baik, Tio selalu menjaga sikap ketika berada di kantor.
“Jam sepuluh pagi rapat pemegang saham dilanjutkan. Acaranya adalah memutuskan kinerja anda. Siang nanti anda akan menyambut kedatangan investor dari London. Sorenya Anda harus pergi ke SM Company. Malamnya Anda free dan bisa membuat acara sendiri dengan Nyonya Adinda,” jelas Tio yang membuat Budiman menganggukkan kepalanya.
“Lebih baik kamu kirim ulang jadwalku itu ke emailku. Aku tidak mau terlewat sedikitpun. Seharian kamu stay di kantor ini dan memperhatikan Ada apa sebenarnya?” perintah Budiman.
“Baiklah Tuan Budiman saya mengerti,” balas Tio lalu meninggalkan mereka berdua.
“Ada-ada saja ini. Banyak sekali yang harus aku kerjakan pada hari ini. Lebih baik aku kabur saja ke London. Ketimbang mengurusi masalah kantor yang ruwet ini,” kesal Budiman.
“Kenapa kamu marah seperti itu?” tanya Adinda yang menatap Budiman merasa muak.