Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 25



“Kalau aku melihat dari perusahaan milik keluarga bagaimana?” tanya Andara.


“Kamu kenapa keluar dari perusahaan?” tanya Adinda yang mengerutkan keningnya. “Bukannya kamu sudah memiliki jabatan yang penting di perusahaan?”


“Aku sangat muak sekali dengan Abang,” jawab Andara. “Hampir tiap hari aku mendengar keluh kesah seluruh karyawan.”


“Kalau saranku lebih baik kamu bertahan saja. Lagian juga kamu sebentar lagi diberi kantor cabang di Surabaya. Kamu disini hanya untuk memperdalam ilmu dan mengenal seluk beluk perusahaan. Jika sudah waktunya kamu akan dilepas sama Papa Kartolo.”


“Aku tahu itu. Aku tidak sanggup mendengar Abang marah-marah yang enggak jelas sama sekali,” jelas Andara yang benar-benar frustasi jika harus pergi ke kantor.


“Kalau begitu kamu hari ini tidak ngantor?” tanya Netty yang meraih ponselnya.


“Gimana mau ngantor? Jika Abang masih berada di Indonesia?” tanya Andara yang membuat mata mereka membulat sempurna.


“Kamu kok aneh banget sih? Berarti abangmu akan pergi ke luar negeri?” tanya Adinda yang masih bingung dengan pernyataan sang adik iparnya itu.


“Aku berharap Abang tinggal di planet lain tahu! Biar enggak ada yang ngomel seperti itu,” kesal Andara sambil melipat kedua tangannya di dada.


Seketika mereka berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Andara yang kesal. Namun begitu Andara tetap saja membuat suasana menjadi cair seperti es. Memang Andara terkenal dari dulu kalau bicara tidak pernah serius. Kalaupun serius ujung-ujungnya tertawa.


“Lebih baik kamu ajak Kak Tio untuk mengajak jalan-jalan. Kasihan Kak Tio juga orangnya sedang stres menghadapi abangmu,” celetuk Adinda yang mulai mengompori keadaan.


“Kalian ini ada-ada saja. Masa aku harus mengajak Kak Tio berjalan-jalan?” tanya Andara yang tiba-tiba saja ayahnya memerah seperti kepiting rebus.


Melihat wajah Andara yang memerah, mereka hanya bisa tersenyum manis. Mereka sangat bahagia melihat Andara ceria kembali.


“Ayolah sarapan! Sebentar lagi mau ngantor,” ajak Adinda.


Di apartemen mewah, seorang pria yang selesai bergumul dengan kekasihnya hanya bisa mengulum senyum. Sebelum bangun, pria itu memandang wajah kekasihnya dan memegang wajah lembutnya.


“Terima kasih atas malam panjang tadi. Aku berharap kamu bisa mengandung bayiku. Kelak kalau bayiku sudah lahir Anak itu akan menjadi penghubung antara kamu dan papamu yang keras kepala,” bisik pria itu.


Wanita itu hanya bisa berdecih dalam hati. Ia tidak ingin memiliki anak dari sang kekasih. Ia juga tidak mau berkenalan dengan papanya.


“Jujur gue enggak mau punya anak dari lu. Lu harus ngerti sesuatu! Gue enggak mau berhubungan dengan lu sama keluarga besar. Terutama pada Andara. Sebentar lagi Andara akan mati di tangan gue,” ancam wanita itu dalam hati sambil memandang wajah sang kekasihnya.


“Kamu sudah bangun?” tanya Budiman yang ternyata adalah kakak kandung dari Andara.


“Sudahlah. Aku ingin masak sesuatu buat kamu,” ucap wanita itu.


“Masak apa Kanaya?” tanya Budiman yang membuat Kanaya tersenyum manis.


“Aku ingin memasak makanan favorit kamu,” jawab Kanaya.


“Ya sudah aku mau membersihkan tubuhku. Tubuhku rasanya lengket banget. Semalam kita bertarung habis-habisan,” ucap Budiman yang berdiri sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam toilet.


Saat Budiman masuk ke dalam, Kanaya hanya tersenyum tipis lalu mengejeknya. Kanaya tidak habis pikir dengan Budiman. Bisa-bisanya Budiman ingin memiliki anak? Sementara ia masih ingin berkhianat kepada Gilang. Ia sudah memperhitungkan apa yang terjadi kelak. Maka dari itu ia tidak mau memiliki anak dari Budiman sama sekali.


“Sebentar lagi adikmu akan mati di tanganku! Karena adikmu itu sudah bermain-main dengan aku dan juga Gilang. Jika aku membunuh Andara. Siapa yang akan tertuduh? Jujur saja aku enggak mau masuk ke sel jeruji. Ngeri bro,” ucapnya dalam hati sambil memikirkan rencana selanjutnya.


“Apakah aku harus menuduh Adinda sialan itu? Kalau aku menuduh Adinda... mau tidak mau aku harus berhubungan dengan pamannya itu yang bernama Herman. Jika sampai kasus ini dipegang olehnya, maka aku bisa saja masuk ke jeruji besi,” jelas Kanaya dalam hati yang benar-benar ketakutan jika mendengar namanya Herman Santoso.


Itulah rencana yang sangat licik sekali dari Kanaya. Entah ada dendam apa yang bersarang di dalam hatinya. Sehingga ia ingin menghabisi Andara.


Selang dua puluh menit, Budiman sudah rapi dan menuju ke dapur. Ia segera memeluk Kanaya sambil bertanya, “Kamu mau kemana siang ini?”


“Biasa... aku ingin mencari pekerjaan. Biar aku bisa mendapatkan uang jajan lebih,” jawab Kanaya yang berdusta.


“Lebih baik kamu nggak perlu kerja. Kerja itu sangat capek dan melelahkan sekali. Kamu harus memiliki kondisi kesehatan yang baik. Agar kita bisa memiliki seorang anak,” ucap Budiman yang memberikan saran untuk Kanaya.


“Ya... enggak gitu kali. Aku malah kepengen kerja. Masa aku harus diam di sini? Ogah ah,” sahut Kanaya.


“Bisa jadi. Semakin cepat kamu hamil... semakin cepat pula aku menceraikan Adinda. Setelah itu kita bisa menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia tanpa gangguan apapun,” jelas Budiman yang menceritakan rencananya.


Tiba-tiba saja Kanaya menganggukan kepalanya. Kenapa tidak terpikirkan olehnya untuk melakukan rencana tersebut. Ditambah lagi ia akan mendapatkan bonus besar dari seseorang jika berhasil menghancurkan keluarga Budiman.


“Ah... baiklah. Aku setuju. Tapi aku tidak mau diam di sini. Aku harus mencari pekerjaan. Bagaimana kalau aku bosen?” tanya Kanaya dengan suara manjanya.


“Benar juga sih? Tapi carilah pekerjaan di klinik. Bukannya kamu lulusan dokter spesialis anak?” tanya Budiman yang membuat Kanaya tersedak mendengar apa kata Budiman.


Uhuk!!!


Uhuk!!!


Uhuk!!!


Dengan terpaksa Budiman melepaskan Kanaya. Lalu Budiman cepat-cepat mengambilkan air minum buat Kanaya.


“Minumlah,” suruh Budiman.


Tangan Kanaya langsung mengambil gelas itu dan meminumnya. Ia tidak menyangka kalau dirinya mendapatkan ide sial dari Budiman. Ia tidak akan mencari pekerjaan sebagai dokter spesialis anak.


“kalau kamu tidak menyukai pekerjaan di klinik. Nanti aku akan menghubungi seseorang. Orang itu memiliki koneksi di rumah sakit besar di Kota Jakarta,” ucap Budiman yang membuat Kanaya melongo dan tidak bisa berbicara apapun.


“Rumah sakit itu sangat besar sekali. Tentunya rumah sakit itu sudah bertaraf internasional. Ketimbang kamu bekerja di klinik lebih baik bekerja di sana,” tambah Budiman yang memberikan informasi akurat tentang rumah sakit tersebut.


“Iya deh. Aku nurut kamu saja,” ucap Kanaya yang terpaksa berkata iya.


“Kamu masak apa?” tanya Budiman yang melihat masakan favoritnya sambil tersenyum manis.


“Itu sudah dilihat,” jawab Kanaya yang sengaja mengulas senyum terpaksa.


“Ah... kamu masih ingat ya... Padahal sudah lama kita tidak tinggal bersama,” ucap Budiman.


“Oh,” ucap Kanaya yang hanya mengeluarkan suara O saja. “Bolehkah aku meminta sesuatu sama kamu?”


“Kamu meminta apa?’ tanya Budiman yang melemparkan senyumnya yang manis.