
"Seharusnya kamu tahu siapa yang menyuruh Kanaya sesungguhnya. Kamu itu dijadikan boneka sama mereka. Kalau dipikir-pikir mereka itu sengaja menghancurkan keluargamu melalui kamu sendiri. Apakah kamu mau terus-terusan seperti itu? Dibodohi sama Gilang dan juga Kanaya. Aku sih nggak merasa kasihan sama kamu. Aku kasihan kepada orang tuamu. Mereka telah merawatmu hingga sebesar ini. Tapi kamu membalasnya dengan cara menghancurkan mereka. Aku nggak habis pikir sama kamu. Kenapa semuanya ini bisa terjadi? Kamu tampan dan berpendidikan. Kamunya yang mau menjadi bonekanya Gilang," jelas Adinda yang menatap wajah Budiman dengan sendu.
"Thanks. Kamu sudah menyadarkanku dari mereka. Tapi aku benar-benar malu sama kamu. Setiap kamu datang ke rumahku. Aku selalu mencibirmu dan menghinamu habis-habisan. Kamunya tetap sabar menghadapiku," ucap Budiman.
"Aku memang begini orangnya. Aku nggak pernah ambil pusing dengan perkataanmu yang kasar itu. Aku memakluminya karena kamu terpengaruh oleh Kanaya."
"Aku sekarang bingung mau ngapain? Jika aku kembali ke Kanaya, hidupku dan keluargaku hancur. Jika aku kembali kepadamu. Apakah kamu mau hidup bersamaku hingga akhir nanti?"
"Semuanya itu adalah keputusanmu. Aku hanya menerima segala keputusanmu itu. Pernikahan ini udah sah dimata agama maupun hukum. Tapi kamu harus ingat tentang pasal-pasal pernikahan."
"Sudah berapa minggu kita menikah?"
"Dua minggu. Lalu kamu mau apa?"
"Bisakah aku meminta kepada kamu?"
"Kamu mau minta apa?"
"Kapan kamu akan kuliah di Amerika?"
"Beberapa bulan lagi aku akan berangkat ke sana."
"Bolehkah aku ikut denganmu?"
"Kamu itu sangat aneh sekali. Aku sudah bilang dari awal. Terserah kamu mau ngapain pernikahan ini. Kamu mau ceraikan aku ya silahkan. Aku terima."
"Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun."
"Kenapa?"
"Karena aku sangat membutuhkanmu."
"Butuh... terus kamu sakiti?"
"Ya nggak lah."
"Kenapa kamu tidak menyakiti aku?"
"Karena Kamu adalah istriku. Seorang suami akan sukses karena doa dari seorang istri."
"Terserahlah apa katamu. Aku hanya bisa menyadarkanmu dari mereka."
"Maka bawalah aku pergi ke Amerika."
"Kamu ke sana kerja apa?"
"Aku memiliki banyak relasi di sana. Atau enggak aku membangun perusahaan baru lagi di New York."
"Ngapain kamu membangun perusahaan lagi? Butuh dana yang banyak loh kalau kamu bangun perusahaan itu."
"Aku mengerti itu. Sekalian kita membuat kerjakan orang-orang pengangguran di sana."
"Tujuanku di sana hanyalah kuliah. Setelah selesai aku kembali ke Jakarta untuk melanjutkan karir."
"Aku tahu itu. Apakah aku harus menghamilimu? Biar tidak kabur dari sisiku."
"Kamu nggak boleh kesel sama aku seperti itu. Ingatlah pasal-pasal pernikahan Bagaimana seorang istri bisa membuat bahagia sang suami," ucap Budiman yang meledek Adinda.
"Dasar kampret lu. Kalau lu sudah sadar balik lagi ke sini. Lu nggak sadar tetap aja sama kuntilanak itu," kesal Adinda yang menutup pintu kulkas dan pergi meninggalkan Budiman di dapur.
Budiman hanya tersenyum sambil merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini?
Beberapa saat kemudian bel berbunyi. Adinda yang mendengarnya segera menuju ke depan. Lalu Adinda membuka pintu dan melihat Kanaya.
Entah ada setan apa otak Adinda ingin mengerjainya. Akan tetapi ia ingin menahannya terlebih dahulu. Sementara itu Budiman keluar dan melihat Kanaya. Dengan wajah penuh dengan amarah, Budiman ingin menghajar Kanaya saat itu juga. Dengan cepat Adinda mendekati Budiman dan menatapnya.
"Dia datang tuh. Sambut napa dengan wajah yang ceria. Bukan wajah yang penuh dengan amarah seperti itu!" kesal Adinda.
Hanya beberapa detik, tangan kekar Budiman langsung meraih tubuh mungil Adinda. Lalu Budiman memeluk Adinda dengan sangat erat. Tanpa meminta izin Budiman langsung mencium Adinda di depan Kanaya.
Dari tadi Kanaya memang diam. Ia tidak berbicara apapun terhadap Adinda. Jujur saja Kanaya itu sangat takut sekali kepada Adinda. Saking takutnya ia tidak mau bertegur sapa sama Adinda.
Bagaimana dengan tanggapan Adinda? Adinda orangnya biasa saja. Ia tidak memperdulikan kedatangan Kanaya. Bahkan ia sendiri ingin melihat bagaimana ekspresi Budiman kepada Kanaya yang telah membohonginya?
Wajah Budiman menjadi sangat muram. Hati Budiman tersayat oleh pisau yang sangat tajam sekali. Baru kali ini dirinya dikhianati oleh seseorang. Kata Budiman itu sangat sakit sekali. Dirinya tidak menyangka kalau kekasih pujaannya itu telah membuatnya hancur seperti ini.
Semakin dalam ciuman itu semakin membara. Entah kenapa Budiman langsung merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya itu. Budiman akhirnya mengajak Adinda masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau ngapain?" tanya Adinda.
"Kamu harus tanggung jawab terhadap benda pusakaku ini," jawab Budiman sambil menunjuk ke arah bawah.
Seketika Adinda bengong. Dirinya memilih kabur lalu Budiman memanggilnya.
"Kalau kamu kabur berarti dosa loh ya," ucap Budiman dengan nada tinggi.
Kanaya yang mendengar itu tidak terima. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Budiman tidak berdaya. Dengan cepat Kanaya mendekatinya dan memeluknya.
Adinda yang melihatnya segera mendekat ke Budiman. Dengan mata tajamnya Adinda berkata, "Lepasin dia! Dia bukan milikmu."
"Ah kamu meremehkan aku ya?" tanya Kanaya.
"Aku nggak meremehkanmu. Aku tahu kamu sangat pandai bermain ranjang bersama Gilang. Bahkan kalian sudah memiliki anak kembar. Yang di mana Kamu sengaja menyembunyikannya di London," jawab Adinda langsung pada intinya.
Meski tidak berdaya, Budiman langsung melepaskan Kanaya. Budiman tersenyum mengejek pada Kanaya sambil berkata, "Ternyata kamu adalah seorang penipu. Aku sudah melihat seluruh identitasmu. Kanaya bukan nama sebenarnya. Tapi Kanaya memang sengaja ditujukan untuk Budiman. Kamu memang pintar sekaligus licik."
Kanaya menatap wajah Budiman sambil berteriak, "Sayang... Ternyata kamu sedang dipengaruhi oleh Adinda. Kamu tahu siapa Adinda sebenarnya? Dia adalah seorang wanita yang penuh dengan kelicikan dan tipu muslihat. Kamu mau bersama dengannya?"
Adinda yang tidak terima mendekati Kanaya. Ia mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Kanaya. Adinda kali ini benar-benar sangat marah kepada Kanaya.
Plakkkkkk!
"Kamu telah membunuh kekasihku. Kamu telah menghancurkan suamiku. dan kamu ingin menghancurkan Rumah tanggaku," ucap Adinda dengan nada dingin namun mematikan.
"Ck, kamu berharap menikah dengan Budiman? Jangan harap kamu menikahi Budiman. Budiman dari dulu adalah kekasihku," ejek Kanaya.
"Kekasih! Kekasih dari mana? Kamu mencoba membohongi Budiman. Aku tahu kamu bersama Gilang telah merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarga Budiman. Kamu mencoba untuk mengelak ya?" tegas Adinda.
"Yang dikatakan Adinda itu benar. Aku sudah membaca seluruh informasi kamu. Tinggal satu informasi lagi yaitu pembuktian pernikahanmu dengan Gilang. Jika itu terjadi, Aku tidak akan mengampunimu sama sekali. Ucapkan itu Kanaya!" tegas Budiman.