
Setelah mengetahui Kanaya berselingkuh, mental Budiman langsung terguncang. Ia tidak menyangka kalau sang kekasih melakukan hal yang hina.
Di saat Dinda sedang menyetir dengan santai, Budi berteriak untuk berhenti di sini, "Berhenti!"
Dinda pun menuruti keinginan Budi. Akhirnya Dinda menghentikan mobilnya dan melihat di sekelilingnya.
"Lu bodoh ya? Tiba-tiba saja lu minta berhenti di tengah jembatan seperti ini? Lu mau bunuh diri atau apa?" tanya Dinda sambil menatap wajah Budi.
Budi tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dinda. Pikirannya sudah kalut dan ingin bunuh diri. Namun Dinda tahu itu. Dinda menancapkan gasnya menuju ke sebuah hotel. Ia tidak ingin membawa masalah itu pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan menuju ke hotel, Budi memilih untuk diam. Budi tidak berselera untuk ngomong maupun makan. Hingga akhirnya Dinda sangat kesal tentang perlakuan Budi.
"Inikah yang dinamakan pria yang sedang patah hati? Kok lebih parah banget dari seorang perempuan jika lagi patah hati," keluh Dinda dalam hati.
Yang dikatakan Dinda benar. Seberapa besarkah cinta Budi kepada Kanaya? Gadis berparas cantik itu ingin menghajar Budi saat ini juga. Rasanya tidak etis jika pria sedang patah hati hingga begini.
Sesampainya di hotel Dinda menarik Budi untuk memesan kamar. Lalu setelah itu Dinda mengajaknya ke kamar. Sedangkan Budi, Budi masih diam dan tidak bicara sama sekali. Dinda pun membiarkannya diam.
Ketika berada di kamar hotel Dinda melihat Budi yang masih kosong. Ia menghempaskan bokongnya dan meraih ponselnya. Untung saja dirinya membawa ponsel.
"Yang namanya patah hati ya sudah patah hati. Memang susah obatnya patah hati itu. Jangan menganggap Kanaya itu sebagai gadis suci. Kamu belum pernah melihatnya sebagai wanita buruk. Aku bersama Andara sudah sering memergokinya. Andara sudah memperingatkanmu berkali-kali. Kalau Kanaya itu ingin menguasai kamu. Dibalik ana ya ada musuh bebuyutanmu bernama Gilang. Tapi kamu nggak pernah tahu soal itu. Setiap Andara memperingatkanmu, kamunya hanya tertawa sinis," ucap Dinda yang sengaja memberitahukan keburukan Kanaya.
Di dalam kamar hotel ini, Dinda sengaja membuka topeng Kanaya. Semula Budi yang diam ternyata mendengarkan kata Dinda. Budi menatap Dinda sambil berkata, "Kamu benar. Aku memang salah selama ini. Nggak pernah memberitahukan hubungan ini kepada mama papa."
"Meskipun kamu tidak memberitahukan siapa Kanaya sebenarnya. Mereka sudah tahu duluan. Mereka sudah memiliki jejak rekam keburukan Kanaya. Memangnya kamu mau jadi seorang pria dibodohi sama orang itu? Hey man... Sadarlah atas yang dilakukan oleh Kanaya. Semakin kamu mengejarnya. Semakin kamu terperosok dalam rencana gila yang sudah dibuat oleh Gilang. Aku mengetahui ini semuanya dari Andara," jelas Dinda.
"Jujur aku tidak pernah mengetahui soal itu. Aku melihat Kanaya bagaikan bidadari tanpa sayap," ucap Budi yang mulai frustasi dengan Kanaya.
"Cih... Kamu bilang dia seorang bidadari? Jangan pernah bermimpi kamu menyebutnya seorang bidadari. Yang lebih pantasnya aku menyebutnya seorang kuntilanak berbaju merah. Apakah kamu paham soal itu?" tanya Dinda dengan tegas.
"Aku pusing mikirin soal ini. Aku sudah terlanjur akan menikahi Kanaya," jawab Budi yang membuat Dinda tertawa terbahak-bahak.
"Kamu jangan pernah bermimpi menikahi Kanaya. Carilah seorang gadis yang menurut kamu bisa merawat dan baik. Kenapa juga kamu bermimpi menikahi wanita yang sudah bersuami? Apakah kamu ingin menjadi pebinor? Sepertinya kalau kamu menjadi pebinor itu sangat lucu sekali. Tapi bagiku itu tidak baik," tambah Dinda yang melipat kedua tangannya di dada.
"Lupakanlah saja dia. Jika kamu bertemu dengannya. Kamu berpura-pura saja tidak mengenalnya. Lalu soal pernikahan ini. Itu terserah kamu. Jika kamu meminta bubar malam ini. Aku akan senang sekali. Karena aku akan melanjutkan s3-ku di Oxford," jawab Dinda dengan serius.
"Kamu gila ya Dinda! Kamu membiarkan aku sendirian menjalani rumah tangga ini," kesal Budi.
"Aku belum jadi orang gila. Aku masih waras menjalani hidup. Lagian juga aku ingin menimba ilmu setinggi langit. Perusahaanku akan kuserahkan pada kak Faris untuk sementara," jelas Dinda.
"Oh... ****... kamu sekarang harus bertanggung jawab atas hidupku. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Sudah cukup ketika hatiku sakit karena Kanaya. Masa kamu harus pergi meninggalkan aku," ujar Budi yang tidak mau Dinda pergi.
"Sekarang apa masalahnya? Kamu kan yang menolak pernikahan ini sejak awal? Kenapa kamu sekarang memintaku untuk stay bersamamu? Aku tidak ingin membangun rumah tangga dengan orang yang tidak waras sepertimu. Aku ingin membangun rumah tangga bersama pria yang membuatku nyaman. Tapi kamu, kamu mengingat Kanaya. Nama wanita itu akan terpatri dalam hidupmu. Aku tahu itu. Kamu tidak akan bisa menghapusnya. Karena kamu sudah mengklaim sebagai pasangan hidupmu hingga akhir hayat," jelas Dinda yang mengetahui sifat Budi dari Andara.
"Aku akan menghapusnya. Tapi dengan syarat kamu tidak boleh pergi dari sisiku. Aku butuh kamu sebagai teman hidup," pinta Budi yang memelas.
"Aku nggak peduli soal itu. Aku ingin lepas dari pernikahan ini. Itu terserah kamu. Aku tidak akan pernah mau hidup bersama kulkas berjalan sepertimu," kata Dinda dengan serius.
Budi kembali frustasi dengan perkataan Dinda. Ada benarnya Dinda mengatakan seperti itu. Karena Budi sendiri masih menyimpan nama Kanaya di dalam hati. Namun dirinya akan mengubah nama Kanaya menjadi Adinda. Apakah Budiman mampu bisa mengubah nama Kanaya menjadi nama Adinda? Entahlah. Biarkanlah waktu yang menjawabnya.
Mereka memilih untuk diam sejenak. Mereka memikirkan nasib ke depannya bagaimana. Dinda tidak mempermasalahkan pernikahan ini. Tapi apakah Dinda mau jika Budi mengingat nama Kanaya? Yang jelas wanita manapun setelah menikah akan marah. Jika sang suami mengingat nama orang lain. Apalagi yang lebih parahnya adalah mantan kekasih. Bisa-bisa rumah tangga mereka hancur berantakan.
Sementara Kanaya sangat menyesali perbuatannya. Ia melakukan kesalahan yang sangat fatal. Bagaimana bisa Budi datang ke sini? Sedangkan dirinya tadi berpamitan tidur dengan cepat. Di saat pria itu menjamanya, Kanaya sudah tidak berselera lagi. Ia ingin pergi dari kamar hotel. Namun dirinya ditahan oleh pria itu.
Ternyata pria yang satu kamar dengannya bukan orang sembarangan. Orang itu memiliki jabatan penting di perusahaan terkemuka di negara ini. Jika sampai skandalnya bocor, kemungkinan besar orang itu karirnya langsung tamat. Apalagi sang pria memiliki seorang istri dan anak. Maka hancurlah sudah nama pria itu.
Balik lagi ke Budi sama Dinda. Kedua insan itu masih diam. Mereka tidak saling melihat satu sama lain. Dinda lebih asik bersama ponselnya itu. Banyak hal yang harus dikerjakan malam ini.
"Adinda," panggil Budi.
"Apa?" tanya Dinda yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Apakah kamu sibuk? Aku ingin ngomong sama kamu," tanya Budi dengan serius.