Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 158



Budiman langsung menceritakan kisah hidupnya ketika menikah dengan Adinda. Andra sudah menduga kalau Budiman sadar karena Adinda. Tapi Andra bersyukur, Adinda bisa membawa Budiman menjadi pria yang lebih baik lagi. Melihat wajah Budiman, Andra menebak kalau Budiman memiliki sifat sabar dan juga santun. Jujur Andra memuji Adinda dalam hati. Sebab Adinda adalah wanita yang sangat pemberani dan berhasil membuat seseorang menjadi lebih berguna.


“Baguslah kalau kamu sadar dari kesalahanmu itu. Kalau kamu terus-terusan sama dia. Kamu akan hidup bersama dia dalam rumah tangga yang panas. Kamu tidak mengetahui, wanita ular itu sering menikam kamu dari belakang. Aku sudah mengetahuinya sifat wanita itu sebelum kamu mengenalnya lebih dalam,” ucap Andra dengan serius.


“Tuhan masih menyayangi Kak Budiman. Aku sendiri saja geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita ular itu. Banyak sekali tingkahnya hingga membuat semua orang ilfil Jika bertemu dengannya. Kalau bertemu di rumah, dia ingin mengajakku berantem terus-terusan. Bahkan kalau aku posting tentang foto-fotoku ketika liburan. Dia sering banget nyolot ketika komen. Untung saja aku memakai nama lain. Penggemarku tidak ada yang tahu soal komenan orang tersebut. Atau juga aku menghapusnya. Bukan karena aku terkena mental hanya komenan menyakitkan seperti itu. Kalau sampai penggemar aku tahu. Wanita itu pasti diserang habis-habisan. Jangan sampai mereka membuka kesalahan fatalnya itu,” ujar Adinda.


“Seharusnya, kamu tidak perlu susah-susah lagi untuk membuka kedoknya. Biarkan saja mereka yang membuka kedoknya beramai-ramai,” jelas Andra.


“Tidak semudah itu bosku. Kalau hanya satu kesalahan saja itu tidak akan baik buat kami semuanya. Aku sengaja mengumpulkannya dan bekerja sama dengan Kak Irwan. Yang di mana Kak Irwan sendiri sudah mengincar wanita itu. Dalam artian Wanita itu sudah terkunci. Namanya juga tidak asing dalam pihak aparat terkait. Hanya saja aku menyuruhnya untuk tidak menangkapnya terlebih dahulu. Kakak tahu kan apa maksudku?” tanya Adinda.


“Sungguh sangat cerdik otakmu itu. Aku mengagumi kecerdasanmu itu. Aku tunggu kamu bermain-main dengan orang-orang seperti itu,” jawab Andra sambil memuji Adinda. “Lalu bagaimana dengan Budiman? Aku tahu Budiman nyawanya juga terancam.”


“Selama Kak Budiman berada di tanganku. Mereka tidak akan bisa menyentuhnya. Cepat atau lambat aku akan menghubungi Yuki. Dia harus pulang ke Indonesia dan membuat taktik untuk menyerang mereka semuanya dengan cara elegan. Bisa jadi aku menganggapnya sebagai asisten pribadiku untuk beberapa bulan ke depan sebelum berangkat ke London,” jawab Adinda.


“Sungguh luar biasa ide kamu itu. Sama-sama belajar jebak-menjebak satu dengan lainnya. Aku tunggu kamu melakukannya hingga tuntas. Jika perlu Kamu memanggilku. Dengan senang hati aku akan membantumu,” ujar Andra yang membuat Adinda tersenyum.


Budiman pun hanya bisa menghela nafasnya. Wanita selama ini yang direndahkan ternyata memiliki ide yang cukup baik. Kecerdasannya membuat dirinya menjadi minder. Akan tetapi Budiman mengakui kalau sang istri memang benar-benar hebat.


Beberapa saat kemudian datanglah Husein, Ali dan Malik bersama Herman. Mereka di sana sedang membicarakan tentang apa yang sedang terjadi untuk saat ini. Jika ada masalah pelik seperti ini. Mereka selalu mengadakan pertemuan. Tanpa harus menunggu waktu yang lama. Mereka juga memikirkan nasib perusahaan SM Company. Ditambah lagi mereka juga membicarakan perusahaan Budiman. Sebab mereka tahu kalau kedua perusahaan itu memang sedang dalam bahaya besar.


Malam itu disambung dengan makan malam yang dibuat oleh ibu Lidya. Yang di mana Ibu Lidya itu adalah istri dari Husein dan juga ibu kandung Andra. Ibu Lidya sangat senang sekali ketika Adinda datang. Beliau sering sekali menanyakan keberadaan Adinda. Akan tetapi Adinda selalu saja sibuk dengan pekerjaannya itu. Untung ada Faris yang sudah menghandle nya. Sebab kedua Kakak adik itu bersama Herman sangat kompak sekali mengurusi perusahaan.


“Kamu kok jarang banget ke sini Din,” sambut Ibu Lidya dengan penuh hangat.


“Perusahaan sedang ramai Bu. Aku nggak bisa ke mana-mana dan meninggalkan perusahaan itu sendiri. Berhubung Kak Faris bersama Paman Herman sudah datang. Maka aku bisa mengunjungi Ibu Lidya dengan rutin. Kok ibu jarang sekali datang ke rumah ya?” tanya Adinda balik.


“Nanti deh kalau ibu siap kapan pun. Adinda akan menjemput ibu dan berkumpul bersama-sama,” ucap Adinda yang menawarkan bantuan kepada Ibu Lidya.


“Ya kalau Ibu nggak sibuk. Soalnya Ibu takut kalau ada pesanan kue secara mendadak. Ibu tidak bisa memberikan kepada Mbak Irma ataupun Mbak Vira. Bukannya ibu takut jika menyerahkan kue-kue itu kepada mereka. Banyak sekali orang yang memesan kue Ibu protes karena rasanya tidak sama. Padahal resepnya juga sama. Mereka juga bekerja dari hatinya masing-masing,” ucap Ibu Lidya.


“Mungkin saja mereka sudah cocok dengan kue buatan ibu. Jadinya mereka meminta membuat kue itu dari tangan ibu. Sebab tangan Ibu mengandung magnet untuk orang-orang yang memesan kue itu. Hingga akhirnya mereka ketagihan dan ingin memesannya berkali-kali,” puji Adinda.


Tak sengaja Ibu Lidya menatap wajah Budiman. Ia sangat terkejut dan memandang wajah Adinda berkali-kali. Tiba-tiba saja Ibu Lidya teringat tentang Andara. Lalu ibu Lidya bertanya, “Bukankah suami kamu itu adalah kakaknya Andhara ya?”


“Iya itu benar Bu. Saat ini Andara berada di rumah. Aku tidak mengajaknya ke sini. Karena aku ke sini selesai bertemu dengan kliennya Kak Budiman sendiri. Nanti kalau tidak ada pekerjaan, aku akan mengajak Andara datang ke sini dan mencicipi kue Ibu semuanya,” jawab Adinda yang membuat Budiman terkejut.


“Apakah Andara sering ke sini ya?” tanya Budiman.


“Andara sering ke sini ketika pulang sekolah. Kami juga sering membantu ibu Lidya membuat kue. Jadinya Andara sama ibu Lidya sudah saling kenal satu sama lain. Hanya kamu saja yang tidak pernah ke sini,” jawab Adinda secara terang-terangan.


“Budiman sering ke sini kok. Tapi jarang sekali berinteraksi dan memilih untuk diam. Ibu sangka Budiman sedang sakit gigi. Namun nyatanya tidak sama sekali. Budiman memang orangnya sangat pendiam sekali,” jelas Ibu Lidya yang mengetahui sifat Budiman.


“Apakah itu benar Bu? Kalau kayak gini nggak bisa dibiarkan. Masa bertamu ke rumah orang hanya diam saja. Ini sangat aneh sekali menurut aku,” ledek Adinda.


“Memang begitu sifatnya Budiman Din. Kamu tahu kan kalau pulang sekolah kami selalu mampir ke sini. Di belakang rumah ini masih banyak pohon-pohonan yang ada buah-buahannya. Tapi berhubung Budiman pendiam. Ingin rasanya aku mengendapnya ke atas langit agar tidak balik lagi,” ledek Herman yang membuat Budiman hanya bisa menghela nafasnya.


“Maafkan aku Bu. Memang begini sifatku sedari dulu,” ucap Budiman yang meminta maaf kepada Ibu Lidya.


“Apakah kamu memiliki sifat introvert?” tanya ibu Lidya.