Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 126



Sebuah tangan kekar mendarat di pipi Netty cukup kencang. Ia tidak menyangka kalau sang kekasih ternyata mengkhianatinya. Herman sang pemilik tangan kekar itu langsung ditahan oleh Budiman. Budiman tidak ingin kalau Herman masuk ke dalam penjara demi perempuan gila ini.


"Makanya Kanaya sampai pergi meninggalkan kamu.Rasa permainan kamu sangat hambar sekali," ejek Netty sambil memandang sinis Adinda.


Plakkkkkkkkkk!


Adinda tidak terima apa yang dikatakan oleh Netty. Orang yang selama ini diberikan kehidupan tulus malah mengkhianati dan mengumbar masalah ranjang Budiman. Ia tidak habis pikir, kenapa Netty bisa berubah menjadi perempuan tidak baik di matanya.


"Aku kira polos dan baik selama ini. Ternyata selama ini kamu orang yang enggak punya adab sama orang lain. Aku bisa menuntut kamu dalam pasal penipuan!" bentak Adinda.


"Oh... aku tidak perduli akan hal itu.Aku sendiri akan terbang ke London dan akan menghancurkan kalian," ejek netty yang langsung pergi meninggalkan mereka.


Dengan cepat tangan Adinda mengambil vas bunga yang berada di meja. Adinda langsung melemparkannya ke arah Netty. Vas bunga itu melayang tanpa berdosa dan menghampiri kepala Netty hingga...


Duakkkk!


Vas bunga itu akhirnya tepat mengenai kepala Netty. Adinda sendiri sudah tidak memperdulikan kalau dirinya akan berurusan dengan hukum. Karena sakit hatinya akan mengalahkan segalanya.


Netty langsung merasakan kepalanya sakit dan pingsan. Ia tidak sadarkan dirinya lalu dibawa ke rumah sakit sama sopir milik keluarga Adinda. Sedangkan Adinda membuang wajahnya di depan Budiman.Ia tidak terima kalau Budiman bekas pakai dari Netty.


Marah!


Adinda sangat marah sekali sama Budiman. Ia masuk ke dalam ke kamar dan membanting pintu dengan kencang. Amarahnya memuncak dan tidak dapat dikendalikan.


Budiman sendiri sangat bersalah sekali kepada Herman. Ia sendiri tidak tahu kalau dirinya juga terkena jebakan oleh Kanaya. Ia mendekati Herman lalu menceritakan sesungguhnya apa yang telah terjadi selama ini.


"Masalahnya ini semakin rumit saja. Aku tidak mengerti situasi yang aku hadapi sekarang. Dia ternyata bisa mengubah wajahnya seperti Kanaya. Ternyata dia sangat licik sekali," jelas Budiman.


Apa yang dilakukan oleh Herman? Herman justru merentangkan kedua tangannya dan memilih memeluk Budiman, Ia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Mereka sama-sama terkena jebakan Netty dan juga Kanaya.


"Gue enggak akan marah sama lu. Gue tahu masalah lu dari awal hingga detik ini. Lu beruntung mendapatkan keponakanku yang bernama Adinda. Gara-gara dia lu sekarang berubah menjadi sangat baik sekali," jelas Herman yang melepaskan sahabatnya itu.


"Masalahnya sekarang, lu enggak marah sama gue?" tanya Budiman.


"Gue enggak akan marah sama lu. Gue juga enggak berhak menghakimi seseorang. Gue sekarang paham memiliki teman kaya lu," jawab Herman.


"Kita sama-sama kena tipu. Begitu juga dengan Adinda. Kenapa kisah ini sama?Sama-sama kena tipu?" tanya Budiman.


"Kita sama-sama gilanya. Yang dimana dikerjain sama tiga orang sekaligus," jawab Herman. "Apakah masalah ranjang lu nggak enak?"


"Kata siapa?" tanya Herman. "Katanya hambar?"


"Lu mau tahu saja. Ini rahasia dapur Budiman.Nggak usah diumbar. Hanya Adinda yang tahu saja," jawab Budiman yang sengaja meninggalkan Herman lalu masuk ke dalam kamar untuk merayu Adinda.


Budiman melihat Adinda yang sedang melihat luar. Ia tidak berani mendekati Adinda karena takut marah. Akhirnya ia memutuskan diam di jalur yang aman. Ia berdiri di pojokan ruangan seperti anak kecil yang bersalah.


"Din," panggil Budiman.


"Apa?" sahut Adinda.


"Kamu marah?" tanya Budiman yang menundukkan wajahnya sambil terdiam.


"Aku enggak marah sama kamu. Jika dipikir-pikir kamu enggak salah," jawab Adinda yang sudah meredakan amarahnya.


"Hmmmp... sepertinya kamu memiliki jiwa tenang," celetuk Budiman.


"Jiwa yang tenang seperti apa?" tanya Adinda. "Kita-kita sama kena prank sama netty. Yang aku kira dia baik. Ternyata dia orang bermuka dua. Terus apakah aku harus marah begitu?"


"Aku sangka kamu marah," jawab Budiman.


"Aku tidak akan marah sama sekali sama kamu. Aku tidak akan membiarkan harga dirimu diinjak-injak oleh mereka," ucap Adinda yang mendekati Budiman langsung mendekati Adinda sambil tersenyum manis. "Bolehkah aku memelukmu?"


"Tentu boleh," jawab Budiman yang merentangkan kedua tangannya.


Mereka akhirnya berpelukan dan melupakan masa lalunya. Di kasus ini Adinda mendapatkan pelajaran.Yang dimana ia tidak bisa percaya sama seseorang. Niat ingin menolong malah terkena masalah. Sudah jelas siapa itu Betty itu sebenarnya. Dan wanita yang mirip Kanaya adalah sahabatnya sendiri yaitu Netty. Ya... disini misteri seorang perempuan yang mirip Kanaya ternyata terbuka jelas Netty mengakui semuanya.


"Terima kasih kamu telah memberikan aku kepercayaan lebih," ucap Budiman sambil berbisik ke telinga Adinda.


"bagaimana dengan soal ranjang?" tanya Budiman.


"Yang dikatakan oleh Netty itu tidak benar. Apakah aku harus mengatakan sebenarnya ke kamu?" tanya Adinda balik.


"Katakanlah sejujurnya. Aku tidak ingin kamu berubah mendadak hanya demi ranjang,' jawab Budiman.


"Memangnya masalah itu sangat penting ya bagi kehidupan rumah tangga?" tanya Adinda yang tidak paham dengan masalah ranjang.


"Bukannya itu penting buat pasangan setelah menikah?" tanya Budiman yang ingin tahu tentang masalah ranjang.


"Ini definisi menikah menurut aku. Nggak semuanya menikah itu dikaitkan dengan masalah ranjang. Menikah itu menyatukan perasaan wanita dan juga pria dalam satu ikatan suci. Selain itu juga menikah itu membangun masa depan bersama pasangan serta memperbanyak keturunan. Kita memiliki titel suami istri. Yang dimana titel itu bisa berubah menjadi sahabat bisa berbagi keluh kesah di kantor ataupun di rumah. Jadi jangan berpikiran kalau nikah itu hanya masalah ranjang saja. Tuh lihat papa dan mama. Apakah mereka sering membicarakan masalah ranjang? Yang pasti ujung-ujungnya dibahas bagaimana dengan nasib anak kita kelak," jelas Adinda yang membuat Budiman semakin paham definisi nikah sebenarnya.


"Jadi bagaimana masalah ranjang?" tanya Budiman yang ingin meminta pendapat tentang masalah ranjang.


"Kamu itu sangat lucu sekali. Ujung-ujungnya kamu tanya itu lagi," kesal Adinda. "Kalau masalah ranjang apakah aku harus cerita?"


"Ya.. kamu harus cerita tentang itu ke aku. Biar aku yang akan mencari alternatif lain dan belajar banyak gaya agar kamu tidak bosan," jawab Budiman yang ingin tahu kelebihannya di atas ranjang menurut sudut pandang Adinda.


"Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Netty itu bohong. Aku yang merasakan tentang enaknya merasakan ranjang bersamamu. Apakah aku harus cerita kepada mereka? Malu-maluin saja," jawab Adinda yang mempertahankan kehormatan Budiman.


"Kamu kalau ditanya yang benar saja," jelas Budiman.


"Kamu mau tahu?" tanya Adinda yang mendekati Budiman sambil membisiki ke telinga sang suami.


Adinda bercerita kalau Budiman sangat hebat sekali di atas ranjang. Ia sangat detail sekali menjawabnya. Bahkan sent*han-sent*han yang diberikan Budiman sangatlah enak.


Sebagai pria Budiman sangat bersyukur sekali bisa membuat Adinda melayang. Ia tidak akan berencana mencari yang lain, Ia akan mendampingi Adinda hingga akhir hayatnya.


"Kakak kok baunya lain?' tanya Adinda yang merasakan aroma tubuhnya berubah.


"Memangnya ada apa?" tanya Budiman lagi.


"Kamu habis berpelukan dengan seorang pria?" tanya Adinda balik.


"Memang aku habis berpelukan dengan seorang pria," jawab budiman dengan jujur.


"Memangnya kamu habis berpelukan dengan paman Herman?' tanya Adinda yang merasa curiga.


"Memang benar. Kami habis menyesali nasib yang buruk yang telah terjadi. Kenapa kami kena tipu bersama-sama?" tanya Budiman.


"Aku juga begitu. Ya sudah enggak usah dibahas. Aku akan memecat netty.AKu tidak akan mengajaknya ke London. Semuanya sudah jelas siapa dia sebenarnya," jawab Adinda. "Mungkin saja aku akan mengajak Andara untuk menjadi asisten aku dengan harga yang sangat mahal sekali."


"Kalau begitu aku akan membawa Tio," celetuk Budiman.


"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Adinda.


"Perusahaan aku serahkan kepada papa selama tiga tahun ke depan," jelas Budiman.


"Sebaiknya aku menarik ucapanku. Aku akan bekerja tanpa asisten sama sekali," ucap Adinda.


"Hmmp... sepertinya mereka tidak usah dibawa. bagaimana dengan perusahaan induk Njawe Groups jika tidak ada aku? Inilah yang menjadi pertanyaan sesungguhnya," jelas Budiman.


"Bagaimana dengan Fikri?" tanya Adinda.


"Fikri?" tanya Budiman. "Dia berada di Medan. Pintar juga kamu. Nanti aku ajukan ke papa untuk membantu perusahaan induk. Papa juga kewalahan jika memegang banyak sektor sekaligus."


"Apakah dia berhubungan dengan Gilang?" tanya Adinda yang duduk di sofa.


"Tidak. Dia tidak pernah berhubungan dengan Gilang. Dia malah sangat membenci Gilang sepenuhnya," jawab Budiman yang mengetahui kalau sepupunya itu sangat membenci Gilang.


"Memangnya kenapa?" tanya Adinda.


"Ada satu kasus yang dimana paman Haryanto terkena serangan jantung," jawab Adinda.


"Kasus apa?" tanya Adinda.