
“Lu kenapa sih Bud? Kok lu tiba-tiba saja sensi banget jadi orang. Lu kan suaminya. Jadi wajarlah kalau lu memang khawatir sama Adinda,” kesal Kevin. “Lu mau bawa Adinda pulang kapan?”
“Kalau bisa nanti sore. Jadi gue akan mengirim seseorang untuk memeriksa keadaan Adinda. Suruh Adinda nggak boleh ke mana-mana terlebih dahulu. Biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Paling lama seminggu. Buat dirinya nyaman selama di rumah!” Perintah Kevin.
“Bolehkah aku melakukan sesuatu?” tanya Budiman.
“Sudahlah jangan aneh-aneh seperti itu. Tunggu sebulan baru bisa melakukannya,” sahut Kevin mengerti dengan Budiman.
“Lu tau aja ujung-ujungnya gimana. Thanks bro,” ucap Budiman.
“Yaelah bro. Mukamu itu bisa ditebak. Makanya jangan suka membohongi gue. Meskipun gue dokter, gue paham apa maksud lo,” sahut Kevin.
“Yaudah gue tinggal dulu ya. Lebih baik gue menjaga Adinda,” pamit Budiman yang berdiri meninggalkan Kevin.
“Lu sekarang bucin ya sama Adinda?” tanya Kevin.
“Gue baru sadar. Kalau Adinda itu adalah wanita yang paling sempurna buat gue. Gue pengen Adinda jadi yang terakhir. Gua udah nggak mau sama siapa-siapa lagi. Gue akan berjanji dalam diri. Kalau gue akan melindungi Adinda dari pihak manapun,” jawab Budiman dengan tulus.
“Pertahanin Adinda sekuat tenaga lo. Karena Adinda sendiri banyak yang mengincarnya. Kalau lo nggak bisa mempertahankan. Apa boleh buat. Adinda akan lepas dari pelukanmu dan diperebutkan oleh banyak pria di dalam negeri ini maupun luar negeri. Lu harus tahu kenapa Adinda menjadi incaran banyak pria? Karena Adinda sendiri memiliki kecerdasan di atas rata-rata ditambah lagi Adinda memiliki keberuntungan yang sangat luar biasa. Beberapa perusahaan yang pernah ditangani oleh Adinda, penghasilannya meroket jauh,” jelas Kevin yang mengetahui siapa Adinda sebenarnya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Kevin, Budiman merasakan hatinya sesak. Ia akan mempertahankan Adinda sekuat mungkin. Bahkan Adinda sendiri adalah wanita yang sangat spesial di muka bumi ini. Sedih! Iya Budiman sekarang sangat sedih sekali. Entah kenapa dirinya tidak rela untuk melepaskan Adinda begitu saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Budiman tidak memperdulikannya. Ia akan melepaskan diri dari bayangan hitam sambil menggenggam Adinda.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Budiman masuk dengan wajah lesu. Ia mendekati sang istri lalu duduk di samping. Budiman memegang tangan Adinda sambil berkata, “Jangan pernah tinggalkan aku sedetikpun.”
“Hei kak Budiman. Kamu itu kena setan apa sih kok datang-datang lesu kayak gitu. Memangnya ada apa?” tanya Adinda sambil menatap wajah Budiman.
“Nggak ada apa-apa. Pokoknya jangan pernah tinggalkan aku sedikitpun,” jawab Budiman.
Di dalam hati Adinda ini sangat aneh sekali. Ia memutuskan untuk tidak memikirkannya. Sebab Adinda sendiri sudah pusing dengan masalah tentang perusahaannya itu. Ia lalu memutuskan untuk mengambil snack di atas nakas.
“Habis ini kita bulan madu ya?” tanya Budiman.
“Nggak usah bulan madu kali. Lagian juga kita akan pergi ke Harvard untuk menimba ilmu. Terus kita memiliki waktu untuk libur. Nah di waktu liburan itu, kita bisa ambil sebagai acara travelling keliling Amerika. Anggap saja sebagai bulan madu,” jawab Adinda yang sebenarnya ingin melaksanakan bulan madu bersama Budiman.
“Apakah kita nggak bisa melakukan bulan madu?” tanya Budiman sekali lagi.
“Bukankah di sana ada SM Company?” tanya Budiman.
“Aku nggak mau kalau memegang SM company di Amerika. Aku ingin belajar mandiri. Aku akan bertahan hidup tanpa uang sepeser pun dari SM Company. Kamu tahu aku harus ngapain di sana? Aku harus bekerja part time. Menjadi orang biasa tanpa harus embel-embel nama perusahaan dibawa-bawa. Dan kamu harus mengerti akan hal itu. Kalau kamu ikut aku, maka kamu harus hidup mandiri bersamaku. Aku akan mengajarkan bagaimana hidup bahagia tanpa embel-embel dari nama keluarga maupun perusahaan,” jelas Adinda yang membuat Budiman tersenyum dan menatap wajahnya.
“Kamu itu ya bener-bener deh. Memangnya kamu kerja apa di sana?” tanya Budiman.
“Sedapatnya saja. Terserah mau dapat yang gimana dulu. aku dulu tinggal di Amerika mulai dari S1 hingga S2 tidak pernah meminta kepada orang tua. Habis kuliah aku langsung pergi ke restoran untuk bekerja di sana. Kalau hari libur Aku sengaja untuk beristirahat total. Soal biaya hidup aku memang sangat pelit disana. Tapi aku nggak tahu kalau kamu bertahan hidup seperti apa di sana. Yah setelah ini kemungkinan besar bisa menjadi seorang manajer di perusahaan Amerika,” jelas Adinda yang sebenarnya tidak ingin menjadi apapun di negeri orang.
“Apakah kamu nggak malu bekerja seperti itu?” tanya Budiman.
“Nggak ada kata malu buatku. Buat apa aku malu pada pekerjaan seperti itu. Lagian juga pekerjaan seperti itu bisa menghasilkan uang,” jawab Adinda yang mengajarkan Budiman tentang arti hidup kesederhanaan.
“Ya sudah kalau begitu. Ajarin aku ya tentang hidup sederhana. Aku harap kamu mampu melakukannya,” pinta Budiman.
Adinda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Lalu Adinda menatap Budiman dengan senyum merekah. Wanita berparas cantik itu berharap sang suami bisa menjadi pria baik-baik. Ditambah lagi Budiman sekarang sudah mulai paham dengan sifat Adinda.
“Kapan aku boleh pulang?” tanya Adinda yang sudah tidak betah lagi di rumah sakit.
“Sore mau?” tanya Budiman balik.
“Lebih baik enggak. Lagian aku sudah tidak betah di sini,” jawab Adinda sambil memakan snack itu.
“Tapi dengan syarat, kamu harus libur selama seminggu. Kamu nggak boleh ke mana-mana untuk memulihkan semua kondisi tubuhmu. Nanti kalau ada pekerjaan, aku akan menyuruh Netty agar bisa membawanya pulang,” jelas Budiman.
“Kalau aku nggak mau?” tanya Adinda sambil mengunyah snack itu.
“Dengan terpaksa aku tidak akan mengijinkan kamu pulang. Kamu harus tinggal di sini sampai benar-benar sembuh dan pulih. Itu pesan Kevin untukmu,” jawab Budiman agar Adinda mau menuruti pesan Kevin.
“Terserah deh apa maumu,” kesal Adinda sambil menatap Budiman dari samping.
“Nggak gitu kali sayang. Lagian juga kamu harus benar-benar sembuh total. Kalau kamu sudah tidak sakit, kamu boleh ke mana-mana atas seizinku,” pinta Budiman.
“Apakah aku harus meminta izin kepadamu?” tanya Adinda yang sengaja memancing Budiman untuk ribut sedikit.
“Ya iyalah. Kamu kan sudah memiliki suami. Jadi wajar kamu harus meminta izin dulu padaku. Jika aku mengizinkan, maka kamu boleh ke sana. Jika tidak mengizinkan, kamu tidak boleh membantah perintahku. Apakah kamu paham akan hal itu sayangku?” tanya Budiman sambil memegang tangan Adinda.