Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 82



"Ada yang harus kami bicarakan satu persatu. Ini bukan tentang Budiman. Ini adalah masalah salah satu pelayan di rumah yang telah menghianati kita," jawab Herman.


"Apa maksud kamu? Bukankah seluruh pelayan memiliki sifat yang baik?" tanya Tia.


"Memang, tapi ada salah satu pelayan yang suka membocorkan rahasia kita keluar rumah. Seluruh para tetangga pun sekarang tahu semuanya. Jika kita memiliki kesalahan," jelas Adinda.


Mendengar hal itu, Tia sangat terkejut sekali. Baru kali ini dirinya menemukan pelayan seperti itu. Dari awal berumah tangga hingga detik ini, para pelayan di rumahnya tidak pernah berkhianat sama sekali. Malahan mereka semuanya menjaga rahasia keluarga tersebut.


"Selama ini masalah internal dalam keluarga tidak pernah keluar. Malahan kita bisa menyelesaikan sendiri tanpa campur tangan seseorang dari luar rumah. Sekarang para tetangga sering julid kepada kita. Khususnya aku sama Paman Herman. Aku nggak tahu kenapa bisa mereka bisa melakukannya? Setelah ditelusuri ada salah satu pelayan yang sudah membocorkan rahasia itu. Namanya Mila Darwanti," jelas Adinda.


"Masak sih?" Tanya Tia tidak percaya dengan omongan Adinda. "Secara dilihat dari wajahnya, dia itu memiliki wajah yang baik."


"Kakak bisa berpikiran seperti itu karena telah tertipu dengan wajah kebaikannya. Tapi orang itu adalah iblis. Nggak kita saja yang mendapatkan serangan mental dari masyarakat hanya karena omongannya. Banyak sekali para korban yang sudah mendapatkan mental yang buruk dari Mila sendiri. Dia juga tidak segan-sekian mencuri beberapa perhiasan milik tuan rumah. Bisa dikatakan Mila itu sindikat. Dia nggak bekerja sendiri. Melainkan bekerja sama bersama suaminya," sambung Herman yang memberikan stepnya kepada Tia.


Lantas dia langsung menerimanya dan membaca semua informasi tersebut. Sedangkan lainnya memilih untuk diam. Soal pelayan dan rumah Malik sudah menyerahkan kepada sang nyonya. Ia lepas tangan untuk tidak ikut campur dalam masalah rumah.


"Kalau kamu sudah tidak nyaman sama Mila. Lebih baik keluarkan saja dia," ucap Malik.


"Bukannya nggak nyaman ayah. Sewaktu para tetangga sudah mulai menjuliti keluarga kita. Aku sendiri kok kaget gitu pas waktu belanja ke tukang sayur. Mereka ngomongin Adinda dan juga Herman. Mereka bilang Herman itu adalah benalu buat kita. Ditambah Adinda yang kerjaannya hanya keluyuran malam-malam. Aku sebagai ibunya tidak terima jika Adinda dan juga Herman dikatakan seperti itu. Adinda setiap malam ada pekerjaan untuk bertemu dengan para klien. Beda lagi dengan Herman. Kita memang niatnya untuk menyekolahkan dari dasar hingga sukses seperti ini. Kenapa kita selalu disalahkan sama mereka?" ucap Tia yang baru saja sadar dengan keadaan.


"Terus ibu mau bagaimana lagi? Menurutku, kalau ibu masih saja mempertahankannya. Nama keluarga kita menjadi buruk. Dan ini hanya tetangga saja. Belum lagi para klien dan juga para awak media. Yang diomongkan itu bukan kenyataan. Melainkan mereka bisa menambah-nambahkan. Dan aku tahu ada seseorang yang tidak suka sama aku sedari dulu. Dia namanya ibu Diana. Dia itu orangnya paling kepo sedunia. Aku sendiri orangnya tidak mau ramai. Jika bertemu dengan dia, Aku tidak pernah mengajaknya bertengkar. Aku cuma say hello saja," sambung Adinda.


Tia pun akhirnya sadar dengan apa yang dibicarakan oleh Adinda. Memang masalah ini adalah masalah sangat kecil sekali. Masalah ini sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Tia tidak ingin menggubrisnya. Karena ia sendiri sadar kalau pekerjaannya banyak sekali.


"Ternyata sudah banyak korbannya ya? Motifnya adalah pemerasan. Kalau nggak dikasih uang. Mila akan melakukan hal yang gak wajar. Ada juga motifnya hanya demi kesenangan saja. Melihat keluarga yang dijadikan sebagai juragannya hancur berantakan. Yang lebih parahnya lagi, orang itu sengaja menjadi pelakor untuk mengambil asetnya. Ini sangat aneh sekali," jelas Tia.


"Kalau Ibu tidak mau mengecatnya. Biar aku saja Bu. Berikanlah aku wewenang untuk membuat surat pemecatan. Kalau seperti ini terus kasihan. Istriku dan Herman akan menjadi korban. Meskipun aku baru saja tinggal di sini. Rasanya tidak etis jika mendengar hal-hal seperti itu," ungkap Budiman.


"Ibu ini masih mencari jalan keluarnya. Berhubung korbannya sudah banyak sekali. Rata-rata mereka adalah klien ibu. Ibu akan menanyakan semuanya ke mereka. Ibu ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Mila selama di rumah mereka. Jika Ibu sudah mendapatkan informasi. Ibu bisa memecatnya dan memasukkannya ke dalam penjara. Ini tidak bisa dibiarkan. Banyak orang-orang merugi karenanya," jelas Tia.


"Semuanya terserah ibu. Aku hanya ingin memberikan usul saja. Nggak lain dan nggak lebih. Soalnya masalah ini akan menjadi bumerang buat kita. Jangan sampai rumah kita hancur hanya karena salah satu pelayan," tambah Adinda.


"Kalau begitu tunggu seminggu ya. Kalau sudah kita akan membiarkannya lagi. Ibu ingin mengajak mereka berdiskusi. Agar mereka mengetahui Mila berada di rumah. Siapa tahu mereka mendukung ibu untuk memenjarakannya. Kalau sudah dapat dukungan. Otomatis keluarga Mila tidak akan menuntut balik keluarga kita," tutur Tia yang tidak ingin gegabah.


"Jawaban yang sangat cerdas buat istriku. Ibumu benar Din. Kamu nggak baca keseluruhannya. Keluarganya itu juga seperti Mila. Jika dia tertangkap polisi. Keluarganya itu akan menggeruduk dan mencari celah menyerang kita melalui media sosial. Kan kamu tahu, kalau keluarga kita bukanlah keluarga sembarangan. Kita memang sering sekali mencari celah aman. Tapi kita harus melihat ke belakangnya terlebih dahulu. Agar masyarakat tidak menilai kita dengan kasar," ucap Malik yang memberitahukan ke belakangnya bagaimana.


"Bener juga. Ya sudah kalau begitu. Lebih baik kita nggak usah bahas soal ini dulu. Minggu depan kita akan berkumpul di sini. Aku ingin masalah ini ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Oh ya soal pengacara, Herman tidak perlu menangani kasus ini. Aku ingin Kak Maulana saja yang mengurusi kasus ini," pinta Tia kepada mereka.


Mereka pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Keputusan sudah berada di tangan mereka masing-masing. Hanya saja mereka harus menunggu banyak dukungan. Jika tidak maka sangat fatal akibatnya.


Mereka makan malam dengan hati yang bahagia. Mereka sangat kompak sekali menjalin hubungan dengan mesra.


Budiman yang baru bergabung dengan keluarga Adinda disambut hangat. Faris dan Herman malah merangkulnya. Mereka akan menjadi keluarga yang besar. Lalu bagaimana dengan lainnya? Seperti Kevin, Irwan dan Roni, mereka juga sudah menganggapnya sebagai kerabat. Memang benar Roni dan Irwan masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Adinda. Jadi, mereka tidak bisa berkumpul seperti ini. Karena memiliki banyak pekerjaan.