Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 210



"iya itu benar. Kamu nggak tahu apa tujuanku menghack isi ponselmu itu dan seluruh laptopmu. Bisa-bisa Aku adalah seorang wanita yang mengambil data orang seenaknya dan menjualnya," jawab Adinda.


"Aku percaya kamu kok. Kamu nggak bakalan menjual data-data orang seenaknya saja. Lagian kamu sudah menjadi orang kaya. Dan ngapain juga kamu menjual seluruh data-data milik orang lain?" tanya Budiman sambil memegang tangan Adinda.


"Aku mau ingin beli kapal pesiar. Berhubung aku tidak bisa merawatnya dan juga menyayanginya. Lebih baik aku batalkan saja. Aku kembalikan saja data-data itu ke tempat semula. Lagian kamu memiliki data yang kurang menarik buat aku. Tapi kenapa ya, kok para perempuan sangat menggilai kamu?" tanya Adinda balik sambil menahan senyumnya.


"Aku kan seksi. Jika tidak memakai baju. Lihatlah otot-otot yang berada di tubuhku ini. Mereka sangat tergoda sekali dengan lekuk tubuhku ini. Tapi yang anehnya kamu malahan ngomong biasa saja. Apakah ototku ini belum besar?" tanya Budiman sambil memukul lengan kekarnya itu.


Adinda hanya memutar bola matanya dengan malas. Bagaimana bisa Budiman memamerkan tubuhnya itu dengan penuh percaya diri? Namun Adinda juga bangga melihat tubuh kekar sang suami. Akan tetapi Adinda tidak pernah mengatakan kalau Budiman itu sangat seksi sekali.


"Awas aja nanti kalau sudah tua," ancam Adinda.


"Memangnya kenapa kalau sudah tua? Bukankah manusia ditakdirkan akan menjadi tua? Lalu kenapa kamu mengancamku seperti itu?" tanya Budiman yang bingung dengan pernyataan Adinda.


"Di masa mudamu, tubuh kamu sangat seksi sekali. Di masa tuamu, tubuhmu berubah drastis. Yang di mana ke drastisannya akan membuat semua wanita berpaling dari hadapanmu kecuali aku," jawab Adinda.


Apa yang dikatakan oleh Adinda itu memang benar. Seiring berjalannya umur, manusia akan berubah fisiknya dengan pelan-pelan. Begitu juga dengan sang ayahnya Adinda sendiri. Dulu sebelum menikah, Malik adalah seorang pria yang sangat tampan sekali. Bahkan saking tampannya, Adinda kecil sangat mengagumi sang ayah. Diam-diam Adinda ingin memiliki seorang suami yang mirip ayahnya itu. Tapi semuanya berbeda. Sang ayah sekarang bertambah gemuk dan bulat. Meskipun bulat banyak sekali mahasiswi yang berada di kampusnya itu selalu mengejarnya. Mereka meminta untuk dijadikan kekasih atau istri. Inilah yang membuat Malik pusing tujuh keliling ketika masuk ke dalam kampus.


"Isinya hanya meminta uang terus-terusan. Sempat aku balas begini. Kalau kamu ingin mendapatkan uang banyak lebih baik kerja yang giat. Jangan pernah mengemis ke banyak orang. Aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Tinggal tunggu waktunya nanti akan terbongkar dengan sendirinya," jawab Adinda.


"Kamu itu ada-ada aja. Untung kamu nggak mengajaknya perang. Tapi ada benernya juga sih. Bahkan kebenarannya itu sudah kamu utarakan kepada Kanaya," ucap Budiman. "Lalu Kamu nggak lihat apalagi?"


"Banyak permainan yang aku lihat. Tapi aku malas memainkannya. Nanti kalau aku menang kamu pasti curiga. Sebab ponselmu itu sudah terpapar virus dari aku,' ledek Adinda yang sengaja melepaskan Budiman dan berlari menuju ke arah air baru datang bersama ombak sangat kencang sekali.


Sebelum diterpa oleh ombak,  Budiman langsung menarik tangan Adinda. Ia tidak mau sang istri terseret oleh ombak tersebut. Dengan cepat Budiman berlari mengajak Adinda agar segera ke daratan.


"Kamu itu ada-ada aja sih. Banyak deburan ombak yang kencang begitu. Masak kamu berdiri di tengah-tengah situ. Apakah kamu mau mati tenggelam?" Tanya Budiman yang kesal terhadap Adinda.


"Aku nggak bermaksud bunuh diri. Ketika aku berada di pantai. Aku memang selalu begitu. Aku sangat menyukai deburan ombak seperti tadi. Makanya itu aku langsung berdiri di sana. Aku juga tidak berdiri di tengah-tengah laut itu," jawab Adinda yang tiba-tiba saja bersalah dengan keadaan.


"Bukan begitu maksudku. Apakah kamu tidak