Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 122



Setelah mengobrol dengan Claudia, Adinda dan Budiman berpamitan untuk pulang. Adinda berpesan agar memberikan hadiahnya jangan lama-lama. Karena dirinya akan menetap di kota London untuk mengurusi semua pekerjaan Faris. Claudia pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu Budiman dan Adinda pergi meninggalkan ruangan itu.


Budiman melihat ada satu cincin yang dipajang di kotak besar sangat indah. Budiman sangat tertarik dan menyuruh Adinda untuk berhenti sebentar.


"Sayang," panggil Budiman sambil menarik Adinda agar berhenti.


"Ada apa?" tanya Adinda.


"Kemarilah, ikut aku sebentar," ajak Budiman yang menuju ke kotak besar itu.


Adinda pun menuruti apa kata Budiman. Setelah itu Budiman menunjuk cincin itu dengan semangat. Ia yang membayangkan Bagaimana cantiknya cincin itu dipakai di jari manis Adinda. Kemudian seorang pelayan toko mendekatinya. Ia tersenyum sambil menceritakan pembuatan cincin ini. Belum habis ceritanya, Budiman memintanya untuk membungkuskan satu. Dengan semangat pelayan toko itu mengambilnya dan langsung melakukan transaksi.


Adinda pun tidak memperdulikan dengan cincin itu. Karena ia tahu kalau cincin itu tidak ada riwayat apapun. Namun Adinda sendiri tidak tahu. Kalau Budiman sengaja membeli untuk dirinya.


Untung saja yang melayani Budiman saat itu adalah Claudia. Jadi Budiman sendiri mendapatkan diskon khusus dari kakak iparnya itu. Dengan penuh senyum, Claudia mengucapkan terima kasih sambil memandang wajah Adinda.


"Terima kasih ya sudah membeli satu barang dariku," ucap Claudia sambil tersenyum.


"Aku juga Terima kasih Kak," balas Adinda dan Budiman secara serempak.


Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah berlian itu. Namun sebelum meninggalkan rumah berlian, Budiman berhenti tepat berada di hadapannya. Dengan hati berdetak kencang, Budiman memegang tangan Adinda. Ia sedang memikirkan kata-kata yang baik untuk menyatakan rasa cintanya itu. Ia diam terlebih dahulu sambil menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya.


"Aku memang bukan pria baik untukmu. Aku memang pria nakal dan tidak pernah patuh kepada orang tua ataupun sahabatku dan juga kamu. Aku juga tidak pernah terpikirkan untuk menikah denganmu. Aku tidak ingin kembali ke masa laluku. Jadilah masa depanku hingga kita memiliki anak-anak dan banyak cucu. Mulai saat ini kita tutup lembaran lama dan kita buka lembaran baru. Aku ingin semuanya berjalan dengan lancar. Karena aku mengajakmu untuk menjalani rumah tangga ini dengan baik. Aku berharap semuanya akan berjalan lancar hingga nanti. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Meskipun awal pernikahan ini adalah awal pemaksaan. Apakah kamu mau terima cintaku ini yang tulus untukmu?" tanya Budiman yang membuat Adinda langsung membeku.


Ketika Budiman menyatakan rasa cintanya itu. Banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang berhenti dan memutari mereka. Sedangkan Claudia yang berada di dalam tokonya itu memutuskan untuk keluar bersama beberapa karyawannya. Mereka menyerobot dan melihat acara pernyataan cinta kepada Budiman.


Claudia sangat antusias sekali dengan acara ini. Claudia memberikan semangat kepada Adinda untuk menerima ketulusan Budiman. Dengan penuh teriakan, ia meminta para pengunjung untuk berteriak agar Adinda mau menerima Budiman.


Terima!


Terima!


Terima!


Terima!


Satu kata itulah yang membuat Adinda akhirnya tersenyum. Adinda sendiri berteriak sambil menerima cintanya Budiman dengan tulus. Hal itu membuat seluruh pengunjung yang melihatnya menjadi sangat bahagia. Budiman langsung memeluk Adinda sambil mengelus-ngelus punggungnya.


Situasi saat itu sangat ramai dan membuat semua orang bahagia. Bagaimana tidak? Budiman yang tidak pernah menyatakan rasa Cinta, akhirnya mengucapkan kata-kata itu di hadapan sang istri. Ia berjanji tidak akan nakal lagi dan menjadi suami yang baik untuknya. Sungguh Adinda sangat terharu sekali.


Budiman mengambil kotak beludru itu dan mengambil isinya. Lalu Budiman memakaikan cincin yang baru dibelinya di jari manis Adinda. Setelah itu mereka berpelukan sambil berkata, "Tetaplah bersamaku selamanya."


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tetaplah bahagia dan jangan pernah menyerah pada keadaan," pesan Adinda sambil berbisik kepada Budiman.


Claudia langsung men-tag nama mereka di postingannya tersebut. Hingga akhirnya Claudia ngajak karyawannya untuk kembali ke rumah berliannya itu.


Tak butuh waktu lama, banyak sekali orang-orang maupun para klien mengucapkan selamat. Mereka juga mendoakan hal yang sama. Bahkan akun mereka dibanjiri doa yang sangat baik sekali.


Meski pengusaha, Adinda sering berbagi ilmu tentang perbisnisan. Adinda adalah seorang content creator dari berbagai macam sosial media. Oleh karena itu wajahnya sangat familiar sekali.


Beda dengan Budiman, ia bukan seorang content creator. Malahan ia memiliki sifat introvert. Budiman memang memiliki wajah tampan. Akan tetapi Budiman tidak bisa say hello dengan orang yang belum dikenalnya. Ia lebih memilih senyum lalu pergi. Makanya ia sering sekali mendapatkan julukan sebagai balok es sedang berjalan. Namun Budiman tidak mempersalahkan masalah tersebut hingga menjadi besar.


Tidak disangka-sangka, karena adegan tersebut. Seluruh harga saham milik Njawe Groups dan SM Company langsung mencuat. Yang tadinya naik sedikit langsung naiknya banyak sekali. Hal ini membuat Faris terkejut kemudian melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


Huahaaaaa!


Faris berteriak hingga membuat Herman dan Malik terkejut. Kedua pria itu langsung masuk dan melihat Faris. Mereka mengerutkan keningnya lalu menghempaskan bokongnya di hadapan Faris.


"Ada apa kamu berteriak?'' tanya Malik.


"Aku berteriak karena harga saham sedang naik drastis. Tadi pagi waktu aku cek harga saham naik hanya nol koma nol sembilan persen saja. Yang artinya tidak banyak kenaikan signifikan. Malahan aku lihat tadi agak merosot. Sekarang naiknya gila-gilaan hingga tujuh puluh lima persen," jawab Faris yang membuat mereka terkejut.


Herman dan Malik sampai berpandangan mata. Mereka mengedikkan bahunya tanda tidak tahu sama sekali. Setelah berpandangan mata mereka juga memandang wajah Faris. Mereka seakan-akan ingin meminta penjelasan kepada Faris. Ada apa sebenarnya? Faris pun menjawab tidak tahu.


"Ada apa ya Kok bisa naiknya segini? Apakah Adinda sedang memenangkan tender yang cukup lumayan besar?" tanya Faris.


"Aku tidak tahu sama sekali. Perasaanku Adinda sudah tidak pernah ke kantor. Kecuali kemarin aku suruh untuk menggantikanku untuk pergi ke kantor Budiman. Aku menyuruhnya bekerja sama agar kita mendapatkan kaleng-kaleng dengan berkualitas baik," jawab Herman.


Mereka terdiam dan tidak mengerti apa yang telah terjadi. Saat Malik membuka ponselnya, Malik sangat terkejut sekali dengan adegan Adinda dipeluk oleh Budiman di depan rumah berlian. Bukannya marah, Malik tersenyum dan menikmati indahnya pernyataan Cinta dari Budiman.


Matanya tertuju ke sebuah cincin bertabur berlian. Malik yang melihat Budiman memegang cincin itu sangat terharu sekali. Ia sangka Budiman tidak bisa membelikan sebuah cincin bertabur berlian untuk sang putri. Semuanya sudah dibuktikan oleh Budiman sendiri.


"Rasanya ini sangat lucu sekali. Dulu ayah melamar ibumu di tengah pasar malam. Ibumu sangat bahagia sekali. Sekarang lihatlah adikmu di akun sosial medianya milik Budiman atau Adinda. Adinda sangat bahagia ketika Budiman menyatakan rasa cintanya. Baru kali ini Adinda merasakan cinta dari seorang pria yang tulus seperti Budiman. Bagaimana menurutmu?" Malik bertanya kepada mereka.


Mereka pun langsung meraih ponselnya masing-masing. Mereka mencari adegan tersebut dan menemukannya. Sontak saja mereka sangat terkejut sekali. Bagaimana bisa seorang Budiman seperti balok es bisa berbicara tentang cinta? Padahal dulu ia tidak pernah berbicara soal cinta. Dengan gampangnya Budiman menyatakan rasa cinta itu kepada Adinda.


"Ya nggak gimana-gimana yah. Jujur aku memang tidak menyukai Budiman saat menikahi adikku. Tapi sekarang, Budiman sangat tulus sekali mencintai Adinda. Bahkan Budiman sendiri tidak meminta Adinda untuk mengembalikannya semua," jelas Faris.


"Herman Bagaimana menurutmu?" tanya Malik.


"Perubahan yang sangat signifikan. Dulu ia memuja-muja siapa itu Kanaya. Sekarang dia memuja-muja keponakanku sendiri. Aku yakin Budiman memiliki niat baik untuk menjalani rumah tangga bersama Adinda. Semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Budiman sepertinya sudah lupa dengan Kanaya. Dia tidak ingin menyebut Kanaya lagi setelah ini," jelas Herman.


"Menurut ayah sendiri. Yang dikatakan oleh Herman itu benar. Aku sangka Budiman tidak bisa berubah. Jujur aku lebih kasihan sama keluarganya. Hampir setiap hari pak Kartolo menghubungiku dan menanyakan bagaimana kabar Budiman?" ucap Malik.


"Apa itu benar ayah?" tanya Faris yang tidak mengetahui Ada apa sebenarnya di sini ketika berada di London.