
Sementara kedua orang tua Adinda juga penasaran. Mereka bertanya-tanya dalam hati, Ada apa dengan Gina? Padahal ketika datang, Mereka melihat Gina tidak apa-apa. Ini sungguh di luar dugaan mereka. Setelah itu moderator rapat memulai acara itu. Acara yang diselenggarakan tepat pukul 10.00 sudah menunjukkan hal yang tidak wajar.
Ketika moderator menjelaskan apa saja yang akan dilakukan saat rapat, Gina mulai memprovokasi keadaan. Gina mengirimkan sebuah pesan yang nada mengancam kepada para pemegang saham. Isi ancamannya itu, jika mereka memihak pada Adinda, Apakah hidupnya bersama keluarganya tidak akan selamat sama sekali.
Salah satu dari mereka sengaja mengirimkannya ke Herman. Herman pun tersenyum dan mengirimkannya ke kakaknya itu yang bernama Husein. Tanpa menunggu lama, Husein langsung memberikan jawaban yang berisikan akan membantunya. Husein juga kesal terhadap keluarga Gilang. Pria paruh baya itu sudah menilai keluarga Gilang sangat keterlaluan sekali. Mau tidak mau Husein akan turun tangan demi menyelamatkan beberapa orang yang akan mendukung Adinda.
Setelah itu Herman menyuruh mereka untuk tetap tenang. Karena mereka sudah mendapatkan perlindungan hukum yang akan ditangani oleh Husein.
Mereka percaya dengan keputusan Herman. Mereka sangat bersyukur sekali hukum secara Cuma-Cuma. Namun Gina tidak mengetahuinya dan tidak sadar. Bahwa di aula rapat itu ada seorang pengacara kondang.
Kemudian Adinda meminta para pemegang saham untuk meminta waktu sebentar. Adinda tidak akan memutuskannya begitu saja. Adinda meminta mereka untuk memberikan suaranya. Apakah cocok Budiman menjabat di kursi CEO perusahaan ini? Namun Gina dan Gandhi memberikan suara tidak cocok. Hingga para pemegang saham lainnya, jadi mereka memutuskan kalau Budiman masih cocok menjabat CEO di perusahaan ini. Budiman bersyukur dan mengucapkan terima kasih. Ia berjanji akan bekerja lebih giat lagi. Ia juga meminta dukungan mereka untuk membangun perusahaan ini bersama-sama. Jadi meeting kali ini hanya berlangsung satu jam lebih 15 menit.
Tepat pukul 11.30 siang, Adinda dan Herman masih duduk di kursi kebesarannya. Mereka memang sengaja tidak beranjak dari sana. Herman meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. Herman meminta orang itu untuk menyiapkan banyak pengawal. Ia menyuruhnya untuk berjaga di titik tertentu. Yang di mana titik-titik untuk menjaga para pemegang saham di perusahaan Budiman.
“Paman Kenapa menghubungi Kak Andra?” tanya Adinda yang sedari tadi mendengarkan permintaan Herman.
Adinda sangat bersyukur sekali karena sang paman pertamanya itu telah membantunya. Ketika mengambil keputusan, mata Gina sudah menyorot ke mata dirinya. Di matanya itu ada sebuah pesan yang menyiratkan agar dirinya berhenti untuk memutuskan nasib Budiman. Namun Adinda tetap saja memutuskan nasi Budiman dengan baik.
“Tenanglah. Sebentar lagi ada rapat pemegang saham di perusahaannya Gilang. Beberapa bulan yang lalu aku sudah membeli saham sebesar lima puluh delapan persen. Paman tahu apa artinya? Aku akan hadir di dalam rapat itu. Aku yang akan memutuskan nasib Gilang. Dia harus lengser dari kursinya itu. Karena dia sering sekali berbuat curang ketika sedang bekerja,” ucap Adinda yang membuat Herman terkejut.
“Kamu sudah gila ya Din. Kamu berani banget membeli saham perusahaan Gilang. Bisa-bisa kamu mengakuisisi perusahaan itu menjadi SM Company,” kesal Herman yang tidak sengaja mengetahui kelicikan Adinda.
“Aku memang sengaja melakukannya. Ketika sahamnya turun, Aku membeli saham itu sebanyak-banyaknya. Aku tidak memakai nama Adinda. Aku memakai nama Indah. Apakah Paman masih ingat tentang nama Indah itu?” tanya Adinda.
“Terserah deh apa maumu. Yang penting kamu bisa berjalan dengan selamat. Aku akan meminta Andra untuk memilihkan pengawal bayangan untukmu,” kesal Herman yang diam-diam mengetahui nyawa Adinda sedang terancam.
“Paman tenang saja. Aku tidak akan seliar itu untuk mengakuisisi perusahaan tersebut. Belum saatnya aku melakukannya. Jika itu terjadi mereka akan menangis berjamaah. Memang saat ini aku akan membalaskan dendam atas kematian Kak Rizal. Sudah waktunya aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri. Aku tidak ingin lagi memakai perantara orang lain. Karena aku tidak ingin menyeretnya ke dalam masalah ini,” sahut Adinda yang diam-diam masih bersedih atas kepergian Rizal.
“Lalu bagaimana dengan Budiman?” tanya Herman.