
“Kamu!” bentak Budiman yang tidak terima Kanaya diejek oleh Adinda.
“Apa!” bentak Adinda dengan nada meninggi. “Kamu itu pria bodoh banget ya! Bisa-bisanya kamu membela Kanaya di depan istrimu! Apa hebatnya Kanaya buat kamu? Kamu tahu enggak selama di London! Dia enggak pernah kuliah sama sekali! Dia menikahi Gilang dan memiliki bayi kembar!”
“Jangan asal tuduh kamu! Aku bisa membuat kamu mendekam dalam penjara!” ancam Budi dengan nada menekan.
“Hahaha! Enggak salah itu! Aku tidak akan pernah mau menjelekkan orang! Kecuali orang itu tidak pernah membuat kasus sama aku! Kamu terlalu naif jadi pria! Kamu juga terlalu polos dan dapat dibohongi olehnya!” geram Adinda.
“Awas saja kamu! Cepat atau lambat aku akan membuat menderita!” ancam Budi.
“Kerjaan kamu bisa mengancam! Oke... jika kamu terus mengancamku! Aku pastikan kamu akan menderita di tanganku! Karena sedari dulu aku tidak mau diancam sama siapapun!” ancam Adinda balik dengan tatapan tajam dan meninggalkan Budiman.
Sedari lahir Adinda tidak mau diancam oleh siapapun. Adinda juga bukan seorang pengecut. Ia lebih memilih berbicara pada kenyataan dan sesuai fakta. Jika tidak ada fakta maupun kenyataan Adinda lebih memilih diam.
Beda lagi dengan Kanaya. Kanaya adalah seorang wanita yang dimana sering membuat masalah. Ia bahkan sering berurusan dengan kepolisian di negara ini maupun negara lain. Akan tetapi ia tidak pernah kapok untuk membuat masalah. Jika masalah semakin besar ia akan pergi meninggalkannya dan menuduh seseorang. Dengan begitu Kanaya bisa lolos dari jeratan hukum.
Lalu bagaimana dengan Budiman? Budiman tidak pernah memperdulikan hal itu. Yang penting ia sangat mencintai Kanaya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Ia mudah sekali dibohongi oleh Kanaya.
Selesai bertemu dengan Adinda, Budiman pergi meninggalkan kantor tersebut. Hatinya seakan tidak rela jika Adinda mengejek Kanaya. Ia akan mencari cara untuk melakukan sesuatu agar terlepas dari pernikahan bersama Adinda.
Kanaya yang berada di apartemen bersama Gilang sedang mempersiapkan makan malam. Ia mengaku kalau dirinya sangat mencintai Gilang. Namun disisi lain Kanaya juga mencintai Budiman.
Ada kalanya Kanaya ingin melepaskan salah satunya. Namun Kanaya tidak mau melepaskannya semua. Sebab Kanaya sengaja mempertahankan semuanya. Baginya Gilang sangat pandai memuaskan hasratnya di ranjang. Sedangkan Budiman adalah tambang emas baginya. Bisa dikatakan kalau Budiman adalah ATM berjalannya. Maka dari itu papa dari Budiman tidak akan pernah melepaskan perusahaannya sedikitpun. Diam-diam Pak Kartolo mencoba masuk ke dalam perusahaan SM Company. Namun pihak Adinda belum mengkonfirmasi semuanya.
“Jadi dech masakannya,” ucap Kanaya.
Beberapa saat kemudian datang Gilang sambil wajah cemberut. Gilang frustasi karena kalah tender dari SM Company. Memang siang tadi Adinda bersama Netty dan juga beberapa karyawannya berkumpul di satu hotel mewah Yang dimana akan ada pertemuan dengan perusahaan terbesar. Perusahaan itu memiliki sektor yang dimana bekerja sebagai distributor makanan prajurit perang di beberapa negara Eropa. Jujur siang itu juga Adinda keluar sebagai pemenang. Ditambah lagi perusahaan yang dinaungi Adinda mengedepankan gizi terbaik buat seluruh orang mengkonsumsinya.
“Apa yang jadi?” tanya Gilang dengan kesal.
“Makan malam kamu,” jawab Kanaya dengan melemparkan senyumnya yang indah.
“Aku tidak peduli itu. Aku lagi kesal!” bentak Gilang yang membuat Kanaya terkejut.
“Kamu kenapa sih kok membentakku seperti itu?” tanya Kanaya yang menatap wajah Gilang.
“Kali ini aku benar-benar hancur. Aku malah persaingan ketika sampel makananku ditolak mentah-mentah,” jawab Gilang mengusap rambutnya dengan kasar.
“Kenapa ditolak?” tanya Kanaya yang penasaran.
“Sebab makanan yang aku ajukan tidak sesuai dengan nilai gizi yang diminta,” kesal Gilang yang ingin memaki sang pemilik SM Company.
“Ya... kamu bilang saja! Kalau nilai gizi bisa diperbaiki segera,” saran Kanaya.
“Itu tidak mungkin. Mereka sudah mengecek beberapa produk semua peserta yang berada di luar sana. Perusahaan itu sengaja membawa beberapa dokter gizi senior untuk mengecek satu-satu. Ternyata banyak sekali para peserta yang gugur,” jelas Gilang yang menggebu ingin mendapatkan proyek itu.
“Ha... masa kamu enggak tahu sih SM Company punya siapa?” tanya Gilang sambil memicingkan matanya.
“Jujur aku enggak tahun siapa pemilik SM Company,” jawab Kanaya dengan jujur.
“Oalah... dia adalah istri dari Budiman,” jawab Gilang yang membuat mata Kanaya membulat sempurna.
“Apakah itu benar?” tanya Kanaya yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gilang.
“Memang benar. Dia salah CEO paling muda di jajaran negara ini dan merajai Asia. Bahkan namanya sudah terkenal di kawasan Asia,” jelas Gilang yang membuat Kanaya mengepalkan tangannya.
“Aku tidak akan membiarkan Adinda menjadi terkenal! Sudah cukup wanita ular itu sudah mengambil Budiman dari pelukanku!” geram Kanaya.
Kanaya memang sudah mengetahui pernikahan Budiman dan juga Adinda. Maka dari itu Kanaya malah semakin membencinya. Ia akan mencari cara untuk melepaskan proyek itu. Agar Gilang bisa mendapatkannya tanpa perlu susaah payah.
“Apa yang akan kamu lakukan jika Adinda masih berhubungan dengan Budi?” tanya Gilang yang mengetahui kelicikan Kanaya.
“Tenang saja. Aku akan meminta Budi agar bisa membantu memenuhi keinginan kamu,” jawab Kanaya.
“Apa itu?’ tanya Gilang yang sangat penasaran sekali dengan rencana sang istrinya itu.
“Tenang saja. Aku akan mempengaruhi Budi,” jawab Kanaya sambil tersenyum licik.
“Lalu apa yang kamu lakukan?’ tanya Gilang yang tidak mengetahui apa yang maksudnya.
“Masa kamu enggak tahu sih sayang!” kesal Kanaya yang menatap manja Gilang.
“Iya apa?” tanya Gilang sekali lagi sambil meliriknya.
“Kamu tidak perlu susah payah mendapatkan kontrak itu. Aku akan merebut kontrak itu dan menyerahkannya ke kamu. Tapi itu harus melalui Budiman. Jika aku bisa mempengaruhi Budiman. Maka semuanya aku dapatkan dengan mudah,” jelas Kanaya.
“Ya... aku tahu... maka lakukanlah untukku. Nanti gantinya aku akan membelikan rumah mewah yang baru saja dibuka kemarin sore,” ucap Gilang yang membuat Kanaya semangat.
“Benarkah itu?” tanya Kanaya yang membuat hatinya bersorak kegirangan.
“Ya... itu benar. Kalau sudah berjanji akan aku penuhi,” jawab Gilang yang membuat sang istri tersenyum.
“Apakah aku boleh membawa Budiman kesana?” tanya Kanaya yang meminta izin untuk berselingkuh.
“Itu terserah kamu. Aku hanya membelikan rumah saja. Aku juga tidak akan kesana. Aku harus bolak-balik ke London untuk melihat bisnisku,” jelas Gilang.
“Aku enggak memperdulikan bisnis kamu itu. Yang penting uang seluruh bulananku mengalir terus,” sahut Kanaya yang selesai membuat minuman teh.
“Itu beres. Kalau kurang minta sama Budiman,” Gilang menyuruh Kanaya untuk meminta uang jajan lebih dari Budiman.
“Itu beres. Budiman tidak ada apa-apanya dari kamu.Tapi kalau soal uang dia loyal banget sama aku. Aku tidak akan menikahinya dan menjadikannya dia sebagai sampinganku saja. Aku harap kamu tidak marah sama aku,” jelas Kanaya.