
"Anda sangat percaya diri sekali nona. Jangan salahkan saya. Jika suamimu itu jatuh ke tanganku," ancam Mila lalu pergi meninggalkan Adinda sendirian.
"Oh begitu ya. Baiklah aku akan berperang sama kamu!" teriak Adinda kepada Mila. "Cepat atau lambat akan Aku seret kamu ke kantor polisi."
Adinda tidak gentar sama sekali. Ia juga tidak memperdulikan ancaman Mila. Hanya satu kali jarinya bergerak, bisa dipastikan Mila akan mendekam dalam penjara.
"Jangan pernah main-main sama saya Mila. Sekalinya dapat informasi kamu. Akan aku telanjangi siapa dirimu sebenarnya," ucap Adinda dalam hati.
Sedangkan Budiman terkejut mendengar pernyataan dari Adinda. Ia tidak tahu kenapa dirinya melihat Mila seperti melihat musuh. Ia merasakan bila adalah pelayan yang tidak beres sama sekali.
Adinda kembali ke tempat duduk dan menghabiskan makanannya. Ia akan mencari tahu setelah ini. Siapa sih Mila sebenarnya? Kok Mila berani-beraninya mengancam sang pemilik rumah dengan tegasnya?
"Kamu harus berhati-hati Din. Sepertinya orang itu sangat berbahaya sekali. Aku merasakan orang itu ingin menghancurkan keluarga ini," ucap Budiman yang memperingatkan Adinda.
"Tenang saja bang. Aku akan mencari informasinya setelah ini. Cepat atau lambat aku bisa memecatnya tanpa pemberitahuan dari ibu," sahut Adinda yang penuh dengan percaya diri.
"Solusi terbaik. Agar tidak ada yang menggosip lalu keluar hingga ke luar rumah. Jika diteruskan maka akan berakibat fatal. Karena ku yakin sumber masalahnya itu adalah pelayan tersebut," jelas Budiman.
"Kalau begitu ya sudahlah. Habiskan makanannya kita akan pergi ke atas. Aku ingin mengecek seluruh pekerjaan di kantor," ucap Adinda.
Mereka menghabiskan makanannya dengan cepat. Setelah menghabiskan makanannya, mereka memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan. Namun sebelum itu Adinda akan menyelidiki siapa Mila sebenarnya.
SM Company.
"Faris," panggil Herman sambil membawa berkas-berkas dan menyodorkan ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Faris yang mengangkat wajahnya sambil menatap Herman.
"Adinda telah mengirimkan sesuatu ke ponselku. Ini bukan masalah pekerjaan. Ini adalah masalah rumah," jawab Herman yang melihat landscape dari balik jendela besar.
"Maksud kamu apa?" tanya Faris yang tidak paham dengan Herman.
"Kamu tahu masalah keluarga bocor hingga keluar rumah?" tanya Herman yang sedikit membuat teka-teki.
"Nah itu dia. Dari mana sih sumber masalah itu hingga keluar ke para tetangga? Kamu tahu sendiri kalau masalah kita di keluarga nggak boleh sampai keluar rumah," tanya Faris balik kepada Herman.
"Adinda masih mencari informasi tentang salah satu pelayan yang telah membocorkan masalah ini ke tetangga. Orang ini sangat bahaya sekali ketimbang lainnya. Gara-gara dia para tetangga sering membicarakan Adinda maupun kedua Kak Malik dan Kak Tia. Jika sampai Adinda menemukannya, orang itu tidak akan selamat sama sekali. Bahkan Adinda tidak segan-segan menyeretnya ke kantor polisi," jelas Herman yang membuat Faris memijit keningnya.
"Ini masalah sangat gawat sekali. Aku akan membiarkan Adinda sedikitpun. Aku tahu Adinda Bagaimana orangnya," ucap Faris yang mengetahui sifat Adinda itu.
"Kalau begitu lepaskanlah. kita akan lihat siapa di balik dalangnya pada tetangga julid itu mengatai Adinda sendiri," ujar Herman sambil tersenyum konyol.
"Nanti malam mudah-mudahan Adinda tidak tidur seperti semalam. Aku pengen banget berdiskusi soal Gilang. Cepat atau lambat masalah ini harus diselesaikan. Hampir seluruh karyawanku terkena damprat dari Gilang," kesal Faris sambil melemparkan kertas ke tong sampah.
"Baiklah," sahut Herman. "Ya udah deh. Gue balik ke kantor terlebih dahulu. Masalah pelayan nggak usah dibahas. Kita harus fokus dalam mengurusi perusahaan ini."
"Herman," panggil Tia.
"Iya kak," sahut Herman sambil menatap Tia. "Tumben-tumbenan ke sini Kak. Biasanya sopir yang bawa?"
"Aku memang ke sini nganterin makanan ini. Setelah itu aku akan pergi ke cafe," jawab Tia.
"Apakah benar ibu buka toko jam dua belas siang?" tanya Faris.
"Sebenarnya ibu sendiri dilema. Ibu buka jam dua belas siang karena hanya menarik pengunjung untuk makan siang di cafe. Tapi Adinda melarang. Adinda meminta ibu membuka seperti biasa. Kalau Ibu pikir-pikir lagi, kenapa nggak membuka cafe seperti biasanya? Inilah yang membuat Ibu bingung," jawab Tia.
"Yang dikatakan Adinda benar Kak. Meskipun jarang orang berkunjung di pagi harinya. Lumayanlah kalau sepuluh porsi keluar di jam-jam tapi seperti itu. Apalagi tempat kakak itu sudah di desain sangat kece banget. Kalau semuanya sudah oke, Kakak nggak usah takut kehilangan pelanggan. Nanti aku bantu untuk promosikan ke media sosialku. Hanya dengan promosi seperti itu, Kakak bisa menjaring banyak pelanggan baru dan anak-anak muda zaman sekarang," jelas Herman yang memberikan solusi kepada Tia.
"Nah maksudku begitu. Makasih ya sudah membantu aku," ucap Tia.
"Sama-sama Kak," balas Herman.
"Oh iya... Jangan lupa mengambil jatahmu di sini. Aku akan pergi setelah ini. Faris Ibu pergi dulu ya," pamit Tia ke Faris dan juga Herman.
Mereka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Meskipun Herman adik yang paling kecil dari Malik. Tia sangat menyayanginya. Karena dia sendiri tidak memiliki saudara banyak. Bagaimana dengan adik-adik lainnya? Rasa sayang dan cinta Tia begitu besar kepada mereka. Namun mereka semuanya berada di tempat yang jauh. Mereka sedang berada di luar kota maupun di luar negeri.
Sore pun tiba. Adinda dan Budiman telah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka serempak meregangkan kedua otot tubuhnya. Setelah itu Adinda mengambil kunci mobil. Ia melihat Budiman sambil mendekatinya.
"Abang Budiman," panggil Adinda dengan tersipu malu.
"Ada apa neng?" sahut Budiman.
"Jalan-jalan yuk Bang. Aku bosan di dalam rumah. Aku pengen ke taman yang berada di pusat kota. Aku sudah lama tidak ke sana," ajak Adinda.
"Kamu mau kesana?" tanya Budiman.
"Iyalah," jawab Adinda.
"Bagaimana lukamu?" Tanya Budiman sambil menatap wajah Adinda.
"Sudah kering. Nggak usah terlalu khawatir seperti itu. kak Kevin udah biasa kok melihat aku keluyuran setelah keluar dari rumah sakit," jawab Adinda yang membuat Budiman menepuk jidatnya.
"Kamu itu bukan robot Din. Kamu itu manusia. Tubuhmu itu harus dijaga baik-baik. Jangan sampai lukamu itu kembali menganga lagi," pesan Budiman.
"Masalahnya bukan itu Kak. Aku ingin melepas stress hari ini. Banyak sekali pekerjaan yang sudah aku kerjakan hari ini. Apalagi ditambah dengan Mila. Aku sudah mendapatkan informasinya. Tapi aku belum baca sepenuhnya. Dia sering bermasalah sama juragan lainnya," jelas Adinda.
"Ya udah kalau begitu. Mending kamu berikan saja kepada ayah dan ibu. Nanti mereka tahu kok siapa Mila sebenarnya. Kalau mereka nggak mau memecatnya. Biar aku saja yang memecatnya. Kalau dia nggak mau. Kita bisa lapor ke aparat setempat," ucap Budiman yang mengajak Adinda keluar.
"Apakah kakak berani melakukannya?" tanya Adinda dengan serius.