Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 105



"Kamu enggak tahu rasanya bagaimana?" tanya Budiman yang segera menjauhi Adinda.


"Ya... jelaskan bagaimana rasanya? Masa kamu enggak amu menjelaskan rasanya ke aku?" tanya Adinda.


Budiman langsung merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Ia semakin bingung dengan pertanyaan Adinda.


"Hmmmp... apakah kamu ingin menggodaku?' tanya Budiman.


"Rasanya aku tidak perlu menggodamu. Atau kita langsung praktek saja ya? Kalau teori itu rasanya aneh," jawab Adinda yang sengaja tidak memakai baju sama sekali.


"Iya sih. Tapi jangan sekarang. Sebentar lagi akan magrib," ucap Budiman yang masih sabar menunggu Adinda memakai baju.


Adinda sengaja mendekati Budiman sambil mendekapnya dari belakang. Budiman merasakan getaran demi getaran di dalan tubuhnya. Ia tidak menyangka kalau sang istri sudah seberani ini menggodanya. Mana lagi Adinda masih berbalutkan handuk.


"Din," panggil Budiman yang sudah mulai panas dingin.


"Apa yang?" tanya Adinda sambil menghembuskan nafasnya tepat berada di leher Adinda.


"Hmmp... tolonglah aku Tuhan. Sebentar lagi mau Magrib. Kalau seperti ini. Imanku akan luntur seketika," batin Budiman yang tidak kuat menahan hasratnya untuk bercinta.


"Yang... nanti malam mau makan apa?" tanya Adinda sambil tersenyum renyah.


"Hmmp... makan kamu kayaknya," jawab Budiman.


"Sepertinya kamu salah makan tadi," celetuk Adinda yang membuat Budiman semakin pucat.


"Aku enggak salah makan. Kamu tahukan kalau aku makan mie ramen berbagai topping," ucap Budiman yang membuat Adinda menganggukan kepalanya.


"Rasanya aku terjebak dech dalam lingkaran ini. Bagaimana cara melepaskan Budiman?" tanya Adinda dalam hati.


"Kak," panggil Adinda yang mulai menurunkan tangannya ke area sensitif milik Budiman.


"Apa?" tanya Budiman mulai diam membeku.


"Sekarang sudah impas ya? Tadi kamu sudah menggodaku.Sekarang ku gantian menggodamu," jawab Adinda sambil berbisik manja.


"Apa?" pekik Budiman yang membuat Adinda tertawa.


Budiman merasakan kepalanya pusing setengah mati. Ia sudah tidak bisa menahan hasratnya. Kemudian Budiman langsung membalikkan badannya sambil tersenyum licik.


"Kamu telah membuat tongkat saktiku berdiri dengan sempurna. Sepertinya kamu harus bertanggung jawab," bisik Budiman.


"Kenapa aku harus tanggung jawab?" tanya Adinda yang berusaha menghindari Budiman.


"Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Kamu telah membuat hasratku semakin menjadi," jawab Budiman.


"Oh... Tuhan... Ini sangat aneh sekali. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus menghindarinya? Aku telah membuat tongkat saktinya berdiri," ucap Adinda dalam hati.


"Enggak aneh yang. Kamu harus tanggung jawab," bisik Budiman yang membuat Adinda kebingungan.


Tak lama Budiman segera melepaskan handuk Adinda. Ia melihat tubuh Adinda dengan sempurna. Dengan senyumnya yang smirk, Budiman langsung melemparkan tubuh Adinda di ranjangnya. Saat itu juga Budiman segera menghajar Adinda.


Di kamar, Kamila sedang menunggu kedatangan Adinda. Wanita paruh baya itu gelisah karena ada yang mau dibicarakan. Akan tetapi Kamila tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka.


"Duh, ke mana saja itu Adinda? Dari tadi kok nggak keluar-keluar juga. Apakah Adinda terjebak dengan Budiman?" tanya Kamila dalam hati.


Kamila keluar dari kamarnya lalu mencari keberadaan Adinda. Biasanya Adinda sedang duduk di ruang tamu bersama Andara. Akan tetapi Kamila tidak menemukan Adinda sama sekali.


Terpaksa Kamila naik ke atas untuk menuju ke kamar Budiman. Kamila memang sengaja mengajak Adinda untuk sholat magrib bersama.


Sesampainya di atas, Kamila mendekati kamar Budiman. Tidak sengaja Kamila mendengar suara des*han demi des*han dari kamar Budiman. Kamila menepuk jidatnya lalu pergi meninggalkan kamar tersebut. Ia membiarkan sang anak sedang menikmati hari-hari bahagianya. Ia berharap akan ada kehadiran seorang bocah kecil dari mereka berdua.


Selesai melakukan permainan di atas ranjang, Adinda teringat dengan permintaan Kamila. Jujur, tubuh Adinda sangat capek sekali. Meskipun satu ronde, Budiman terlalu ganas untuk melakukannya. Budiman segera memakai baju dan tersenyum iblis menatap Adinda.


"Bagaimana?" tanya Budiman sambil menyempitkan matanya.


"Apanya yang bagaimana?" tanya Adinda balik yang tidak bisa bangun dari ranjang.


"Betapa kasarnya ini orang kalau bermain. Tubuhku remuk sekali. Terus aku harus mengadu kepada siapa?" tanya Adinda dalam hati.


"Nggak perlu mengadu seperti itu. Lagian juga itu salahmu. Kalau kamu mengadu kepada Mama ataupun ibumu. Mereka berdua akan mendukungku untuk melakukannya lagi lagi dan lagi," jawab Budiman yang mendengar isi hati Adinda.


"Kamu bisa mendengar apa kata hatiku?" tanya Adinda yang berusaha bangun dan meraih pakaiannya.


"Ya tahulah," jawab Budiman lalu menuju ke toilet dan membersihkan tubuhnya.


Melihat Budiman masuk ke dalam toilet, Adinda hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak? Dengan santainya Budiman tidak memiliki rasa bersalah kepada dirinya. Ingin marah juga percuma. Semuanya itu adalah salahnya sendiri. Andai saja ia tidak menggoda Budiman. Pasti tidak akan terjadi seperti ini.


Dalam hitungan menit, Budiman langsung keluar sambil hanya memakai boxer saja. Budiman segera membuka lemari dan mencari keberadaan pakaiannya. Setelah itu Budiman memandang Adinda lalu berkata, "cepatlah kamu bangun. Sebentar lagi adzan maghrib akan tiba. Kita sholat bersama-sama."


Adinda pun menuruti keinginan Budiman. Setelah itu Adinda berdiri dan langsung meninggalkan Budiman. Hanya satu ronde saja Budiman sudah kegirangan seperti ini. Budiman tidak marah dan mengumpati sang istri. Ia malah senang dan membiarkan Adinda melakukannya.


"Semuanya itu natural sekali. Dia memang sengaja membahagiakanku melalui dari hati kecilnya. Tapi jika aku bersama Kanaya. Rasanya sangat beda sekali. Ketulusan Adinda bisa melunturkan sifat aroganku ini. Namun Kanaya berbeda jauh. Sifat arogan ku malah bertambah. Aku sering menginjak-nginjak karyawan dan karyawati itu sendiri di kantor maupun pabrik. Apakah aku memang sangat beruntung sekali mendapatkan Adinda? Jawabannya iya. Aku sangat beruntung sekali mendapatkannya. Thanks istri kecilku. Jangan pernah menyerah untuk mendampingiku," ucap Budiman dalam hati.


Hampir 10 menit Adinda membersihkan tubuhnya. Adinda langsung keluar dan memakai baju pemberian dari Budiman. Kemudian Adinda mengajak Budiman keluar dari kamar.


"Ayo kita cari Mama terlebih dahulu. Soalnya aku udah janji sholat berjamaah,* ajak Adinda.


Budiman hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Adinda. Lalu mereka langsung mengetuk pintu kamar Kamila. Tak selang berapa lama kemudian, Kamila keluar. Kamila segera melihat rambut Budiman bersama Adinda basah semua. Wanita paruh baya itu pun harus mengucapkan apa? Bahagia atau sedih melihat mereka berdua.


"Kamu ini lho. Sudah masuk magrib kok malah bermain aneh-aneh. Ya mbok yang namanya magrib itu duduk manis di ruang tamu. Nunggu azan maghrib sambil ngobrol bersama mama," kesal Kamila.


"Pak Budiman langsung menyekap aku di dalam kamar ma. Aku nggak bisa keluar dan bingung. Terpaksa aku menjadi sanderanya hanya sebentar saja," ucap Adinda yang sengaja memutar balikan fakta.


"Apakah itu benar? Rasanya ini sangat aneh sekali. Dulu Kalian sering berantem udah kayak Tom and Jerry. Sekarang kalian deket kayak lem sama perangko. Andai saja kalau papamu tahu itu. Pasti kamu mendapatkan hukuman," sahut Kamila dengan mata menyala.


"Ceritanya itu bukan aku ma yang duluan. Tuh menantu mama yang sudah membuat Budiman tidak berdaya di dalam kamar. Dengan terpaksa aku mengurungnya untuk beberapa saat," tunjuk Budiman ke arah Adinda sambil meledek sang istri kecilnya itu.


"Apa?" pekik Adinda yang tidak terima dengan Budiman.