
“Aku ikut kalian,”
jawab Andara.
“Ayo,” ajak Budiman
sambil menarik tangan Adinda.
Budiman mengajak Adinda
beserta Andara dan Tio ke suatu tempat. Ia sudah muak dengan keadaan tadi.
Bagaimana bisa seorang Rizal masih mencintai istrinya? Budiman tidak rela jika
Rizal masih mencintainya. Bahkan dirinya akan mempertahankan apa yang sudahh
menjadi hah miliknya itu.
Disisi lain, Adinda
merasakan hal yang sama. Ia tidak akan mungkin berkhhianat kepada keadaan. Jika
saja Rizal masih berada di Indonesia dan tidak akan pergi meninggalkannya,
kemungkinan besar dirinya tidak akan pernah menikahi Budiman. Ia akan
mendampingi Rizal kemanapun Rizal pergi.
Keadaannya semakin
berbanding terbalik. Ia tidak ingin mengkhhianati Budiman. Memang benar pepatah
jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino. Awalnya Adinda tidak
mengakui kalau dirinya jatuh cinta sama Budiman. Ia sengaja memendam rasa ini
tanpa Budiman tahu. Ia tidak ingin Budiman tahu. Ia akan menggantinyha dengan
sikap dan perhatian yang akan membuat Budiman semakin bersemangat untuk
menjalani hari sepanjang hidupnya.
Sesampainya di area
parkir, Budiman mengajak Adinda bersama Andara pergi ke suatu tempat. Ia tidak
ingin hadir dalam pernikahan ini. Jujur selama ini, ia tidak ingin
menghancurkan hubungan keluarga besar. Ia hanya ingin menjalin hubungan ini
semakin kuat. Ia juga sengaja membawa Adinda ke keluarga besarnya untuk
diperkenalkan oleh semua orang termasuk ke keluarganya.
“Kakak, enggak pergi ke
pernikahan Kakak Al?” tanya Andara yang tidak sengaja melihat keadaan jalanan
yang menunjukkan ke arah lain.
“Hati kakak hancur.
Kakak enggak ingin hadir dalam pernikahan itu. Kakak juga tidak ingin menghancurkan
hubungan kekeluargaan,” jelas Budiman.
“Kalau dipikir-pikir
memang benar. Kejadian tadi bisa memmbuat hubungan keluarga hancur berantakan.
Tapi ya enggak gini kali. Kita hadir terlebih dahulu dan menyetor wajah. Agar
tidak dikaatakan sombong,” sambung Adinda yang sengaja memberikan ide untuk
Budiman.
“Untuk saat imni aku
akan menata hati. Aku tidak ingin menghancurkan hubungan kekeluargaan. Kamu pasti
enggak tahhu, kalau Rizal memiliki perangai yang cukup buruk. Sebenarnya Rizal
itu memiliki ambisi yang cukup kuat. Apa yang akan menjadi miliknya, maka dia ingin
mendapatkan walau harus menyingkirkan setiap orang yang berada di sekitarnya,’’
Budiman sengaja membuka kartu as milik Rizal.
“Yang dikatakan itu
benar. Aku juga merasakan hal yang sama. Dahulu aku pernah terkena imbasnya.
Jujur gara-gara dia, aku pernah terkena masalah besar. Jika saja pada waktu itu
tidak ada Herman, aku sudah masuk ke dalam penjara,” tambah Tio.
“Apakah itu benar?”
tanya Andara yang tidak mengetahui masalah sebenarnya.
“Ya itu benar.
Berhubung dia masih menjadi satu gang, dengan terpaksa aku memaafkanya,” jawab
Tio.
“Oh, kasus tentang
sajam itu? Paman Herman cerita sama aku tentang kasus itu. Padahal yang memasukkan
benda tersebut adalah Rizal sendiri. Untung saja Paman Herman mengetahuinya
terlebih dahulu,” jelas Adinda.
“Kok jahat banget sih
Kak Rizal?” tanya Andara.
“Ya... kamu enggak bisa
ngomong seperti itu. Kami itu memang nakal dan enggak suka tawuran. Kalau ada
yang mengajak tawuran, kami selalu menghadapinya,” jawab Tio.
Mereka hanya
menganggukkan kepalanya. Sebenarnya yang salah disini adalah Rizal. Kenapa juga
Tio membelanya? Mungkinkah ini namanya persahabatan. Meskipun membuat semua
orang kesal?
“Kita enggak izin
terlebih dahulu?” tanya Adinda.
“Ngapain juga kita
harus meminta izin terlebih dahulu? Biasanya aku selalu pergi meninggalkan
mereka jika ada masalah. Baru besoknya kita akan menemui mereka,” jawab Budiman
yang sengaja tidak ingin bertemu dengan Rizal.
“Dasar kamu ya? Padahal
aku sudah bersiap berdandan cantik seperti ini,” kesal Adinda.
pada kendaraannya. Ia sengaja menahan tawanya agar tidak meledak dan membiarkan
mobil ini bisa berjalan dengan lurus.
“Ya nich, kakak.
Harusnya kakak memamerkan kalau istrinya sangat cantik sekali,” kata Andara
yang mendukung Adinda. “Jarang-jarang loh, Adinda berdandan ala feminim seperti
ini.”
Tak sengaja Budiman
mengerem mendadak. Adinda yang berada di depan hampir saja terjungkal karena
Budiman. Ia segera menatap wajah Budiman dengan tatapan horor.
“Kenapa kamu berhenti
mendadak seperti itu?” tanya Adinda.
“Aku tidak sengaja
mendengar apa yang dikatakan oleh Andara. Kalau kamu jarang sekali berdandan
seperti ini,” jawab Budiman yang menatap wajah Adinda yang membuat jantungnya
berdetak kencang.
Adinda menganggukan
kepalanya. Ia memang mengakui kalau dirinya jarang sekali berdandan. Bukannya
tidak mau, ia memang sengaja tampil apa adanya.
“Kenapa kamu tidak
berdandan seperti ini?” tanya Budiman.
“Karena aku memang
sengaja menyembunyikannya. Jika aku memiliki seorang suami, aku akan berdandan
seperti ini setiap hari. Berhubung aku memiliki suami sekarang, aku akan berdandan
seperti ini setiap hari,” jawab Adinda yang tersenyum manis.
“Sebaiknya Kak Adinda
tidak perlu berdandan seperti ini dech,” celetuk Andara yang membuat Budiman
dan Tio mengerutkan keningnya. “Jika kakak iparku berdandan seperti ini, banyak
sekali para pria yang ingin mengajak Kak Adinda berkencan bahkan melamarnya.”
“Apa?” pekik Budiman
yang terkejut dengan pernyataan Andara.
“Ya... itu benar.
Sampai-sampai Ayah Malik samppai kelimpungan menghadapi mereka,” jelas Andara.
“Yang dikatakan oleh
Andara itu benar. Aku sering banget mendapati banyak pria yang mendatangi
Adinda yang ingin mengajaknya menikah. Mereka tidak tanggung-tanggung untuk
memberikan banyak mahar yang cukup gila,” ucap Tio yang membenarkan perkataan
Andara.
Jantung Budiman
berdenyut dengan hebat. Ia tidak menyangka kalau sang istri banyak yang
menginarnya. Ia tidak akan rela jika melepaskan Adinda begitu saja. Karena
Adinda, Budiman bangkit dari keterpurukan.
“Lebih baik kamu jangan
dandan seperti itu. Aku tidak akan mengizinkan kamu berdandan seperti itu.
Karena kamu adalah milikku seorang,” segah Budiman yang gelisah.
“Ternyata Kak Budiman
bucin ya sama Adinda? Coba dulu kalau ketemu sudah mirip sekali seperti Tom And
Jerry. Bahkan selalu menyerang Adinda melalui sosial media,” jelas Andara yang
meledek Budiman.
“Kamu itu enggak malah
mendukung kakak. Malahan membuka kartu kakak. Lagian juga sering terpampang
jelas wajahnya di berbagai media. Aku ingin melihat wajahku enggak bisa
ditemukan sama seklai,” kesal Budiman terhadap Andara.
Mereka pun tertawa
terbahak-bahak karena melihat Budiman yang kesal. Jujur hari ini adalah hari
yang sangat nembahagiakan kepada mereka. Meskipun kesal, hati mereka sangat
bahagia sekali.
“Bagaimana dengan
Rizal?” tanya Tio.
“Biarkan Rizal
mengurusi masalah pribadinya sendiri. Kita tidak perlu ikut-ikutan dalam ikatan
pernikahan Rizal dan Yuki,” jawab Budiman dengan bijak.
“Setelah ini kita
kemana?” tanya Andara.
“Kita akan menghabiskan
waktu di pinggir pantai” jawab Budiman yang segera menancapkan gasnya menuju ke
arah pantai.
“Pantai mana sih?”
tanya Andara yang sangat penasaran sekali.
“Ada deh. Nanti kalau
sudah sampai kamu tahu sendiri,” jawab Budiman yang sering memberikan teka-teki
buat Andara.
“Kok aku menjadi
penasaran sekali sih?” tanya Andara.