Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 206



“Aku ikut kalian,”


jawab Andara.


“Ayo,” ajak Budiman


sambil menarik tangan Adinda.


Budiman mengajak Adinda


beserta Andara dan Tio ke suatu tempat. Ia sudah muak dengan keadaan tadi.


Bagaimana bisa seorang Rizal masih mencintai istrinya? Budiman tidak rela jika


Rizal masih mencintainya. Bahkan dirinya akan mempertahankan apa yang sudahh


menjadi hah miliknya itu.


Disisi lain, Adinda


merasakan hal yang sama. Ia tidak akan mungkin berkhhianat kepada keadaan. Jika


saja Rizal masih berada di Indonesia dan tidak akan pergi meninggalkannya,


kemungkinan besar dirinya tidak akan pernah menikahi Budiman. Ia akan


mendampingi Rizal kemanapun Rizal pergi.


Keadaannya semakin


berbanding terbalik. Ia tidak ingin mengkhhianati Budiman. Memang benar pepatah


jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino. Awalnya Adinda tidak


mengakui kalau dirinya jatuh cinta sama Budiman. Ia sengaja memendam rasa ini


tanpa Budiman tahu. Ia tidak ingin Budiman tahu. Ia akan menggantinyha dengan


sikap dan perhatian yang akan membuat Budiman semakin bersemangat untuk


menjalani hari sepanjang hidupnya.


Sesampainya di area


parkir, Budiman mengajak Adinda bersama Andara pergi ke suatu tempat. Ia tidak


ingin hadir dalam pernikahan ini. Jujur selama ini, ia tidak ingin


menghancurkan hubungan keluarga besar. Ia hanya ingin menjalin hubungan ini


semakin kuat. Ia juga sengaja membawa Adinda ke keluarga besarnya untuk


diperkenalkan oleh semua orang termasuk ke keluarganya.


“Kakak, enggak pergi ke


pernikahan Kakak Al?” tanya Andara yang tidak sengaja melihat keadaan jalanan


yang menunjukkan ke arah lain.


“Hati kakak hancur.


Kakak enggak ingin hadir dalam pernikahan itu. Kakak juga tidak ingin menghancurkan


hubungan kekeluargaan,” jelas Budiman.


“Kalau dipikir-pikir


memang benar. Kejadian tadi bisa memmbuat hubungan keluarga hancur berantakan.


Tapi ya enggak gini kali. Kita hadir terlebih dahulu dan menyetor wajah. Agar


tidak dikaatakan sombong,” sambung Adinda yang sengaja memberikan ide untuk


Budiman.


“Untuk saat imni aku


akan menata hati. Aku tidak ingin menghancurkan hubungan kekeluargaan. Kamu pasti


enggak tahhu, kalau Rizal memiliki perangai yang cukup buruk. Sebenarnya Rizal


itu memiliki ambisi yang cukup kuat. Apa yang akan menjadi miliknya, maka dia ingin


mendapatkan walau harus menyingkirkan setiap orang yang berada di sekitarnya,’’


Budiman sengaja membuka kartu as milik Rizal.


“Yang dikatakan itu


benar. Aku juga merasakan hal yang sama. Dahulu aku pernah terkena imbasnya.


Jujur gara-gara dia, aku pernah terkena masalah besar. Jika saja pada waktu itu


tidak ada Herman, aku sudah masuk ke dalam penjara,” tambah Tio.


“Apakah itu benar?”


tanya Andara yang tidak mengetahui masalah sebenarnya.


“Ya itu benar.


Berhubung dia masih menjadi satu gang, dengan terpaksa aku memaafkanya,” jawab


Tio.


“Oh, kasus tentang


sajam itu? Paman Herman cerita sama aku tentang kasus itu. Padahal yang memasukkan


benda tersebut adalah Rizal sendiri. Untung saja Paman Herman mengetahuinya


terlebih dahulu,” jelas Adinda.


“Kok jahat banget sih


Kak Rizal?” tanya Andara.


“Ya... kamu enggak bisa


ngomong seperti itu. Kami itu memang nakal dan enggak suka tawuran. Kalau ada


yang mengajak tawuran, kami selalu menghadapinya,” jawab Tio.


Mereka hanya


menganggukkan kepalanya. Sebenarnya yang salah disini adalah Rizal. Kenapa juga


Tio membelanya? Mungkinkah ini namanya persahabatan. Meskipun membuat semua


orang kesal?


“Kita enggak izin


terlebih dahulu?” tanya Adinda.


“Ngapain juga kita


harus meminta izin terlebih dahulu? Biasanya aku selalu pergi meninggalkan


mereka jika ada masalah. Baru besoknya kita akan menemui mereka,” jawab Budiman


yang sengaja tidak ingin bertemu dengan Rizal.


“Dasar kamu ya? Padahal


aku sudah bersiap berdandan cantik seperti ini,” kesal Adinda.


pada kendaraannya. Ia sengaja menahan tawanya agar tidak meledak dan membiarkan


mobil ini bisa berjalan dengan lurus.


“Ya nich, kakak.


Harusnya kakak memamerkan kalau istrinya sangat cantik sekali,” kata Andara


yang mendukung Adinda. “Jarang-jarang loh, Adinda berdandan ala feminim seperti


ini.”


Tak sengaja Budiman


mengerem mendadak. Adinda yang berada di depan hampir saja terjungkal karena


Budiman. Ia segera menatap wajah Budiman dengan tatapan horor.


“Kenapa kamu berhenti


mendadak seperti itu?” tanya Adinda.


“Aku tidak sengaja


mendengar apa yang dikatakan oleh Andara. Kalau kamu jarang sekali berdandan


seperti ini,” jawab Budiman yang menatap wajah Adinda yang membuat jantungnya


berdetak kencang.


Adinda menganggukan


kepalanya. Ia memang mengakui kalau dirinya jarang sekali berdandan. Bukannya


tidak mau, ia memang sengaja tampil apa adanya.


“Kenapa kamu tidak


berdandan seperti ini?” tanya Budiman.


“Karena aku memang


sengaja menyembunyikannya. Jika aku memiliki seorang suami, aku akan berdandan


seperti ini setiap hari. Berhubung aku memiliki suami sekarang, aku akan berdandan


seperti ini setiap hari,” jawab Adinda yang tersenyum manis.


“Sebaiknya Kak Adinda


tidak perlu berdandan seperti ini dech,” celetuk Andara yang membuat Budiman


dan Tio mengerutkan keningnya. “Jika kakak iparku berdandan seperti ini, banyak


sekali para pria yang ingin mengajak Kak Adinda berkencan bahkan melamarnya.”


“Apa?” pekik Budiman


yang terkejut dengan pernyataan Andara.


“Ya... itu benar.


Sampai-sampai Ayah Malik samppai kelimpungan menghadapi mereka,” jelas Andara.


“Yang dikatakan oleh


Andara itu benar. Aku sering banget mendapati banyak pria yang mendatangi


Adinda yang ingin mengajaknya menikah. Mereka tidak tanggung-tanggung untuk


memberikan banyak mahar yang cukup gila,” ucap Tio yang membenarkan perkataan


Andara.


Jantung Budiman


berdenyut dengan hebat. Ia tidak menyangka kalau sang istri banyak yang


menginarnya. Ia tidak akan rela jika melepaskan Adinda begitu saja. Karena


Adinda, Budiman bangkit dari keterpurukan.


“Lebih baik kamu jangan


dandan seperti itu. Aku tidak akan mengizinkan kamu berdandan seperti itu.


Karena kamu adalah milikku seorang,” segah Budiman yang gelisah.


“Ternyata Kak Budiman


bucin ya sama Adinda? Coba dulu kalau ketemu sudah mirip sekali seperti Tom And


Jerry. Bahkan selalu menyerang Adinda melalui sosial media,” jelas Andara yang


meledek Budiman.


“Kamu itu enggak malah


mendukung kakak. Malahan membuka kartu kakak. Lagian juga sering terpampang


jelas wajahnya di berbagai media. Aku ingin melihat wajahku enggak bisa


ditemukan sama seklai,” kesal Budiman terhadap Andara.


Mereka pun tertawa


terbahak-bahak karena melihat Budiman yang kesal. Jujur hari ini adalah hari


yang sangat nembahagiakan kepada mereka. Meskipun kesal, hati mereka sangat


bahagia sekali.


“Bagaimana dengan


Rizal?” tanya Tio.


“Biarkan Rizal


mengurusi masalah pribadinya sendiri. Kita tidak perlu ikut-ikutan dalam ikatan


pernikahan Rizal dan Yuki,” jawab Budiman dengan bijak.


“Setelah ini kita


kemana?” tanya Andara.


“Kita akan menghabiskan


waktu di pinggir pantai” jawab Budiman yang segera menancapkan gasnya menuju ke


arah pantai.


“Pantai mana sih?”


tanya Andara yang sangat penasaran sekali.


“Ada deh. Nanti kalau


sudah sampai kamu tahu sendiri,” jawab Budiman yang sering memberikan teka-teki


buat Andara.


“Kok aku menjadi


penasaran sekali sih?” tanya Andara.