
"Tapi dia bohong," seru Kanaya sambil menunjuk Adinda.
"Bohong dari mana? aku sudah mendapatkan banyak bukti tentangmu. Lalu kamu belajar untuk mencoba tidak mengelak begitu ya. Pintar sekali kamu menjadi orang. Aku tidak bisa membayangkan Bagaimana akhir kisahmu dengan Budiman? Apalagi kamu sudah memiliki seorang suami dan bayi kembar. Rasanya itu sangat lucu sekali. Kalau aku sebagai Budiman tidak akan pernah mau lagi menjadikanmu sebagai kekasih. Pikir deh pakai logika. Pria mana yang mau diduakan seperti itu? Meskipun pria itu bodoh dan tidak bisa ngapa-ngapain. Pria itu akan berpikir berulang kali. Sudahlah Kanaya... Nggak usah lagi mengganggu Budiman. Karena Budiman adalah suamiku. Dia berhak hidup bersama istrinya. Dia juga berhak menyalurkan hasratnya kepada istrinya. Sejujurnya aku malas bertemu denganmu. Tapi berhubung kamu di sini ya sudahlah. Aku memang ingin membuat kamu malu. Ternyata kamu wanita yang tidak punya malu sama sekali. Malahan kamu ingin merebut suami orang hanya dijadikan sebuah boneka. Pintar memang otakmu itu. Ya sudahlah. Aku akan memberikan pilihan untuk Budiman. Kalau dia memilihku berarti akan tinggal bersamaku selamanya. Jika dia memilihmu, tinggalkan saja dia. Ingatlah ada Gilang di dalam rumahmu itu. Dan ingat juga anak-anakmu itu yang sedang membutuhkanmu," ungkap Adinda yang membuatkan semua informasi di hadapan Budiman.
Wanita itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Iya tidak mungkin bisa membalas Adinda lagi. Di dunia bisnis nama Adinda sangat bersih tanpa tercemar apapun. Sedangkan nama Kanaya adalah seorang penipu. Bisa dikatakan para pembisnis sudah mengetahui sepak terjangnya.
"Oh iya Nay... Sekarang kamu angkat kaki dari apartemen ini. Sebentar lagi apartemen ini akan aku berikan kepada Adinda," ucap Budiman dengan serius.
Kanaya menjatuhkan dirinya sambil menundukkan wajahnya. Gara-gara Adinda, identitas dan rencana Kanaya terbongkar semua.
"Nggak usah menyesal seperti itu. Kalau kamu mau balas dendam bersama Gilang okelah. Aku tunggu dendammu itu. Aku sendiri Memang ingin membuat huru-hara. Oh iya aku baru ingat," ucap Adinda yang membuat tangan Kanaya mengepal.
"kamu menyuruh Budiman Untuk menghentikan tender besar yang berada di tanganku kan? Semuanya sudah terbaca jelas di wajahmu itu. Maaf aku telah mengetahuinya terlebih dahulu. Oh iya... Aku hampir lupa dengan suamimu itu. Cepat atau lambat suamimu akan menderita karena aku. Kamu tahu kenapa kok bisa menderita seperti itu? Karena dia telah mengusik tender besarku itu. Sekarang pergilah adukan semua kepada Gilang. Katakan semuanya kalau aku sama Budiman telah bersatu!" tegas Adinda sambil mengusir Kanaya dari apartemen ini.
Dengan cepat Kanaya meninggalkan apartemen ini. Ia segera menuju ke area parkir sambil mengomel habis-habisan. Bahkan ia juga melontarkan sumpah serapah kepada Adinda. Ditambah lagi ia mengumpati Adinda dengan nama para penghuni kebun binatang.
Melihat kepergian Kanaya, mata Adinda menoleh ke Budiman. Ia hanya mengetikkan bahunya dan meninggalkannya. Lalu bagaimana dengan Budiman? Adinda memilih memasak ketimbang harus berdebat dengan Budiman.
"Din," panggil Budiman lalu menuju ke dapur.
"Ada apa lagi sih?" tanya Adinda.
"Jangan pergi ya," jawab Budiman sambil meminta Adinda agar tidak pergi dari hidupnya.
"Ini orang terkena setan apa ya?"
"Aku sedang tidak terkena setan apa-apa."
"Terserahlah. Jangan ganggu aku!"
"Kenapa aku tidak boleh mengganggumu?"
"Jangan sampai spatula ini terbang ke arahmu!" tegas Adinda yang sedang memegang spatula.
"Waduh... Ternyata istriku galak sekali," ledek Budiman yang segera pergi meninggalkan Adinda.
Pagi ini Adinda langsung memasak menu sederhana yaitu nasi goreng. Adinda tersadar Kalau hari ini ada pertemuan antara Kartolo dan juga Malik. Namun dirinya sedang terkurung oleh ulah Budiman. Ia akan mencari cara agar keluar dari apartemen ini.
Di tempat lain, Budiman menghubungi Malik agar tidak mencabut fasilitasnya. Namun apa daya, cepat jam 12.00 malam seluruh fasilitasnya dicabut keseluruhannya. Hampir saja Budiman terkena serangan jantung. Barang-barang yang dimilikinya harus dilepaskan begitu saja. Kecuali apartemen dan mobil mewahnya itu. Bisa dikatakan kalau Budiman hari ini sudah jatuh miskin.
Budiman akhirnya berdiri dan menuju ke dapur. Dengan wajah sendunya, Budiman menghempaskan bokongnya lalu menatap Adinda sedang memasak. Ia memutuskan untuk tidak berbicara sepatah kata pun. Jujur istri kecilnya itu sedang mengalami mode galak.
Selang beberapa menit, nasi goreng buatan Adinda telah jadi. Ia langsung membaginya menjadi dua. Setelah selesai membagi nasi goreng itu, Adinda menyodorkan ke arah Budiman.
"Din," panggil Budiman.
"Kenapa?" tanya Adinda yang menaruh wajan di wastafel.
"Aku jatuh miskin Din," jawab Budiman.
"Ternyata benar. Ancaman Papa Kartolo sedang dilaksanakan," ucap Adinda dalam hati.
"Kamu nggak mau berjuang sama aku?"
"Tergantung kamunya. Kamu pilih aku oke. Kalau kamu pilih orang lain nggak apa-apa."
"Apakah kamu tidak bisa mempertahankan pernikahan ini?"
"Kenapa juga harus bertahan dengan orang yang tidak mencintaiku?"
"Cinta itu akan hadir dengan sendirinya."
"Aku tahu cinta itu akan hadir dengan sendirinya. Tapi aku nggak yakin sama kamu. Kamu orangnya tidak memiliki prinsip apapun."
Mendengar perkataan Adinda, Budiman sangat marah sekali. Budiman berdiri dan mendekati Adinda. Dengan wajah penuh amarah, Budiman menarik tangan Adinda lalu mengajaknya ke kamar.
Sedangkan Adinda, Adinda mencoba berontak untuk lepas dari Budiman. Namun Adinda tidak bisa melepaskannya sama sekali. Sebab tenaga Budiman lebih besar ketimbang Adinda.
Sesampainya di kamar Budiman melemparkan Adinda ke ranjang king size-nya itu. Budiman membuka seluruh pakaiannya lalu naik ke atas ranjang. Ia memegang baju Adinda kemudian merobeknya. Adinda masih berontak agar bisa lepas dari Budiman. Namun Budiman sangat beringas dan tidak akan mau melepaskan Adinda begitu saja.
"Apa yang kamu katakan Adinda?" tanya Budiman.
"Memang kenyataannya Kamu orangnya begitu," jawab Adinda yang ternyata dirinya sangat ketakutan sekali.
Meskipun dirinya berkata jujur, Adinda sudah masuk ke dalam kandang macan. Sang pria arogan itu telah membuatnya tidak berdaya. Adinda mulai berontak namun Budiman telah menguncinya.
"Lepaskan aku!" teriak Adinda.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu telah membuatku menjadi pria gila," ucap Budiman sambil menatap wajah Adinda.
"Kamu itu selalu gila setiap hari. Lebih baik kamu lepaskan aku. Ketimbang aku adukan kelakuanmu kepada papamu itu," ancam Adinda yang tidak main-main terhadap Budiman.
"Kamu itu bodoh ya... Bukankah kita sudah menikah? Jadi wajar jika aku mengajakmu melakukan ritual pasangan suami istri," sahut Budiman sambil tersenyum iblis.
"Jangan pernah lakukan itu kepadaku."
"Aku akan tetap melakukannya. Cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku selamanya."
"Aku nggak mau."
"Kamu harus mau!"
"Aku nggak mau."
"Kamu harus mau!"
"Lepaskan aku! Aku ingin menghubungi ayahku."
"Kenapa juga kamu ingin menghubungi ayahmu?"