Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 143



Sementara itu Herman sedang membaca berulang kali tentang artikel tersebut. Ia baru menyadari kalau dirinya membaca sebuah perjanjian yang telah ditulis oleh Gilang dan juga Husein sang kakak. Ia mengerutkan keningnya dan menatap bintang di langit. Ternyata selama ini sang kakak tidak mengetahui tentang kecurangan yang sudah dibuat oleh Gilang.


Beberapa saat kemudian datang Malik sambil membawa soft drink dua kaleng menaruhnya di atas meja. Ia segera menghempaskan bokongnya sambil memperhatikan sang adik.


“Kamu kenapa menatap langit dengan serius?” tanya Malik sambil membuka soft drink tersebut.


“Kak gedung yang berada di pusat kota itu apakah masih milik Adinda?” tanya Herman balik.


“Seumur hidup gedung itu masih milik Adinda. Aku belum memberitahukannya tentang kado ulang tahunnya itu. Jika Adinda sudah kembali dari Anyer, aku akan memberitahukannya semua. Karena aku sendiri tidak mengatakannya secara jujur atas kado tersebut,” jawab Malik yang meminum soft drink tersebut sedikit.


“Masalahnya hanya satu Kak. Beberapa tahun yang lalu gedung itu disewa oleh gilang Untuk membangun perusahaannya. Dia hanya membayar satu tahun ketika sudah ditempati. Empat tahun belakangan ini Gilang tidak pernah membayarnya sama sekali. Hingga Gilang menunggak semuanya,” jelas Herman.


“Apa maksud kamu?” tanya Malik.


“Kak Husein memberitahukan aku tentang gedung itu. Kak Husein sendiri sedang mencari cara agar Gilang mau membayar gedung itu ke rekeningnya Adinda. Aku sudah memberitahukannya ke Adinda tentang masalah pembayaran gedung itu. Jangan sampai Adinda datang ke kantor itu dan mengobrak-abrik lalu mengusir Gilang begitu saja. Adinda sangat mengerikan sekali ketimbang Budiman ketika sedang marah. Malahan Adinda sendiri bisa menghancurkan Gilang dalam waktu sekejap,” jelas Herman yang sudah mengetahui watak asli Adinda ketika sedang marah.


“Yang jadi masalah bukan Adinda saja. Kakak tahu kan selesai tentang rapat pemegang saham tadi siang?” tanya Herman yang meraih kaleng soft drink dan membukanya.


“Aku tahu itu. Adinda akan mempertahankan Budiman untuk menjadi CEO di perusahaannya sendiri. Yang jadi masalahnya adalah kedua orang tua Gilang kan. Aku mengerti watak mereka berdua. Memang sangat jago sekali ketika memprovokasi keadaan. Bahkan mereka juga berani sekali merendahkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Di matanya itu semua orang tidak ada artinya. Begitu juga dengan Gilang. Gilang juga memiliki watak yang sama dengan kedua orang tuanya. Mereka belum tahu siapa Adinda sebenarnya. Kedua orang tua kita adalah orang berpengaruh di dunia bisnis. Meskipun sudah meninggal mereka masih memiliki nama besar di dunia bisnis. Bakat bisnisnya menurun ke Adinda semuanya dan juga Faris. Jika mereka sudah bersatu maka habislah tahtah kerajaan milik Gilang sebenarnya,” ungkap Malik sambil membeberkan kenyataan yang membuat Herman tercengang.


“Masalahnya bukan itu Kak. Kalau Adinda ataupun Budiman tidak menurut. Gilang bersama kedua orang tuanya akan berbuat sesuatu yang lebih parah lagi. Siapa tahu mereka membunuh Budiman dan juga Adinda. Inilah yang sedang aku pikirkan untuk kedepannya. Aku harus memanggil Roni ataupun Irwan untuk membantu kasus ini?” tanya Herman yang meminum soft drink tersebut.


“Nggak perlu. Kamu tahu sendiri kalau kita memiliki kekuasaan yang besar di dunia bisnis. Begitu juga dengan Adinda. Meskipun putriku memiliki wajah yang ayu dan meneduhkan jiwa. Adinda akan melawan mereka habis-habisan. Adinda tidak memperdulikan akan hal itu. Sebab Adinda sendiri sudah memiliki rencana yang tersembunyi. Misi Adinda untuk menyelamatkan Budiman sudah selesai. Sekarang tinggal misi selanjutnya yang belum selesai. Yaitu merebut gedung itu dari tangan Gilang. Sebenarnya aku sudah tahu tentang gedung tersebut. Aku memang sengaja tidak menagihnya agar Gilang memiliki kesempatan untuk mencicilnya sedikit demi sedikit. Tapi tidak ada itikad yang baik. Aku sudah membicarakan semua ini dengan Kak Husein. Siapa tahu nanti ada titik terangnya. Atau juga Adinda yang menagihnya dengan cara menghancurkan gedung itu? Itu terserah Adinda sendiri,” jelas Malik yang mendapatkan persetujuan dari Herman.


“Kayaknya Adinda nggak jadi pergi ke London deh?” celetuk Herman.


“Ada apa dengan mereka yang tidak jadi pergi ke London?” tanya Malik.