
Herman sengaja duduk di tepi ranjang. Ia dirinya masih bingung dengan keadaan sebenarnya. Tangannya mulai mengepal hatinya seakan marah. Sebegitu kejamnya Netty menyakiti keluarganya. Seharusnya Netty tidak usah melibatkan kakak iparnya itu. Herman sudah menganggap kakak iparnya adalah ibu kandungnya sendiri.
Dendam!
Herman sangat dendam sekali. Ia tidak akan melepaskan Netty dan juga keluarganya dengan cuma-cuma. Ia bingung sambil menjambak rambutnya. Seketika Malik datang dan masuk ke dalam. Ia menatap wajah Malik sambil menghempaskan bokongnya di samping sang adik.
"Pak Gono sudah ditemukan. Sekarang kamu tenang saja. Nggak usah terlalu mikirin tentang Kakak iparmu itu," ucap Malik.
"Masalahnya dia adalah mantan tunanganku. Aku sendiri nggak paham apa yang telah terjadi untuk saat ini. Jadinya aku memilih untuk diam saja," ujar Harman. "Tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
"Turutilah perkataanku. Biar kasus ini ditangani oleh kak Husein. Kamu tenang saja nggak usah terlalu memikirkan lebih dalam," sahut Malik yang tidak ingin sang adik khawatir.
"Bagaimana kalau keluarganya datang?" tanya Herman. "Apalagi yang datang itu kedua orang tuanya."
"Kamu masih ingin membantu dia? Kamu masih ingin menyambung kisah cinta ini," jawab Malik sambil bertanya balik.
"Di sisi lain aku nggak tega. Mereka adalah orang yang kurang mampu," ucap Herman.
"Kamu itu jadi seorang pria lembut banget sih kayak kapas? Bisa-bisanya kamu membela mereka. Kalau kamu sudah disakiti seperti itu janganlah sekali-sekali membantunya. Kan kamu tahu sendiri dia pernah tidur bersama Budiman. Dia memang sengaja berpura-pura menjadi seorang Kanaya," jelas Malik. "Kalau aku sudah tersakiti seperti itu. Aku angkat tangan dan bilang maaf. Mana ada seorang pria yang benar-benar mengharapkan seorang wanita yang sudah tidur bersama teman baik."
"Kakak benar juga. Mungkin aku orangnya terlalu baik sama wanita. Jadinya aku sering dibuat alat sama mereka," sambung Herman.
"Untuk sementara ini kamu akan aku lempar ke daerah Manila atau Beijing. Kamu di sana lebih baik mengurus perusahaan cabang terlebih dahulu. Biar jiwamu tenang dari masalah ini. Aku tahu kedua orang tua Netty datang ke sini dan membuat drama. Mereka menangis-nangis meminta bantuanmu agar bisa melepaskan jerat hukuman yang sedang dirasakan oleh dia," tambah Malik yang benar-benar membaca kondisi kedepannya.
"Kakak bener. Aku memang benar-benar menjadi orang bodoh. Nanti kita bicarakan setelah pulang dari Singapura," ucap Herman.
"Ngapain juga membicarakan itu setelah pulang? Bukankah kamu bisa berpamitan sama Adinda dan juga Budiman? Kamu di sana hanya beberapa minggu hingga kasus ini benar-benar selesai. Aku yakin masalah ini tidak akan menjadi besar Jika kamu berada di luar negeri," ujar Malik.
Herman berpikir sejenak sambil melihat ke arah depan. Jika dirinya berada di sini, kemungkinan besar orang tuanya Netty akan datang dan memulai sebuah drama. Mereka akan memasang air mata palsu agar Harman tidak memenjarakan Netty.
"Yang kakak katakan itu benar. Aku sendiri sering mengalami hal itu. Jika ada masalah mesti datangnya ke aku. Okelah nanti kita bicarakan lebih lanjut lagi. Aku akan pergi ke Singapura pagi ini bareng Irwan dan Roni," pamit Herman.
Melihat kepergian sang kakak, Herman hanya bisa menghembuskan nafasnya. Hati Herman sangat kacau sekali. Bahkan dirinya seakan-akan mendapatkan sial bertubi-tubi.
Singapura, Singapura.
"Din," panggil Budiman.
"Ada apa kak?" tanya Adinda yang menoleh ke arah Budiman.
"Kita belum sarapan hari ini. Rizal mengajak kita sarapan di suatu tempat. Yang pastinya bukan di sini tempatnya. Rizal menghindari Gilang Untuk sementara waktu," jawab Budiman.
"Kamu nggak marah kalau kita bertemu dengan Rizal lagi?" tanya Adinda.
"Ngapain juga harus marah? Kamu sama dia udah nggak ada apa-apa kan. Kamu sudah menganggapnya sebagai kakak. Lalu masalahnya apa sekarang?" tanya Budiman balik.
"Masalahnya tidak apa-apa. Aku takut nanti kamu marah. Kamu marah itu menyeramkan buat aku," jawab Adinda sambil menundukkan wajahnya.
"Dalam kondisi seperti ini ngapain juga marah. Aku sangat berterima kasih sekali karena kamu menjadi penyelamatku. Semoga hari ini selesai dan tidak ada penghinaan dari satu keluarga ke keluarga lainnya," jelas Budiman yang mendekati Adinda dan menggenggam tangannya.
"Aku sudah siap semuanya. Aku juga akan mencari cara agar Gilang tertangkap hari ini," ucap Adinda.
"Ayolah kalau begitu. Nanti kita cari cara agar mereka tertangkap polisi," ajak Budiman.
Adinda tersenyum sambil meraih blazernya. Meskipun tidak bekerja, Adinda menjaga penampilannya agar Budiman semakin tertarik kepadanya. Memang inilah tugas seorang istri kepada suaminya.
"Sebentar Din," ucap Budiman yang berhenti sambil melepaskan knop pintunya.
"Apakah kamu jadi pergi ke sana?" tanya Adinda.