Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 31



"Anu Bu, anak-anak IT mendapatkan sebuah teror," jawab Linda yang sebenarnya panik namun disembunyikannya.


"Apa maksudmu?" tanya Adinda yang mencoba untuk tenang.


"Katanya sih, ada satu email yang mengatakan, kalau Ibu tidak melepaskan tender besar itu, mereka akan menyerang sistem keamanan perusahaan ini," jawab Linda.


"Oh jadi itu ya? Kamu tenang saja Lin. Kamu belum tahu siapa saya sebenarnya. Aku akan pergi ke ruangan IT," ucap Adinda sambil tersenyum dan mengibarkan bendera peperangan.


Adinda sekarang berjalan menuju ke ruangan IT. Linda sendiri tidak tahu kalau Adinda memiliki ilmu tentang penghackan. Sebelum masuk Adinda menghubungi Herman untuk datang ke ruangan IT.


Herman yang masih berada di ruangannya terkejut mendengar ponselnya berdering. Ia langsung melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Betapa terkejutnya Herman mendapatkan telepon dari Adinda.


"Kenapa Adinda menelponku? Bukankah ruanganku sama ruangannya berdekatan? Apakah dia pingsan karena kelelahan bekerja?" tanya Herman dalam hati sambil mengangkat ponselnya itu.


Herman lalu mengangkat ponsel itu dan menyapa Adinda. Namun Adinda dengan suara ngegasnya. Adinda menyuruhnya untuk segera pergi ke ruangan IT. Belum sempat berdiri, Adinda menyuruh Herman untuk segera datang.


Herman pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Herman membiarkan Adinda mengomeli. Sebab Herman sendiri sudah biasa mendapatkan omelan dari Adinda.


"Aya-aya wae kumaha ieu," batin Herman yang segera meninggalkan ruangannya itu.


Adinda yang sudah masuk ke dalam melihat beberapa karyawannya sudah pucat. Adinda mengerutkan keningnya lalu bertanya kepada Firman.


"Kamu kenapa Firman? Sepertinya kamu sangat pucat sekali hari ini," tanya Adinda.


"Nggak Mbak. Ini masalah gawat sekali. Sistem keamanan masih aman untuk dikendalikan. Tapi pas waktu mengecek inbox di perusahaan. Ada dua puluhan surat yang mengancam kita," jawab Firman.


"Siapa yang mengancam kita?" tanya Adinda. "Tidak ada nama. Maksudnya yang kirim itu nggak ada orangnya gitu?"


"Itu benar Mbak. Sepertinya orang itu benar-benar ingin mengancam untuk menghancurkan sistem keamanan kita," jawab Firman lagi. 


"Ya sudah. Dua jam lagi jam pulang telah tiba. setelah itu aku akan ke sini untuk membantu kalian memecahkan masalah ini," ucap Adinda dengan serius.


Ketika kembali ke ruangannya, Adinda menatap Herman yang sudah berada di ambang pintu. Adinda mendekati Herman sambil menariknya untuk pergi ke ruangannya.


"Ada apa sih Din kok heboh gini?" tanya Herman dengan serius.


"Balik dulu ke ruanganku. Ada masalah besar," jawab Adinda yang melepaskan tangan Herman ,dan meninggalkannya terlebih dahulu.


Tanpa banyak bertanya, Herman akhirnya mendekati Adinda dan masuk ke lift bersama. Mereka diam dan tidak berkata apa-apa selama di dalam lift itu. 


Setelah pintu lift terbuka, Adinda melancarkan kakinya Ke ruangannya dengan diikuti oleh Herman. Saat masuk Netty segera mendekatinya sambil berkata, "Sepertinya ada orang yang mengancam kita agar melepaskan tender baru yang bekerja sama dengan negara UK."


"Maksudnya?" tanya Herman. 


Adinda membuka pintunya dan masuk ke dalam. Sebelum bercerita ia meminum air dan menatap wajah Herman. Setelah itu Adinda bercerita, "Jadi gini, dua minggu yang lalu, aku mendapatkan tender besar yang bekerja sama dengan perusahaan makanan prajurit dari negara Inggris. Aku memenangkan tender sebesar tujuh triliun."


"Memang bagus Pak," tambah Netty. 


"Sekarang apa masalahnya?" tanya Herman. 


"Jam tiga aku sengaja turun ke bawah untuk mencari suasana baru. Sekalian aku mau beli somaynya Pak Maman. Belum sempat keluar, aku melihat Budiman sedang memarahi Melani. Aku biarkan saja. Semakin lama kok sifatnya semakin kasar kepada Melani," jawab Adinda yang menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya itu. 


"Sedari dulu memang Budiman seperti itu. Dia nggak mau disalahkan," sahut Herman yang mengetahui sifat Budiman sebenarnya. 


"Memang seperti itu. Tapi bisa nggak sih? Kalau bertamu kemanapun harus mengucapkan salam minimal nadanya tidak membentak!" kesal Adinda.


"Ya nggak gitu kali Dinda," ucap Herman. 


"Padahal teman-temanku seorang CEO nggak kasar seperti itu. Ditambah lagi dengan sifat royalnya jika sedang berkumpul rame-rame," tambah Adinda.


"Nggak gitu kali. Memang yang kamu katakan itu benar. Tapi kalau untuk Budiman itu salah besar. Siapapun orangnya meskipun mempunyai nama besar di dunia bisnis maupun dimanapun. Tetap saja salah dimatanya. Aku nggak tahu setan apa yang merasuki Budiman untuk saat ini. Padahal pas waktu kuliah Budiman nggak segalak itu orangnya. Dia adalah teman yang kocak dan konyol aslinya. Tapi aku nggak tahu kenapa dia bisa berubah drastis seperti itu?" ungkap Herman yang mengetahui sifat asli Budiman.


"Mungkin karena Kanaya kali ya?" tanya Netty yang sudah di tadi menyimak obrolan mereka.


"Kanaya? Sedari sekolah pas waktu SMA. Dia selalu saja membuat masalah besar. Aku nggak tahu apa motif dibaliknya. Hingga merusak kehidupan Budiman yang damai. Ditambah lagi dia itu paling jago untuk merayu. Sudah banyak pria yang telah dijadikan seorang kekasih," jawab Herman yang menghempaskan bokongnya di sofa.


"Berarti gawat juga. Kalau begitu Budiman berada di ambang kehancuran," sahut Adinda.


"Kamu nggak usah terlalu mikir soal Budiman. Percuma! Kalau kamu mikirin soal Budiman. Banyak jam-jam penting yang akan menjadi musuh Kamu sebenarnya," saran Herman agar Adinda tidak memikirkan Budiman.


"Ngapain coba aku mikirin dia? Lebih baik aku mikirin diriku sendiri," ucap Adinda.


"Kalau seorang suami sayang kepada istrinya. Istrinya tidak akan dibiarkan menderita seperti ini. Dia yang akan meminta istrinya untuk tetap tinggal di rumah. Sedangkan dirinya akan bekerja mati-matian untuk menghidupi sang istri. Bukan untuk mencari perempuan lain untuk dijadikan kekasih maupun pelampiasan hawa nafsu semata," jelas Netty yang juga memperingatkan Adinda agar berhati-hati kepada Budiman.


"Kamu bener. Kenapa nggak terpikirkan olehku soal begituan. Pada awal pernikahanku ini nggak sehat sama sekali. Aku menikah dengan orang yang salah," ungkap Adinda yang mencurahkan isi hatinya kepada sahabat dan pamannya itu.


"Memang kamu benar Din. Pernikahan mana yang rasanya kamu diselingkuhi sama perempuan lain. Coba kamu pikir ke situ," ujar Herman. 


"Sekarang kamu bagaimana? Aku juga sebagai teman bingung. Soalnya kamu sendiri terjebak dalam pernikahan yang menyakitkan ini," sahut Netty. 


"Aku tadi berdiskusi dengan ayah dan juga Papa. Beberapa bulan lagi aku akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan S3 ku. Aku memang berencana ingin melanjutkan sekolah sebelum terjadi pernikahan dengan siapapun. Tapi aku malah terkena beban seperti ini," kata Adinda. 


"Andara juga menyesali tentang pernikahan ini. Andai saja sang kakak mau berubah dan melupakan Kanaya. Pasti Andara akan tersenyum lagi," beber Netty yang sebenarnya. 


"Aku tahu itu. Aku tidak akan mungkin membiarkan Andara bersedih lagi. Kemungkinan besar Andara tidak akan kembali ke perusahaannya. Andara akan ditempatkan di Surabaya atau Palangkaraya. Dia sekarang masih menimbang-nimbang mau tinggal di mana. Aku yakin perusahaan cabang yang dipegang oleh Andara itu akan sukses," jelas Adinda. 


"Kamu serius?" tanya Herman.