Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 10



Pagi yang cerah di kota Jakarta. Dinda yang sudah bangun sedari subuh sangat malas sekali. Ia harus mengikuti rapat pada pagi ini. Sementara itu Budi sudah bersiap-siap berangkat. Kemudian Budi mendekati Dinda sambil menawarkan sesuatu.


"Kamu jadi pergi ke kantor?" tanya Budi.


"Jadilah. Lagian ada meeting kenapa aku nggak hadir? Seharusnya bos yang baik itu menghadiri meeting," jawab Dinda yang membuat Budi menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu kita pergi bersama. Bukankah kantorku dan kantormu searah?" tanya Budi yang menawarkan bantuan kepada Dinda.


"Aku nggak perlu bantuan darimu. Aku akan memanggil taksi untuk menuju ke sana. Oh iya... Apakah kamu masih mengijinkan aku pergi ke Oxford?" tanya Dinda.


"Sepertinya kamu mencari masalah denganku. Aku katakan tidak ya tidak. Jangan pernah memaksaku untuk melakukan hal yang gila!" tegas Budi.


"Siapa yang melakukan hal yang gila? Aku hanya ingin bertanya soal itu. Jika tidak boleh ya sudah. Aku akan mengambil S3 di sini saja. Begitu saja kok repot. Selalu membuat masalah menjadi besar," kesal Dinda.


"Nah begitu. Apa salahnya kamu mengambil S3 di sini? Kamu cari tempat kuliah yang enak. Aku yakin kamu bisa meraihnya," jelas Budi.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan pergi jauh sebelum mendapatkan izin dari kamu. Selama kita dalam ikatan pernikahan. Aku tidak boleh melanggar pantangan itu. Karena seorang istri harus menurut suaminya," ucap Dinda dengan keceplosan.


Budi pun tersenyum dan menatap wajah Dinda. entah kenapa pagi ini Budi mendapatkan vitamin baru. Dirinya sudah mulai terbuka oleh Dinda. Sebelum tidur hatinya mencoba untuk menerima Dinda. Biar bagaimanapun juga Budi sudah terikat dalam pernikahan bersama Dinda.


"Baguslah. Memang seharusnya seorang istri seperti itu. Harus menuruti keinginan suami," ujar Budi.


"Bagus apanya? Aku yang akan menderita hidup bersamamu," kesal Dinda.


Budi hanya menahan tawanya. Budi tidak marah dengan perkataan Dinda itu. Budi sengaja membiarkan Dinda bebas mengekspresikan dirinya.


"Kalau kamu ingin ke kantor. Pakailah mobilku itu. Aku akan menghubungi Tio untuk menjemputku," perintah Budi.


"Bagaimana bisa kamu menghubungi Tio? Sementara kamu tidak membawa ponsel," tanya Dinda yang penasaran yang menyodorkan ponsel itu ke arah Budi.


"Aku pinjam ponselmu dulu. Aku akan menghubungi Tio," jawab Budi sambil meraih ponsel itu.


"Baiklah," balas Dinda.


Tepat jam 07.00 pagi, Dinda sudah sampai ke perusahaan. Untung saja pagi ini tidak ada drama sedikitpun. Dengan senyum yang merekah, Dinda menyapa mereka dengan senang hati.


Sedangkan Budi... Budi sudah sampai di kantor. Lalu ia membersihkan tubuhnya sebelum melakukan aktivitas. Setelah membersihkan tubuhnya, Tio datang sambil membawa amplop coklat. Kemudian Tio melihat Budi sedang gundah gulana.


"Kenapa bro? Pagi-pagi sudah gundah gulana seperti itu? Memangnya Dinda tidak memberikanmu jatah?" tanya Tio yang ngomong tidak pakai disaring.


"Lu ngomong apa sih? Pagi-pagi sudah membuat gue darah tinggi saja!" kesal Budi sambil memandang wajah Tio.


"Kirain dikasih jatah," ujar Tio sambil memberikan amplop coklat kepada Budi. "Kamu tahu dari mana jika Kanaya berselingkuh?"


"Sudah aku jelaskan ke kamu. Kalau Kanaya itu bukan wanita baik. Kalau orang baik tidak akan pernah menghianati kekasihnya. Dia harus meyakinkan kedua orang tuamu. Karena pantas dirinya untuk dinikahimu. Tapi nyatanya bullshit," jelas Tio. "Apa yang dikatakan oleh Dinda itu benar. Wanita yang kamu nikahi bukan wanita sembarangan. Dia memiliki kekuasaan di dunia bisnis. Cepat atau lambat dia ingin menghancurkan Kanaya."


"Ada apa dengan Dinda?" tanya Budi.


"Kamu nggak tahu kasus di mana kekasihnya terbunuh. Yang membunuhnya adalah Kanaya. Dia lihat sendiri dengan mata kepalanya. Makanya sampai sekarang dirinya tidak akan pernah membuka pintu hatinya itu ke siapapun. Termasuk kamu. Jika kamu mau berusaha meyakinkan Dinda. Aku yakin kamu bisa sukses menaklukkannya. Banyak pria yang ingin menjadi kekasihnya. Namun semua ditolak mentah-mentah," jawab Tio.


Sontak saja Budi terkejut. Budi baru mengetahui seluk beluk Dinda walau hanya sedikit saja. Ia tidak menyangka kalau sang istri pernah merasakan sakit hati yang parah. Malah lebih parah darinya. Akhirnya Budi meraih jasnya lalu memakainya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Tio.


"Mau ke kantor Dinda untuk mengkonfirmasi beritamu itu. Aku nggak puas jika melalui telepon. Aku akan ke sana sekarang juga," jawab Budi.


Budi segera meninggalkan kantor itu untuk ke kantor Dinda. Sebelum pergi Budi meminta kunci mobilnya Tio. Lalu tiu memberikannya dan melihat Budi menghilang dari pandangannya.


"Apa yang gue katakan itu benar. Lu itu memang ditakdirkan bersama Dinda. Bukan bersama Kanaya. Jika lu bersama Kanaya. Gue pastikan seluruh perusahaan dan asetmu akan hilang seketika. Lu beruntung dapat istri yang baik seperti Dinda. Meskipun dia menolaknya. Tapi Dinda masih peduli sama Lo. Tapi lu jangan kaget kalau Dinda itu adalah wanita tangguh. Tidak seperti Kanaya yang selalu merengek dibelikan barang-barang branded darimu. Jika lu nggak percaya periksa saja di rumahnya sana. Pasti lo akan menemukan sesuatu jawaban sebenarnya," batin Tio yang tidak rela Budi mendapatkan Kanaya.


Dua jam berlalu selesai meeting, Dinda keluar dari ruangannya bersama sang asistennya. Entah kenapa dirinya merasa ada yang janggal. Lalu Dinda bertanya kepada Netty, "Net."


"Apa Bu? Apakah tadi meetingnya tidak enak?" tanya Netty.


"Meetingnya lancar saja. Apakah aku ada jadwal di luar kantor?" tanya Dinda balik.


"Sepertinya sudah tidak ada. Beberapa hari ini penjualan barang kita sangat drastis sekali," jawab Netty.


"Kalau begitu ya sudahlah. Aku ingin bekerja hari ini. Semoga saja tidak ada yang menggangguku," ujar Dinda.


"Tergantung siapa yang mengganggu Ibu hari ini. Kemungkinan besar Andara ke sini," celetuk Netty.


"Tuh anak... Sudah nggak muncul lagi. Nanti sore kita main ke sana yuk," ajak Dinda sambil memasuki ruangannya.


"Nggak janji deh bu. Keponakanku yang dari Bandung datang. Mumpung besok hari Sabtu aku ingin mengajaknya jalan-jalan ke pasar malam," tolak Netty.


"Enggak apa-apa. Aku tidak keberatan sama sekali," sahut Dinda. "Ya sudah deh aku akan pergi ke rumah Andara. Aku sangat merindukan itu anak. Habis menyuruhku nikah kok malah minggat?"


Netty tertawa terbahak-bahak melihat sang bosnya sedang bingung. Lalu Netty izin keluar dari ruangan itu. Ia sangat senang sekali terhadap Dinda. Diam-diam sang asistennya itu mendoakan Dinda agar bisa mengarungi rumah tangga dengan baik.


Beberapa saat kemudian telepon kantor pun berbunyi. Dinda segera mengangkat dan menyapa orang yang berada di seberang sana, "Halo."


"Halo Bu. Ada yang ingin bertemu dengan ibu," sahut orang itu.


"Siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Dinda.