Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 185



"Jadilah. Rizal menyuruhku untuk menghubungi Andara dan juga Tio. Mereka harus ikut sekarang. Ini sangat penting sekali buat kita," jawab Budiman yang sengaja meraih ponselnya di atas nakas.


"Biasanya kamu keluar nggak pernah bawa ponsel," celetuk Adinda.


"Iya ya. Semenjak ada kamu di sampingku. Aku jarang membawa ponsel. Padahal kamu tahu isi ponsel tersebut," ucap Budiman sambil tersenyum manis dan memberikan ponsel itu kepada Adinda. "Simpan di tas."


Adinda meraih ponsel itu dan menaruhnya di dalam tas. Budiman langsung mengajaknya keluar dari kamar. Saat berjalan santai, mereka mendengar suara Gilang menggema di sebuah lorong. Adinda mencegah Budiman agar berjalan tidak terlalu jauh. Lalu Budiman menoleh ke belakang dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


Tiba-tiba saja, Rizal dan Yuki langsung menariknya. Mereka memberikan kode agar tidak berisik sama sekali. Adinda menyuruh Rizal berjalan terlebih dahulu. Kemudian Rizal berhenti lalu mendengar Gilang memarahi seorang perempuan.


"Gobl*k lu! Sudah tahu ada Budiman di sini Kenapa kamu nggak bekerja?" tanya Gilang sambil menatap perempuan itu dengan penuh amarah.


"Aku kan baru datang tadi malam," kilah perempuan itu dengan cepat.


"Gue nggak mau tahu kalau lu nggak bisa menaklukin Budiman!" teriak Gilang. "Lu bisa menjebak Budiman dengan begitu mudahnya! Lu kan sudah mengantongi kelemahan Budiman! Kenapa lu menyia-nyiakan masalah ini?"


"Aku nggak paham soal ini. Aku memang datangnya telat. Aku juga nggak tahu di mana kamarnya Budiman," jawab wanita itu yang menunduk ketakutan.


Rizal tersenyum sinis sambil memandang Adinda. Rizal memberikan kode kalau wanita itu adalah Kanaya. Adinda pun tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya. Jujur selama ini Adinda memang menginginkan bertemu dengan Kanaya. Bak Cat Woman, Adinda mulai memamerkan kukunya yang panjang itu. Budiman menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana tidak? Seorang istri sah akan bertempur dengan seorang pelakor. Namun sepertinya Budiman melihat Adinda akan menghabisi Kanaya dengan cara elegan.


"Kita nggak jadi sarapan pagi ini. Ini adalah kasus yang mendadak dan membuatku semakin semangat untuk menangkapnya," bisik Rizal.


"Baiklah aku setuju soal itu. Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Budiman.


"Tenang saja. Adinda akan keluar setelah ini. Kemudian Adinda memergoki mereka. Lalu aku akan menghubungi anak buahku untuk datang ke sini," jawab Rizal. "Dan kamu Yuki? Blok semua pintu masuk maupun pintu keluar. Hubungi semua mata-matamu untuk segera berkumpul."


"Siap kapten," ucap Yuki dengan lirih.


Yuki dengan cepat meminta mata-matanya berjaga di pintu masuk maupun pintu keluar. Yuki tidak ingin jika Gilang dan Kanaya kabur begitu saja. Sementara itu Rizal menghubungi bawahannya untuk segera berkumpul di lantai atas. Untung saja Rizal memberitahukan kalau ada penangkapan pagi hingga siang hari. Sebab waktu tersebut adalah waktu yang sangat tepat sekali.


Mereka menganggukkan kepalanya sambil menunggu aba-aba dari Rizal. Kanaya dan Gilang masih saja berdebat habis-habisan. Mereka hanya bisa mengelus dada mendengar makian Gilang yang sangat mengerikan itu. Mau tidak mau Rizal menyuruh Adinda keluar. Adinda pun menurutinya sambil bersiap.


Prok...


Prok....


Prok...


Adinda keluar sambil melihat Gilang dan Kanaya sedang berdebat hebat. Baru kali ini Adinda bisa menatap Gilang dengan mata berbinar. Adinda ingin sekali menghajar Gilang saat ini juga.


"Jadi semuanya itu adalah rencana kamu ya? Rencana kamu itu ternyata ingin menghancurkan Budiman dan juga keluarganya. Sekarang aku paham apa yang kalian lakukan kepada mereka," ucap Adinda dengan nada dinginnya.


Gilang dan Kanaya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka berdua tertangkap basah dalam melakukan rencana untuk menjebak Budiman.


"Kamu menyuruh wanita gila itu untuk datang ke kamarku. Lalu wanita gila itu akan memberikan minumannya Budiman yang dicampur dengan obat. Tentunya obat perangsang. Saat itu juga kamu akan berspekulasi kalau Budiman memperk*sa Kanaya. Kemudian kamu akan membeberkan rahasia ini ke seluruh keluarga besar ketika berkumpul dalam pernikahannya Albert. Sungguh licik sekali kamu ya. Dasar kalian penipu!" ejek Adinda yang membuat Gilang geram.


"Kalau iya memang kenapa? Seharusnya yang duduk di kursi Njawe Groups adalah aku bukan Budiman. Perusahaan itu sangatlah besar. Tapi kenapa Budiman duduk di atas sana!" geram Gilang.


"Kamu itu nggak bosan-bosannya pengen merebut kursi tersebut. Sebentar lagi perusahaan itu akan menjadi milikku. Perusahaan itu sudah diambil alih oleh SM Company. Kamu tahu apa yang dilakukan oleh Budiman? Budiman telah melakukan kesalahannya. Budiman telah berbuat curang dan menghabiskan aset milik perusahaan tersebut. Cepat atau lambat perusahaan itu akan bangkrut," ucap Adinda yang mulai meyakinkan Gilang.


Sebenarnya perusahaan itu tidak bangkrut sama sekali. Tapi Adinda mengatakan itu agar Gilang menjauhi perusahaan tersebut.


"Dan kamu Kanaya, kamu tidak pernah berubah sama sekali ya. Sekarang keluargamu berada di dalam tanganku ini. Kamu sangat pandai mengajak adikmu itu menjebak aku dan juga Budiman. Bisa jadi kamu bersama Netty akan mendekam dalam waktu lama karena kasus penipuan," ejek Adinda.


"Apa?" Pekik Kanaya yang terkejut atas pernyataan Adinda.