Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 49



"Kamu tanyakan saja pada Adinda. Jujur saja aku nggak tahu soal itu. Entah itu suruhannya Gilang atau lainnya," jawab Malik yang benar-benar tidak tahu soal Kanaya.


"Padahal aku ingin sekali mendapatkan informasi tersebut," ucap Tia.


"Aku tahu itu. Tapi selama Adinda masih bisa menangani masalahnya. Aku masih angkat tangan dan tidak turun terlebih dahulu. Kamu tahu kan Bagaimana tabiat Adinda? Dia memang jago untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau dia sudah tidak sanggup, dia akan datang ke hadapanku untuk meminta bantuan," jelas Malik yang paham dengan sifat putrinya itu.


"Tapi seenggaknya, Adinda harus cerita tentang masalahnya itu," ucap Tia yang agak kecewa dengan Adinda.


"Kamu nggak perlu kecewa sama Adinda. Adinda memiliki jiwa yang kuat dan tangguh. Dia jarang menangis untuk menghadapi masalahnya. Dia masih memiliki jiwa barbar yang tidak bisa hilang begitu saja," sahut Malik.


Tiba-tiba saja ponsel Malik berdering lagi. Ia sangat kesal terhadap ponselnya itu. Akan tetapi dirinya tidak akan membanting ponsel itu pada malam begini. Sebab dirinya harus stand by dan mengurus mahasiswa-mahasiswa yang sedang melaksanakan skripsi.


"Siapa lagi sih malam-malam gini telepon?" kesal Malik.


"Kemungkinan besar pasti dari anak-anak yang sedang melakukan penyusunan skripsi," jawab Tia sambil menarik selimutnya.


"Iya juga sih. Aku memegang sepuluh anak sekaligus," ucap Malik yang mengangkat ponsel itu sambil menyapa orang yang berada di seberang sana. "Halo."


"Apakah ini dengan Tuan Malik?" Tanya Tio yang harap-harap cemas untuk memberitahukan kabar sebenarnya.


"Iya ini aku. Ini siapa ya?" tanya Malik balik yang tidak melihat nama panggilannya tersebut.


"Tuan, Adinda masuk rumah sakit. Adinda terkena tusukan dari preman-preman," jawab Tio.


Deg.


Jantung Malik berdetak kencang. Bagaimana bisa dirinya mendapatkan kabar berita seperti itu pada malam-malam begini. Lalu Malik bertanya lagi, "Apa yang kamu katakan itu benar?"


"Itu benar tuan. Kami berada di Rumah sakit bersama Budiman," jawab Tio.


Seketika Malik memutuskan sambungan teleponnya itu. Malik menatap sang istri dengan tenang. Ia tidak mau panik di hadapan sang istri. Ia sedang mencari alasan agar bisa keluar rumah sendirian. Malik memang sengaja melakukannya. Karena Malik tidak mau sang istri histeris ketika mendengar Adinda sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Aku pergi dulu ya. Kamu di sini saja. Aku masih ada urusan dengan anak-anak didikanku untuk sekarang ini.Kemungkinan besar mereka sedang membutuhkan untuk menyusun skripsi dengan baik," pamit Malik yang segera berdiri dan mengganti bajunya.


Tia pun mempercayai omongan Malik. Namun hatinya terasa sangat aneh sekali. Jantungnya berdetak dengan kencang sambil melihat bayangan Adinda sedang tersenyum.


"Ayah," panggil Tia yang melihat sang suami mengganti bajunya.


"Ada apa memangnya?" tanya Malik.


"Aku sepertinya melihat Adinda yang sedang tersenyum. Dia hanya melambaikan tangannya lalu pergi lagi," jawab Tia yang membuat Malik terkejut.


Sering sekali Jika Adinda mendapatkan kesusahan, sang istri malah melihat Adinda tersenyum. Jujur Malik saat ini ingin menutupi kasus ini. Setelah sang istri memiliki firasat, mau tidak mau Malik mendekati Tia dan duduk di hadapannya. Sebelum bercerita Malik memegang tangan putih milik Tia.


"Maafkan Aku," ucap Malik.


"Seharusnya aku sembunyikan masalah ini kepadamu. Yang namanya ikatan batin pasti merasakan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan. Adinda sekarang berada di rumah sakit. Dia terkena luka tusukan. Kata Tio Adinda ditusuk oleh beberapa preman," jawab Malik yang membuat Tia berteriak histeris.


Saat Tia memanggil namanya Adinda, Andara dan Herman keluar dari kamar masing-masing. Mereka berdua langsung menuju ke kamar utama. Di sana Herman mengetuk pintu berulang kali. Setelah itu Malik berteriak untuk segera masuk ke dalam.


Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar. Tidak sengaja Mereka melihat Tia yang sedang berteriak histeris. Lalu Herman bertanya, "Ada apa kak?"


"Baru saja Tio menghubungiku dan mengatakan Kalau Adinda tertusuk pisau. Katanya Adinda ditusuk sama para preman," jawab Malik yang membuat Herman terkejut.


"Jangan-jangan preman itu?" tanya Andara lalu menatap wajah Herman.


"Maksud kamu apa?" tanya Herman balik dan menatap wajah Andara.


"Apakah Paman tidak tahu ketika Kanaya menemui para preman tersebut?" tanya Andara yang curiga kepada Kanaya.


"Lebih baik kita ke rumah sakit saja terlebih dahulu. Kemungkinan besar Tio akan memberikan ciri-cirinya bagaimana? Jika sampai ciri-ciri yang diungkapkan oleh Tio. Maka aku akan yang menangani kasus ini," jawab Herman.


Malik dan Andara menganggukkan kepalanya. Lalu mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, mereka berdoa bersama-sama agar Adinda bisa diselamatkan nyawanya.


Bandara Soetta.


Seorang Pria Muda sedang berjalan menuju ke area parkir. Di sana ia sedang ditunggu oleh seseorang yang sudah menjemputnya. Pria muda itu meraih ponselnya dan menghubungi Adinda. Namun pria muda itu sangat kesal terhadap Adinda. Bisa-bisanya Adinda mematikan ponselnya pada jam segini.


Sesampainya di area parkir, pria muda itu bertemu dengan Irwan. Yang di mana Irwan itu adalah seorang pengemudi online. Akan tetapi Irwan sendiri adalah teman dari si pria muda itu.


"Bro," sapa Irwan yang menatap wajah pria muda itu.


"Udah lama di sini?" tanya pria muda itu.


"Baru saja datang. Tadi jalanan sangat macet sekali. Besok kan sudah weekend," jawab Irwan yang membukakan pintu lalu menyuruh pria muda itu masuk ke dalam.


Pria muda itu duduk dengan manis sambil menatap ke arah depan. Lalu pria muda itu menunggu Irwan masuk ke dalam. Ia tidak sengaja kalau Irwan sedang menerima telepon dari seseorang. Ia melihat ekspresi wajahnya sangat terkejut sekali. Bahkan dengan jelas wajah Irwan menjadi pucat. Setelah itu Irwan masuk ke dalam sambil menatap wajah pria muda itu.


"Sepertinya kamu serius banget menerima telepon itu?" tanya pria muda itu.


"Ya aku sangat serius sekali. Tadi Tio menghubungiku dan memberitahukan Kalau Adinda masuk ke dalam rumah sakit," jawab Irwan dengan jujur.


"Apa lu bilang?" tanya pria muda itu.


"Gue serius Ris. Tio sendiri yang menghubungi gue. Kalau lu pengen tahu telepon saja dia. Gue nggak akan pernah bohong sama elu dan semuanya," jawab Irwan yang tidak marah kepada pria muda itu.


Pria muda itu meraih ponselnya lalu menghubungi Tio. Ia ingin mengkonfirmasi tentang berita tersebut. Beberapa detik kemudian pria muda itu langsung tersambung kepada Tio. Ia langsung menanyakan keberadaan Adinda. Tio pun akhirnya memberitahukan keadaan Adinda. Jujur pria muda itu syok mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau kedatangannya ke Indonesia mendapatkan berita yang tidak mengenakkan.


Selesai mendapatkan informasi, pria muda itu menatap wajah Irwan. Ia bertanya tentang Adinda. Namun Irwan sendiri tidak menjawabnya. Melainkan Irwan menyuruhnya untuk bertanya kepada Tio maupun Budiman.