
"Perasaanku tidak enak. Aku harus pulang ke rumah terlebih dahulu. Aku nggak ingin semuanya menjadi kacau," pinta Adinda.
Akhirnya Budiman mengalah dan membelokkan mobilnya ke arah rumah Adinda. Entah kenapa ia juga merasakan hal yang sama. Ia ada sesuatu sangat aneh ketika berada di rumah. Akhirnya Budiman memacu gasnya agar cepat sampai.
Herman dengan wajah murkanya langsung menghapus nomor Netty dari ponselnya. Ia tidak mau Netty mengganggu dirinya ataupun keluarga besarnya. Sebenarnya Herman sudah curiga beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba saja calon istrinya berubah drastis akan sikapnya itu. Bisa-bisanya Netty meminjam uang kepada Gilang tanpa sepengetahuan dirinya. Sakit tidak berdarah di dalam hatinya. Kenapa Netty tidak menceritakan semuanya? Malah ia bercerita kesusahannya ke Gilang.
Hanya dalam satu jam, Budiman dan Adinda sampai ke rumah. Adinda membuka pintu mobil langsung berlari ke dalam rumah. Ia menuju ke halaman belakang sambil melihat Herman memukul samsak dengan penuh amarah. Ia hembuskan nafasnya dan menghempaskan bokongnya duduk melihat sang pamannya itu.
Tak lama Budiman datang dan melihat keberadaan Herman sedang memendam amarah. Ia juga ikutan duduk di samping Adinda. Ia juga bingung sembari menatap wajah Adinda. Herman tahu kalau temennya itu kalau sedang marah tidak boleh diganggu sama sekali. Ia sengaja memegang tangan Adinda dan menghela nafasnya.
"Apakah kita akan menyembunyikan pertemuan Gilang dengan Netty?" tanya Budiman.
"Makanya aku bingung ini. Mau ngomong sekarang nanti Paman tambah marah. Aku yakin akan ada jalan keluarnya sekarang juga. Kalau nggak ngomong pasti akan ada pertengkaran dan Paman Herman semakin menggila," jawab Adinda.
"Kita nggak tahu apa yang dilakukan oleh Netty di belakang. Aku juga tidak habis pikir. Kenapa itu anak sampai akrab dan ngobrol dengan Gilang semalam. Kalau ini tidak diselesaikan secara langsung. Kita tidak akan tenang tinggal di London. Pertemuan itu akan menjadi beban buat kita," jelas Budiman.
"Ya sudah aku akan bermain Samsak juga di sana. Aku akan mengatakan sesuatu kepada paman walaupun kondisinya seperti ini. Kamu benar. Kenapa juga kita harus menyembunyikan semuanya? Aku tahu wataknya paman Herman bagaimana. Dia tidak akan membuat masalah ini menjadi besar. Aku yakin semuanya akan bisa teratasi dengan mudah," ucap agenda yang mendapat persetujuan dari Budiman.
Adinda segera masuk ke dalam area samsak tersebut. Ia sengaja meraih sarung tangannya dan memakainya. Setelah itu Adinda beradu pukul di samsak sebelah milik Herman. Adinda memukul Samsat itu sambil melepaskan energi negatifnya.
Sebenarnya Adinda sendiri tidak mempedulikan masalah ini. Adinda merasakan kalau pamannya tidak baik-baik saja. Ia bisa menebak kalau sang Paman sedang murka. Ini pasti ada kejadiannya tentang tadi malam.
"Kamu itu ada apa sih?" tanya Adinda yang tidak berhenti memukul samsak.
"Kamu mau tahu kenapa? Asisten kamu sudah berkhianat kepada kita. dia dengan mudahnya meminjam uang untuk mengembalikan hutangnya ke Gilang. Sekarang kedua orang tuanya sedang di sandera olehnya. Jadi Aku tidak akan mau menikah dengannya," jelas Herman.
Adinda menghentikan pukulan itu sambil terkejut. Bagaimana bisa pamannya itu mengatakan dengan gamblang? Jadi pertemuan semalam adalah pertemuan antara Netty dengan Gilang untuk membicarakan hutang piutang. Inilah yang membuat Adinda bertanya-tanya. Kenapa ini bisa? Bukankah dia memiliki seseorang teman yang bisa diminta tolong saat meminjam uang. Kenapa dia tidak cerita tentang apa yang telah terjadi saat ini? Lalu dia menganggap Adinda dan Andara apa? Memang cukup sulit untuk menjelaskannya semua.
"Aku mau ngomong sama paman sebentar. Semalam aku melihat Netty bersama Gilang sedang berduaan di restoran. Mereka sepertinya ngobrol akrab. Kayak temen biasa saja yang baru pertama bertemu dan ceplas-ceplos. Wajahnya juga bahagia," jelas Adinda.
"Sudah aku tebak. Jadi selama ini aku tidak sehat berpacaran sama dia. Banyak sekali yang dia sembunyikan dariku. Aku sendiri masih bingung harus bagaimana," sambung Herman.
"Masalah ini harus segera diselesaikan. Aku tidak ingin berlarut-larut dan memperkerjakan orang seperti itu. Aku lepas tangan soal kehidupannya. Aku tidak mau membuat semuanya ini kacau hanya karena dia," ujar Adinda yang membuat Herman menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian ada salah satu pelayannya yang bernama Mbok Yem mendekatinya. Wanita paruh baya itu segera mendekatinya sambil mengatur nafasnya dengan pelan.
"Gawat, non Netty datang sambil membentak saya. Saya tidak tahu kesalahannya apa? Biasanya non Netty seperti ini. Apalagi dia sedang membawa senjata api," ucap Mbok Yem yang ketakutan saat melihat pistol yang berada di tangan Netty.
Sontak saja mereka terkejut mendengar pernyataan dari Mbok Yem. Mereka saling beradu pandang lalu melepaskan sarung tangannya dan membuangnya secara asal. Kemudian mereka masuk tanpa harus berbicara dengan Budiman.
Seketika Adinda dan Herman langsung menuju ke ruang tamu. Ia segera mengambil shuriken yang berada di tembok. Ketika berada di ruang tamu, Netty sudah menantangnya. Dengan senyuman Yang licik, ia sambil berkata, "Halo Adinda. Tolong kamu berikan surat tender yang harganya tujuh triliun ke tanganku."
Adinda hanya tersenyum kecut sambil menatap wajah Netty. Ia tidak mungkin memberikan surat tender itu kepada orang lain. Bahkan kepada Faris maupun Herman, Adinda juga tidak mau menyerahkannya.
"Pasti surat itu untuk Gilang ya? Aku bisa menebaknya. Karena aku sudah mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Jujur aku malas sekali berbasa-basi ketika kamu ngobrol seperti ini. Netty yang aku kenal bukanlah temanku yang dulu. Sekarang kamu berubah dan menjadi penghianat antara kami semuanya. Apa yang kamu inginkan dari aku?" tanya Adinda yang mulai dingin mengeluarkan aura amarahnya.
"Sedari dulu aku memang tidak menyukaimu. Aku terpaksa menjadi temanmu dan memasuki hidupmu. Orang tuaku juga mengatakan hal yang sama. Sekarang kamu sukses dan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu semena-mena menyuruhku untuk menjadi asisten pribadimu," jelas Netty.
"Bayaran yang aku berikan kepadamu itu sangat sepadan sekali. Aku bisa menghargai orang tanpa harus mengucapkannya. Seluruh karyawan di sana. Yang paling tinggi bayarannya adalah kamu. Aku memang menuntut kamu menjadi sempurna. Tapi itulah bayaran yang harus kamu terima. Lalu kenapa kamu harus berkhianat? Dengan mudahnya kamu makan bersama Gilang di pusat perbelanjaan dengan wajah ceria. Ya aku memang salah. Tidak mengontrol mu lebih dalam. Dan aku juga tidak akan mungkin melakukannya hingga mengetahui masalah pribadimu dengan Gilang. Berarti selama ini apa yang aku ceritakan dan membenci Gilang, kamu berkata jujur dengannya. Sungguh kamu sangat luar biasa menjadi seorang teman," ucap Adinda dengan jujur tanpa harus mengeluarkan suara kerasnya itu.
Sontak saja Netty terdiam dan sadar. Ia tidak percaya kalau Adinda sudah mengetahui semuanya. Sebelum melanjutkan pembicaraan, Herman menyodorkan ponselnya agar Adinda membaca semua isi pesan dari temannya itu. Adinda meraih ponsel itu lalu membacanya sangat teliti. Alangkah terkejutnya ia apa yang dibacanya itu. Ternyata diam-diam Netty adalah saudara kandung Kanaya.
"Kamu tahu yang membunuh Rizal itu siapa dalangnya?" tanya Netty sambil tersenyum licik.
"Apa maksud kamu?" tanya Adinda balik.
"Akulah orang yang pertama sengaja memancing Rizal untuk keluar dari persembunyian. Akulah yang meminta kakakku untuk membunuhnya. Karena aku sudah menyukai Rizal sedari dulu. Tapi Rizal menolakku. Dia harus mati di tangan kami. Dan kami pun setuju menyepakati kematian kekasihmu itu," jelas Netty yang berbicara dengan lantang dan lugas.
Budiman yang masuk tidak sengaja mendengar cerita Netty. Ia menatap Herman sedang mematung. Ia juga memandang sorot mata Netty yang sangat membenci Adinda.
"Oh ya aku bisa berubah menjadi Kanaya. Selama Kanaya pergi ke London. Akulah yang meniduri Budiman. Memang aku sengaja mendapatkan reward dari Kanaya untuk menikmati tubuh hotnya itu. Karena aku memiliki wajah yang sama dengan Kanaya jika sedang berdandan sporty," tambah Netty yang membuat mereka terkejut lalu Herman memandang wajah Budiman.
"Tapi sayangnya... Dia bukan tipe pria penghangat wanita. Permainannya sangat buruk dan aku tidak menyukainya," ejek Netty sambil tertawa terbahak-bahak.
Plakkkkkkkkk!