Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 32



"Aku yakin seratus persen. Andhara adalah sosok wanita yang sangat cerdas sekali. Dia yang membangun Njawe Group menjadi besar," jawab Adinda dengan serius.


"Kalau itu aku percaya," ucap Netty.


"Kamu tadi ngomong kalau Budiman ke sini dan menyuruhku untuk melepaskan tender itu. Terus," ucap Herman yang menggantung. 


"Iya," sahut Adinda yang membuat Herman tanda tanya. 


"Berarti dia? Ada apakah ini? Apakah ini ada hubungannya dengan teror itu?" tanya Netty. 


"Sebentar, ini maksudnya apa ya?" tanya Herman. "Setahuku perusahaan milik keluarga Budiman sendiri memproduksi kaleng saja. toko dan ada makanannya." 


"Nah itu dia," jawab Netty. 


"Ini pasti ada seseorang di belakang Budiman," ucap Herman.


"Aku juga begitu. Ini pasti kerjaannya Kanaya. Kalau aku menebaknya," jelas Adinda.


"Kalau bukan?" tanya Herman.


"Tidak mungkin yang namanya Budiman memiliki perusahaan memproduksi kaleng makanan. Lalu dia datang ke sini menyuruhku untuk melepas tender sebesar itu. Padahal peserta yang ikut itu adalah perusahaan yang memproduksi makanan. Tapi anehnya Kenapa Budiman ke sini untuk memintaku melepaskan tender? Ini yang jadi pertanyaanku. Sebab aku sendiri masih bertanya-tanya," jelas Adinda yang mulai menganalisis keadaan.


Herman dan Netty pun menganggukkan kepalanya. Menurutnya ini sangat janggal Bagaimana bisa? Perusahaan kaleng menyuruh perusahaan makanan melepaskan tender? Namun di sini Adinda tidak pantang menyerah. Adinda mencium aroma yang tidak sedap di belakang Budiman.


"Ya sudah kalau begitu aku balik dulu kerja. Masih banyak dokumen-dokumen yang menumpuk belum aku periksa. Oh ya besok pagi aku tidak akan pergi ke kantor. Aku harus mengunjungi kantorku sendiri," ucap Herman yang keesokan harinya tidak akan hadir di kantor.


"Aku punya usul," ucap Adinda.


"Ada usul apa?" tanya Herman yang beranjak berdiri sambil menatap Adinda.


"Bagaimana kalau kantor pengacaramu pindahkan ke sini saja? Ada salah satu lantai yang kosong yang nggak dipakai lagi," tanya Adinda yang memberikan solusi kepada Herman.


"Ide kamu sangat bagus sekali. Jujur saja rencananya aku ingin pindah. Karena aku suka pusing sendiri. Mau ke mana dulu kalau sudah keluar dari rumah," ucap Herman yang meninggalkan Adinda bersama Netty.


Melihat kepergian Herman, Adinda hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Jujur, dirinya sedang menghadapi orang-orang yang sangat aneh sekali. Sebenarnya Adinda sangat malas jika harus berdebat soal pekerjaan.


Tender sebanyak tujuh triliun itu sangat murni Adinda dapatkan. Dengan susah payah bersama tim kreatif bersama tim gizi, mereka bekerja siang malam demi mendapatkan tender itu. Masa Adinda harus melepasnya?


"Apakah kamu akan melupakan tender itu?" tanya Netty.


"Kamu selalu memperhatikan betapa pentingnya mereka di matamu. Apakah kamu akan memberitahukannya ini kepada ayah?" tanya Netty yang penasaran sekali dengan jawaban Adinda.


"Biar bagaimanapun masalah atau tidak ada masalah di perusahaan. Harus dibicarakan dengan sejujurnya di depan ayah. Meskipun ayahku seorang dosen yang cukup terkenal di negara ini. Ayah juga harus mengetahuinya. Begitu juga dengan Kak Faris. Aku akan meminta solusi pada mereka berdua," jawab Adinda.


"Ya sudah deh kalau begitu. Lebih baik kamu jangan pernah melepaskan tender itu. Kasihan mereka yang sudah ikut-ikutan kerja keras. Bahkan mereka juga ikut kamu lembur habis-habisan," ucap Netty yang memberikan solusi.


"Terima kasih atas solusinya. Aku sedang memikirkan soal itu. Aku tidak akan melepaskannya sama sekali. Kalau harus perang, kita akan berperang bersama-sama. Aku tidak akan pulang dan akan menginap di sini sampai pagi. Aku minta tolong sama kamu. Waktu kamu berangkat kerja mampirlah dulu ke rumahku. Ambilkan aku beberapa baju untuk berganti pada esok harinya. Nanti aku akan menghubungi ayah dan Mas Faris," jelas Adinda yang meminta tolong kepada Netty.


Netty menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempolnya. Gadis berkulit coklat itu pun akhirnya pergi meninggalkan Adinda. Netty habis pikir dengan email tersebut. Ia sebenarnya memperoleh email tersebut. Namun dirinya tidak bercerita sama Adinda. Meskipun tidak bercerita, Adinda tahu akan hal itu.


Tepat jam 05.00 sore, Adinda akhirnya menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Dirinya langsung membereskan dokumen-dokumen itu dan menumpuknya kembali. Ia segera menghubungi sang ayah untuk memberitahukan tentang masalah ini. Untung saja sang ayah jam segini sudah berada di rumah dan menikmati teh sore.


Malik yang sedang menikmati teh sore wajahnya sangat pucat. Ia baru saja mendapatkan telepon dari Adinda. Ia tidak menyangka kalau Sang Putri mendapatkan ancaman gila seperti itu. Bahkan dirinya hanya diam sembari menunggu kedatangan Tia.


Beberapa saat kemudian datang Tia. Tia yang ingin duduk menatap wajah sang suami sedang pucat. Sebelum berbicara Tia menepuk bahu Malik dengan lembut.


"Kenapa ayah melamun seperti itu? Bukankah Ayah sudah mencari kandidat untuk dijadikan ketua pentas seni yang diadakan minggu depan?" tanya Tia sambil menghempaskan bokongnya di hadapan Malik.


"Bukan itu masalahnya Bu. Baru saja Adinda menghubungiku tidak akan pulang ke rumah malam ini. Dia meminta izin untuk menyelidiki kasus yang baru saja terjadi," jawab Malik.


"Kasus apa? Bukankah perusahaan kita sudah bersih dari masalah besar?" tanya Tia yang masih menatap wajah Malik.


"Bukan itu masalahnya ibu. Masalah besar itu sudah selesai. Ini masalah baru lagi yang diciptakan oleh menantu kita," jawab Malik yang menghembuskan nafasnya dengan kasar 


"Masalah apa lagi itu?" tanya Tia yang boleh penasaran.


"Semuanya ini berawal dari Budiman. Beberapa minggu yang lalu Adinda sengaja mengikuti kontes sebesar tujuh triliun. Dengan susah payah Putri kita bekerja dari pagi hingga malam selama dua  bulan. Dua jam sebelumnya Budiman datang dan memintanya untuk melepaskan tender sebanyak itu kepada Adinda," jawab Malik yang membuat Tia terkejut.


"Apakah itu benar? Rasanya ini sangat aneh sekali," tanya Tia.


"Ibu tahu kenapa Ayah bengong tadi?"  tanya Malik balik.


"Jawabannya adalah perusahaan yang dipegang Budiman tidak menyangkut makanan sama sekali. Budiman memiliki perusahaan yang memproduksi kaleng makanan. Yang jadi pertanyaan, mengapa Budiman menyuruh Adinda untuk melepaskan tender? Menurutku ini sangat aneh dan lucu sekali. Kecuali jika Budiman perusahaannya membuat makanan," jawab Tia yang membaca isi pikiran dari Malik yang tertawa.


"Nah Ibu tahu itu. Jawaban Ibu sangat cerdas sekali. Aku sendiri saja bingung dengan masalah ini. Jujur, Kenapa Budiman sampai menginginkan Adinda untuk melepaskan tender itu?" tanya Malik.


"Apakah Herman sudah tahu semuanya?" tanya Tia.