
"Kenapa kamu menanyakan keberadaan Irwan?"
Tanya Budiman yang mulai curiga kepada Adinda.
"Emangnya nggak boleh ya? Kalau aku menanyakan keberadaannya Kak Irwan."
Tanya Adinda yang merasakan Budiman mulai cemburu
"Sepertinya kamu cemburu deh?"
"Ya iyalah. Sejarah Aku adalah seorang pria yang sudah memiliki status sebagai seorang suami. Jika istrinya bertanya tentang pria lain. Aku pasti bakalan cemburu."
Jawab Budiman yang melihat Adinda.
"Dia kan sering main ke rumah sama kamu. Seluruh temannya Kak Faris, semuanya sudah aku tahu. Jadi aku sama mereka itu sebagai satu saudara."
Ucap Adinda yang mulai rileks dengan keadaannya.
"Kalau aku bagaimana?"
Tanya Budiman yang ingin tahu jawaban Adinda.
"Entahlah."
Jawab Adinda yang membuat Budiman terdiam.
"Biar bagaimanapun Kamu adalah suamiku. Masa aku harus menjawab, kalau kamu adalah temannya Kak Faris. Terus kita nggak punya hubungan gitu? Dasar Budiman orang yang sangat aneh sekali."
Budiman tertawa menatap wajah Adinda. Jujur sebenarnya ia sangat cemburu sekali. Namun ia harus menahannya agar Adinda nyaman bersamanya.
"Ya…kamu dulu adalah perusuh. Kalau kita sedang ngumpul. Tapi kenapa aku tidak tertarik sama kamu sejak dulu. Padahal dulu kamu itu sangat cerdas sekali."
Ucap Budiman yang menyesal dengan keadaan.
"Nggak gitu. Yang namanya jodoh nggak bisa ketebak. Kalau kamu jodohku, Apakah aku akan menolaknya? Terus aku cari pria lain gitu. Nikah sama pria lain pun kalau nggak jodoh bakalan bubar. Kalau sudah jodoh nggak akan mungkin selesai dengan sendirinya. Kamunya sih jadi orang dingin banget. Nggak pernah say hello sama sekali. Makanya aku jarang sekali menanyakanmu. Baling-baling kalau aku tanya ya Kak Irwan Kak Tio atau Kak Roni."
Jelas Adinda yang berkata dengan jujur.
"Apakah kamu sudah makan?"
"Aku belum makan. Jujur aku masih sangat syok ketika melihatmu terbunuh oleh orang."
Jawab Budiman.
"Pesan lewat online. Aku ingin makan mie ramen."
Adinda menyuruh Budiman untuk memesan makanan.
"Jangan makan mie. Tuh perut kamu belum sembuh. Lebih baik makan bubur saja."
Entah kenapa Budiman tidak mengizinkan Adinda memakan mie. Padahal Adinda sangat suka sekali dengan mie.
"Memangnya ada bubur ya untuk malam ini? Setahuku bubur ayam itu adanya di pagi hari?"
Tanya Adinda yang mulai mencoba duduk tegak.
"Ya nggak ada. Nanti aku suruh bibi membuatkannya. Biar sopir yang membawanya ke sini."
Jawab Budiman.
"Nggak usah. Merepotkan saja dirimu ini. Kata kak Kevin, aku sudah bisa memakan semuanya. Ya sudah kalau begitu… makan nasi goreng saja."
Adinda menolak Budiman agar tidak menyuruh para pelayannya repot malam-malam begini.
"Kamu serius ingin makan itu? Atau ada yang lain?"
Tanya Budiman.
"Iya. Aku nggak apa-apa. Lagian tadi siang Kak Kevin sudah membawakanku ayam goreng sama nasi. Lalu salahku apa?"
"Kalau kamu nggak apa-apa ya sudah. Lagian juga Kevin sudah memberikanmu tiket untuk makan apapun. Ya sudah tunggu saja kirimannya."
Kata Budiman sambil meraih ponselnya dan memesan makan malam.
Selesai memesan makanan, Budiman dan Adinda menunggu. Di saat menunggu itulah, Budiman mengajak Adinda untuk berdiskusi.
"Aku ingin mengajakmu berdiskusi."
Pinta Budiman lalu duduk di samping Adinda.
"Apa itu?"
Tanya Adinda.
"Habis gini tinggal di rumahmu ya."
Jawab Budiman yang ingin tinggal bersama dengan keluarga Adinda.
"Terserah kamu. Enaknya tinggal di mana. Kalau aku sih menurut kamu."
"Beneran nih?"
"Beneran lah. Sekarang aku tanya? Kenapa kamu ingin tinggal di rumahku?"
"Aku memiliki banyak keuntungan tinggal di rumahmu. Yang pertama.. aku sangat menyukai kamarmu. Yang kedua Aku ingin dekat denganmu. Yang ketiga aku bisa berdiskusi pekerjaan kantor bersama kakakmu itu. Yang keempat kantorku dan jarak rumah kamu tidak jauh. Itulah kenapa aku memiliki banyak keuntungan jika bersamamu."
"Terus antara mau tinggal di mana? Dia sekarang tinggal bersamaku di kamar."
"Aku akan menyuruhnya pulang ke rumah. Enak saja sekarang dirinya tinggal di rumahmu segala."
Kesal Budiman kepada sang adik.
"Mana bisa begitu? Andara tinggal di rumah itu masalahnya bukan karena ketakutan sama Kanaya. Dia tinggal di rumah agar bisa berdiskusi tentang pekerjaan. Kamu tahu kan seluruh karyawanmu kabur gara-gara ulahmu."
Budiman langsung menunduk karena malu. Ia baru sadar kalau Adinda mengetahui akan hal itu. Budiman sangka Kalau Adinda tidak mengetahui akan hal itu. Akan tetapi Adinda ternyata sudah tahu terlebih dahulu.
"Kamu tahu dari mana?"
Tanya Budiman yang menatap mata Adinda.
"Ya tahulah. Seluruh karyawanmu masuk ke dalam kantorku semua. Sampai yang namanya Adinda itu yang jago menganalisis keuangan. Sekarang jadi milikku. Kamunya sih jadi orang marah-marah terus sama mereka. Jadi mereka tidak akan betah sama sekali."
Jawab Adinda dengan jujur.
"Kalau aku bosmu bagaimana?"
"Membayangkan punya bos seperti dirimu yang marah-marah nggak jelas itu. Aku pasti akan mengerjai kamu habis-habisan. dan aku sendiri orangnya nggak suka diperintah oleh siapapun. Jika kamu ngajak aku berantem. Aku akan menantangmu saat ini juga."
Mata Budiman membelalak sempurna. Ia membayangkan jika Adinda adalah seorang karyawannya. Cepat atau lambat akan ada perang antara bos dan karyawan secara terbuka. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Adinda sendiri memiliki keras kepala tingkat tinggi. Jadi dirinya akan stres terlebih dahulu.
Tidak sengaja Adinda melihat Budiman yang mulai stres. Lalu Adinda mulai tertawa lucu. Ia memegang tangan sang suami sambil berkata, "Masa, yang namanya pekerjaan isinya selalu salah semua. Padahal ngerjainnya sudah benar-benar. Kalau aku langsung pergi ke kantormu dan membuat kerusuhan di sana sekalian. Biarin saja sekalian Kamu stres menghadapi aku."
"Kalau begitu kamu nggak usah jadi karyawan deh. Bakalan kita perang habis-habisan. Lebih baik kamu jadi istriku saja."
"Ya nggak bisa gitu lah. Sebentar lagi perusahaan akan disatukan. Jadi mau tidak mau kita akan saling bekerja sama. Aku harap kamu tidak akan pernah lagi mengeluarkan emosi. Karena aku sendiri bersama Kak Faris memiliki sifat yang sama. Yaitu sifat saling menghormati terhadap karyawan. Jika itu terjadi, Kamu tidak akan mendapatkan jatah selama seminggu. Dan aku akan menyuruhmu tidur di luar bersama Pak satpam."
Sontak saja Budiman terkejut atas pernyataan Adinda. Ia tidak menyangka kalau mendapatkan ultimatum dari Adinda sangatlah berat. Bahkan ultimatum itu membuat dirinya akan semakin stres. Lalu apa yang akan Budiman lakukan?
"Kamu itu kalau membuat ultimatum Yang benar saja. masa kamu membiarkan suamimu yang tampan ini tidur di luar bersama satpam."
"Salah kamu sendiri. Mentang-mentang kamu bos dengan seenaknya marah-marah nggak jelas. Lalu membuat statement semuanya salah. Kamu kira mereka bekerja hanya coret-coret saja. Ya nggaklah. Kalau salah bilangin saja. Kenapa kamu ngegas seperti itu? Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kantor."
Jelas Adinda.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Tanya Budiman yang meminta solusi kepada sang istri.