
"Balik lagi ke perusahaan lama. Menjadi CEO senior di perusahaan tersebut. Sebenarnya aku paling suka bekerja sebagai distributor. Di sana aku bisa menemukan banyak perempuan-perempuan bule untuk kujadikan kekasih," jawab Faris yang tiba-tiba saja rindu akan pekerjaannya itu.
"Kalau lu masih di sana. Dan Dinda bersama Budi di sana. Lalu gue gimana? Sementara gue sering banget disuruh Paman Husein untuk mengerjakan banyak tugas. Otakku panas bro. Satu masalah belum selesai tambah masalah baru lagi," kesal Herman.
"Masa ini bukan itu bro. Sebenarnya gue nggak masalah kerja di sini maupun di sana. Kalau di Jakarta jiwa Playboyku hilang seketika. Lalu gue gimana?" Tanya Faris yang menatap Herman.
"Lu itu ada-ada saja. Kenapa lu nggak pernah berpikiran jadi orang bener? Lu mau hidup seperti Kak Malik yang jadi Flamboyan selamanya?" kesal Herman yang memberikan nasehat kepada keponakannya itu.
"Masalahnya wajahku ini sangat tampan sekali. Sayang kalau aku berubah menjadi Budiman. Lu tahu kan Budiman ketika masuk perusahaannya itu kayak es batu. Bisa-bisanya gue akan menutup wajah temanku itu seperti Budiman," ujar Faris.
Seketika Herman mulai tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak? Seorang Faris yang memiliki wajah tampan langsung menilai dirinya sangat tinggi sekali. Memang keponakannya itu penuh dengan percaya diri yang sangat tinggi.
"Berarti lu nggak diizinin jadi playboy," ucap Herman langsung menahan tawanya.
"Ya lu harusnya doa kek. Jangan langsung memutuskan kalau gue nggak diizinin jadi playboy. Lagian sekarang perempuan sama saja. Yang penting duit mengalir di ATM. Belum jadi istri sudah meminta uang kepadaku habis-habisan seperti ini. Jadinya aku tidak akan pernah serius untuk menjalin hubungan yang erat dengan perempuan manapun," ujar Faris dengan jujur.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Faris. Semua perempuan hanya menginginkan uangnya saja. Di sinilah Herman juga tersadar akan ucapan Faris. Dengan cepat Herman langsung menampiknya dan berkata, "Nggak semuanya wanita seperti itu, Ris. Masih ada perempuan yang baik-baik. Dia bahkan bisa mencintai seseorang dengan tulus tanpa harus meminta imbalan apapun."
"Siapa dia? Aku mau berkenalan dan ingin menikahinya," tanya Faris yang bersemangat sekali.
"Apa lu yakin ingin berkenalan sama dia?" tanya Herman dengan wajah datarnya itu.
"Iyalah. Itung-itung mau melepaskan masa lajang dan nggak ingin bermain dengan seorang perempuan," jawab Faris dengan serius.
Herman mulai menyelidiki wajah Faris tersebut. Herman bisa menilai kalau sifat playboynya Faris melalui Malik sang kakak. Mau bagaimana lagi dengan sifat Faris yang seperti itu. Dirinya tidak bisa mencegah dan membiarkan begitu saja.
"Lu serius pengen kenalan sama itu cewek?" tanya Herman sekali lagi.
"Ya mau. Kata siapa nggak mau sama dia?" tanya Faris balik.
"Dia bernama Atalia Sugono. Atau lebih dikenal sebagai nama Tia. Dia sangat cantik sekali dan berani menaklukkan seorang Flamboyan yang cukup terkenal di masanya itu," jawab Herman yang beranjak berdiri lalu meninggalkan Faris agar tidak terjadi keributan.
Faris mulai mencoba apa yang telah dikatakan oleh Herman. Beberapa detik kemudian, Faris sadar dengan ucapannya itu. Wanita yang sedang dibicarakannya itu adalah ibunya sendiri.
Setelah sadar Faris melihat Herman tidak berada di tempatnya. Ia mulai mengerutkan keningnya, sadar jika dirinya telah dikerjai oleh Herman.
"Dasar Paman tidak memiliki akhlak sama sekali. Bisa-bisanya Aku disuruh berkenalan dengan Ibu Tia. Masak aku disuruh menikah dengan ibuku sendiri? Mirip ceritanya Sangkuriang yang ingin menikahi ibunya sendiri," kesal Faris yang melihat Herman sudah menghabiskan makanannya.
Herman kembali dengan beberapa pengawal. Pengawal itu membawa dua stel baju formal yang akan dipakai satu jam kemudian. Ia langsung menyuruh pengawal itu menaruh pakaian tersebut di atas ranjang. Sebelum pergi Herman sengaja memberikan tips agar mereka menghabiskan waktunya hingga esok hari.
"Ke mana-mana kamu selalu membawa pengawal," ucap Faris.
"Itu harus dilakukan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di jalanan. Sebenarnya kalian berdua memiliki pengawal. Namun aku tahu kalian berdua tidak ingin didekati oleh mereka. Aku putuskan mereka untuk menjadi pengawal bayangan," jelas Herman yang sengaja memberikan pengawal bayangan buat dua keponakannya itu.
"Tapi mereka tidak muncul sama sekali," kesal Faris.
"Mereka memang sengaja tidak muncul. Aku tahu nanti mereka muncul hidupmu tidak akan nyaman seperti dulu lagi. Di keluarga Santoso, satu persatu memiliki pengawal. Pengawal tersebut memang sengaja aku ambil dari padepokan milik Andra. Mereka adalah orang-orang yang berkompeten. Bahkan mereka sengaja belajar dari instansi terkait yang mengerti tentang pengawalan tersebut," jelas Herman.
Faris akhirnya paham apa yang dimaksud dengan pengawal bayangan. Faris dan Adinda memiliki kesamaan. Mereka berdua tidak ingin dijaga oleh bodyguard. Sebab mereka bukanlah orang yang penting. Namun mereka tidak sadar. Kalau dirinya adalah seorang pengusaha sukses sedang diincar oleh banyak musuh di luar sana.
"Kamu itu sebenarnya nggak sadar. Kamu itu adalah seorang pemimpin di perusahaan besar dan elit. Beberapa klienmu itu sedang mengincar kamu dan juga Adinda. Mereka ingin membunuh kalian demi menciptakan ambisi yang cukup besar," jelas Herman.
Faris hanya mengangguk paham sambil beranjak berdiri. Lalu ia menatap kedua baju formal itu sambil tersenyum.
"Kenapa kalian memberikanku baju formal seperti ini? Seharusnya aku ingin memakai baju santai," tanya Faris.
"Nggak perlu memakai baju santai. Pakailah baju formal," jawab Herman sambil memasukkan kedua tangannya di kantong celananya itu. "Ini bukan acara ulang tahun bro. Ini acara pernikahan."
"Eh, bukannya esok hari ada konser Metallica ya di Singapura ini?" Tanya Faris yang mulai menatap Herman sembari mengajaknya pergi ke konser.
"Bener juga ya. Tapi malam ini kita harus kembali. Besok pagi ada meeting dengan klien yang berasal dari Austria," jawab Herman yang membuat Faris langsung membeku.
"Kenapa sih kamu kok ngingetin aku pada pekerjaan yang banyak itu? Bisa nggak kamu nggak ngingetin aku pada pekerjaan sialan itu? Padahal aku pengen banget lihat konser terlebih dahulu," kesal Faris yang benar-benar langsung membeku dan tidak bisa mengelak tentang meeting esok hari.
Ingin tertawa Herman malah kasihan. Bisa-bisanya sang keponakannya itu mau lari dari tanggung jawab. Kemudian Herman meraih ponselnya untuk menghubungi Malik.
"Sepertinya kamu nggak bisa mengelak dari pekerjaan ini deh. Meeting tetap harus dijalankan. Kita tidak boleh kehilangan investor untuk kesekian kalinya," ucap Herman sambil tersenyum manis.
"Lemparkan saja ke Adinda terlebih dahulu," kesal Faris.
"Ngapain juga dilempar ke Adinda? Percuma Adinda besok tidak akan pulang dengan cepat. Tuh Budiman sudah membuat status kalau mereka akan memperpanjang liburannya di Singapura beberapa hari ke depan," ejek Herman sembari meraih salah satu baju tersebut dan pergi ke toilet.