
''Yang pasti dia setia sama aku. Pengertian sama aku dan penyayang. Ada nilai plusnya lagi. Dia harus bisa mengimbangi kecerdasanku ini. Kalau soal strata sosial, aku tidak memperdulikannya. Mau kaya ataupun miskin asalkan dia benar-benar jujur mencintaiku," jawab Herman dengan jujur.
"Tipe seperti itu sangat mudah dicari. Kamu bisa saja mencari di lingkungan kerja ataupun lingkungan Kampung sini. Kok wanita-wanita di sini yang memiliki sifat yang baik. Atau juga kamu bisa mencari teman-teman di waktu masa sekolah dulu. Jangan laki-laki. Kamu harus mencari perempuan," ucap Faris sambil meledek Herman.
"Kamu itu ya suka banget meledekku seperti itu. Bisa-bisanya kamu selalu membuat aku jengkel seperti ini. Tapi bener juga apa yang kamu katakan. Aku harus mencari perempuan ketimbang laki-laki," ujar Herman yang tersenyum.
Kali ini Herman tidak marah kepada Faris. Karena Faris sengaja meledek untuk menghibur dirinya. Meskipun sering berantem tapi mereka sangat kompak sekali. Bahkan ejekan demi ejekan yang dikeluarkan oleh mereka. Bagi setiap orang akan tertawa mendengarnya.
"Ibu," panggil Faris.
"Ada apa memangnya?" tanya Tia sambil menatap wajah Faris.
"Apakah Adinda memiliki perjanjian sama keluarga Budiman?" tanya Faris balik.
"Pernikahan ini memang didasarkan oleh perjanjian. Sebelum kami menyerahkan Adinda ke Budiman Ibu sudah membaca perjanjian itu. Tapi sepertinya perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi. Karena mereka saling mencintai dan mengasihi. Kalau misi Adinda sudah selesai. Adinda bisa bercerai dari Budiman. Tapi nyatanya Adinda masuk ke dalam ruang hati milik Budiman. Jadinya mereka sekarang sudah tidak bisa terpisahkan oleh siapapun," jelas Tia.
"Lalu Bagaimana menurut ayah sendiri?" tanya Faris sambil memandang wajah Malik.
"Kalau mereka sering mencintai Kenapa tidak untuk melanjutkan pernikahan ini. Meskipun pernikahan ini adalah pernikahan perjanjian. Mereka harus melanjutkan hingga menjadi nenek dan kakek. Ayah tahu Adinda sangat mencintai Budiman. Begitu juga sebaliknya. Ayah tidak mau menjadi orang tua yang jahat. Mereka akan selalu bersama hingga tua nanti. Lagian mereka berdua sangat cocok untuk jadi pasangan suami istri," jawab Malik.
Itulah jawaban yang bijak dari kedua orang tua Faris. Paris sangat bahagia Ketika menemukan orang tua yang baik seperti itu.
"Lalu bagaimana dengan pendapatmu?" tanya Malik.
"Menurutku. Mereka itu sudah cocok sedari Dulu. Budiman cara memandang Adinda sangat beda. Budiman melihat Adinda seperti orang jatuh cinta. Maka dari itu aku merasakan mereka memiliki getar-getar cinta," jawab Faris.
"Kapan kalian berangkat ke Singapura?'' tanya Malik.
"Kami sedang menunggu kedatangan Irwan dan Roni. Mereka dalam perjalanan ke sini," jawab Faris. ''Lalu kapan Ayah berangkat?"
"Siang ini kami berangkat. Ayah sudah menghubungi seseorang untuk mengurus jet pribadi," jawab Malik.
"Ada isu yang mengatakan kalau ayah akan menjual jet pribadi," ujar Faris.
"Itu hanya isu saja. Banyak kok yang mengatakan seperti itu. Contohnya saja kemarin kabar beredar dengan cukup kuat. Malik jatuh miskin dan akhirnya menjual jet pribadinya sendiri," sahut Herman yang mengetahui berita tersebut.
"Tapi ya keterlaluan juga orang-orang seperti itu menghembuskan berita yang tidak sedap. Ayah tidak akan melepaskan pesawat itu. Karena pesawat itu adalah peninggalan kakek dan nenekmu. Jadinya Ayah masih merawatnya dengan baik. Hanya Adinda sendiri yang tidak memiliki pesawat. Adinda mengatakan lebih baik memakai pesawat komersil. Jika sudah waktunya hampir tiba, Adinda baru meminjam pesawat ayah," jelas Malik.
"Ya sudah lebih baik kalian hentikan saja mengobrolnya terlebih dahulu. Kalian makanlah. setelah itu tunggu Irwan dan juga Roni," suruh Tia agar mereka makan terlebih dahulu.
Akan tetapi, Diah nama wanita paruh baya itu tidak menyadari kesalahannya. Justru dirinya sendiri yang merusak kedua putrinya itu. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
Dalam hitungan detik, ada seorang polisi datang menghampiri keluarga tersebut. Polisi memeriksa keadaan Netty sebenarnya. Sedangkan sang ibu bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya ini? Sang polisi itu akhirnya bercerita. Kalau Netty terlibat dalam penculikan Tia. Bahkan Netty ingin sekali membunuh Tia saat itu.
Diah tidak menyangka kalau Putri kecilnya itu terlibat dalam penculikan. Ia sangat marah dan meninggalkan Netty sendirian. Padahal dirinya tidak ingin melihat Sang Putri menderita.
Pagi itu juga, Diah memutuskan untuk pergi ke rumah Adinda. Wanita paruh baya ingin bertemu dengan Adinda. Ia ingin menceritakan apa yang telah terjadi selama ini.
Sementara di Singapura, Adinda mengajak Budiman kembali ke kamar. Budiman terkejut atas permintaan Adinda. Sebab waktu bergulir dengan cepat.
"Maafkan aku yang telah mengajakmu ke dalam kamar ini. Aku belum menyiapkan gaun pesta untuk nanti malam. Jika kamu ingin berlibur lagi besok ya. Soalnya aku sendiri akan membuat kamu menjadi pria yang bahagia di pesta tersebut," ucap Adinda sambil memegang dada Budiman.
"Tidak apa-apa. Aku tidak marah sama kamu. Aku juga lupa kalau kamu tidak membawa gaun satupun dari rumah," sahut Budiman sambil memegang pipi gembul Adinda.
"Gaunku sengaja aku lelang buat orang-orang yang kurang mampu. Istilahnya aku pakai lalu ku jual lagi. Uangnya nanti aku berikan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Makanya kalau kamu di rumah jangan harap menemukan gaun-gaun yang bagus di dalam lemari," jelas Adinda.
"Makanya itu. Aku sendiri terkejut dengan isi lemarimu itu. Ya sudah tidak apa-apa. Aku tidak marah kok sama kamu. Sekarang kamu mau ngapain?" tanya Budiman.
"Biasanya jam segini aku bersama Andara berburu gaun. Berhubung aku sudah memiliki suami. Aku harus mengikuti keinginan suamiku terlebih dahulu," jawab Adinda.
"Aku ada kenalan seseorang yang berasal dari Indonesia. Dia temanku semasa sekolah SMA. Dia pria bertubuh lunak. Di balik itu semuanya, pria itu sangat jago sekali mendesain pakaian," ucap Budiman.
"Sepertinya aku mengenalnya. Kalau nggak salah namanya Alexandro?" tanya Adinda.
"Ya itu dia. Ternyata kamu mudah sekali mengingat seseorang. Kalau begitu kita akan ke sana setelah ini," jawab Budiman.
"Apakah aku boleh mengajak Andara dan Yuki? Kamu tahu aku sangat merindukan masa-masa di mana berburu pakaian bersama mereka. Kalau kamu nggak mengijinkan ya sudah," pinta Adinda.
"Tidak apa-apa. Lagian juga kamu harus butuh bersosialisasi kepada orang-orang terdekatmu. Aku tidak mau mereka menyebut kamu sombong," bisik Budiman yang sengaja memeluk Adinda dan mengelus-ngelus punggungnya.
"Hmmp.. Ada udang di balik batu nih," sahut Adinda sambil mengeratkan pelukannya itu.
"Sekarang ganti," sambar Budiman.
"Sekarang apa jadinya?" tanya Adinda.