Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 150



“Gue nggak dapat apa-apa dari keponakanmu itu. Malahan keponakanmu menyuruhku tidur,” jawab Budiman.


Seketika Herman dan Adinda tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa mereka berdua sengaja meledek Budiman. Akan tetapi mereka menggelengkan kepalanya sambil menatap Budiman.


“Sepertinya setiap pelajaran biologi kamu kabur deh dari kelas. Soalnya kamu sendiri tidak mengetahui apa itu reproduksi wanita. Di pelajaran itu Kenapa wanita suka libur dalam sebulan sekali,” ledek Herman.


Adinda hanya menepuk jidatnya saja. Entah kenapa sang Paman mengetahui dirinya kalau sedang datang bulan. Apakah Herman memiliki mata-mata di villanya sendiri? Entahlah. Memang Herman itu memiliki otak yang sangat cerdik sekali. Sangking cerdiknya, Herman bisa menebak kenapa ini bisa terjadi dengan secara mendadak.


“Habis ini ada meeting tentang nasibnya Mr Budiman is my husband. Aku harus memutuskannya karir beliau. Untuk saat ini aku perlu dukungan seseorang untuk menghajar kedua orang tua Gilang. Karena aku sendiri sudah muak menghadapi orang-orang seperti itu,” ucap Adinda yang meminta Herman mendukungnya.


“Kamu tidak perlu takut dengan keputusanmu itu sendiri,” seru Kartolo yang datang bersama Kamila lalu masuk ke dalam.


“Papa mama,” pekik Adinda dan Herman secara bersamaan.


“Iya kami datang untuk menyaksikan keputusanmu itu terhadap karir Budiman. Kalau bisa kamu mengeluarkan banyak fakta tentang perusahaan ini. Karena kamu adalah pemegang saham terbesar,” jelas Kartolo yang sengaja membakar semangat Adinda.


“Semuanya itu tidak menjadi masalah buat aku. Aku sendiri sedang gelisah menghadapi mereka. Siapa tahu hari ini dia kalah. Lalu keesokan harinya dia menyerang secara membabi buta. Soalnya aku mengetahui sifat-sifat mereka seperti itu,” jelas Adinda.


“Kamu tidak perlu takut menghadapi mereka. Banyak orang seperti dewan direksi yang jujur akan mendukungmu. Mereka memang sengaja menunjuk kamu sebagai seseorang yang memiliki keputusan baik. Jangan pernah ragu atas keputusanmu itu. Tetaplah semangat dan maju bersama dengan kebenaran,” pesan Kamila.


Kepercayaan diri Adinda semakin besar. Kalau digambarkan Adinda itu seperti wanita sedang membawa trisula. Memang Adinda sudah ditakdirkan untuk melawan kejahatan. Yang namanya manusia, ada rasa takut di dalam hati Adinda.


Mereka pun mengangguk dengan bersamaan. Kemudian Budiman memimpin doa untuk kelancaran acara yang sebentar lagi akan digelar. Setelah itu mereka akhirnya berangkat bersama ke aula rapat. Dengan santainya mereka memasang aura kejamnya masing-masing.


Sesampainya di sana, kedua orang tua Gilang sudah datang. Mereka langsung menatap rombongan Budiman dengan wajah sinisnya. Jujur bagi Adinda ini sangat lucu sekali. Bahkan Adinda tersenyum meledek kepada mereka.


Ketika masuk ke dalam, Gina mendekati Adinda sambil berbisik, “Kalau kamu tidak mau bekerja sama dengan kami. Maka perusahaanmu akan kami hancurkan berkeping-keping. Aku ingin melihatmu menangis darah dan memohon kepadaku.”


Adinda langsung tertawa terbahak-bahak. Menurutnya ini sangat lucu sekali. Bahkan ketika tertawa, Adinda mengejeknya habis-habisan. Sifat itu memang kurang sopan bagi petinggi perusahaan. Akan tetapi Adinda memang sengaja berlaku tidak sopan terhadap mereka. Menurutnya mereka itu tidak pantas diperlakukan dengan sopan.


“Maaf Bu. Aku juga pemegang saham di perusahaan putra kesayanganmu itu. Bahkan aku memiliki saham sebesar lima puluh delapan persen. Aku bisa melengserkan Gilang dengan jentikan tanganku m tapi aku tidak melakukannya untuk saat ini. Karena aku sedang menunggu detik-detik kehancurannya itu,” bisik Adinda di telinga Gina dengan tegas.


Gina pun hanya bisa terdiam. Jujur dirinya sudah kalah telak dari Adinda. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Adinda sendiri sedang menunggu kehancuran Gilang. Lalu Gandi sang suami Gina mengajaknya masuk ke dalam.


Dengan senyum liciknya, Adinda menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya itu. Budiman tidak sengaja melihat wajah Gina yang tiba-tiba saja pucat. Pria bertubuh kekar itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Karena sebelum masuk Gina berbincang kepada Adinda. Jujur Budiman saat ini sangat penasaran sekali. Kenapa Gina yang datang dengan wajah angkuhnya tiba-tiba saja menjadi pucat? Ia harus mencari informasi itu melalui Adinda sendiri.


“Kenapa wanita tua itu wajahnya pucat dengan tiba-tiba? Harusnya wanita itu duduk dengan kursi kebesarannya bersama wajah angkuhnya itu? Apa yang dilakukan oleh Adinda? Inilah yang membuat aku penasaran untuk saat ini. Aku harus mencari tahu apa yang dikatakan oleh Adinda,” batin Budiman.


“Apakah acara bisa dimulai dengan segera?” tanya Adinda sambil tersenyum meledek Dina dan Gandhi.