Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 84



“Sudah dua kali ayah bertanya seperti itu. Ada apa dengan ayah sebenarnya?” tanya Faris.


“Ayah hanya memastikan saja. Apakah kamu merelakan Adinda bersama Budiman?” tanya Malik sengaja bertanya lagi.


“Aku sudah merelakan ayah. Biarkan Adinda bahagia bersamanya Budiman. Apakah ayah tahu? Kalau Budiman itu sangat bucin kepada Adinda? Budiman pernah mengatakan kalau Adinda adalah seorang wanita yang akan mengisi hidupnya hingga akhir hayatnya,” jelas Faris dengan jujur,


“Baiklah. Ayah akan menyetujui pernikahan ini. Ayah akan membicarakan kepada Adinda dan Budiman. Sudah malam... waktunya tidur,” ajak Malik yang mulai berdiri dan meninggalkan mereka.


Herman melihat snack dibawa Malik masih berada di meja. Lalu Herman berteriak, “Kak.”


“Ada apa?’ tanya Malik yang membalikkan badannya.


“Snacknya?” tanya Herman.


“Makan saja. Aku salah beli Snack tadi,” jawab Malik.


“Kok bisa?” tanya Herman yang mulai mencurigai Malik.


“Ya... makan saja,” suruh Malik sambil berjalan meninggalkan mereka.


Malik memasuki rumah sambil tersenyum lucu. Ia sengaja membawa snack dengan rasa pedas level lima puluh. Memang meski usianya sudah memasuki paruh baya, Malik ternyata sangat usil sekali. Mereka berdua sering sekali terkena jebakan Malik.


Kriuk...


Kriuk...


Tak lama Faris merasakan lidahnya terbakar. Ia segera masuk ke dapur untuk mengambil air mineral di kulkas. Lalu ia meminumnya sampai habis.


“Dasar snack sialan... Mulutku terbakar karena snack itu,” kesal Faris.


Beberapa saat kemudian datang Herman. Ia juga merasakan hal sama. Mulutnya terbakar dan mendorong Faris hingga terjatuh tersungkur.


Bugh!


“Paman,” teriak Faris dengan suara menggelegar.


Herman sedang membuka kulkas tidak mempedulikan Faris jatuh. Ia malah mengambil air mineral lalu meminumnya. Ia menghabiskan dalam waktu sekejap.


Adinda baru saja turun tidak sengaja mendengar keributan di dapur. Ia mengerutkan keningnya sambil berjalan mengendap-endap seperti pencuri. Ia sangat takut sekali jika ada pencuri masuk ke dalam rumah. Dengan cepat Adinda masuk ke dapur dengan membawa sapu.


“Siapa di dalam?” tanya Adinda sambil teriak.


“Kami,” jawab Herman yang mendengar suara Adinda.


“Kami siapa?” tanya Adinda.


“Herman,” jawab Herman yang membuat Adinda lega.


Adinda masuk ke dalam dan melihat Herman mengatur nafasnya. Ia bingung dengan apa yang telah terjadi dengan sang paman? Lalu Adinda mendekatinya sambil menatap Herman kebingungan.


“Ada apa?” tanya Adinda yang tidak sengaja melihat sang kakak telungkup di lantai. “Lha ini kenapa?”


“Kami terkena jebakan dari Kak Malik,” jawab Herman sambil membungkukkan badannya dan menarik  Faris hingga bangun.


Adinda langsung meledakkan tawanya. Ia tahu kalau sang ayah memiliki sifat jahil. Ia juga sering terkena kejahilannya. Meskipun begitu Adinda tetap sayang kepada sang ayah.


“Sudah lama kalian tidak terkena jebakan ayah,” ledek Adinda.


“Ngapain kamu kesini Din?” tanya Faris. “Bukannya buat keponakan yang lucu malahan kabur kesini.”


“Memangnya kakak sudah siap memiliki keponakan baru?” tanya Adinda.


“Iyalah,” jawab Faris.


Adinda segera mengambil sebuah teko. Ia lalu mengisi air ke dalam teko itu. Ia sengaja menyiapkan minum itu buat Budiman. Agar Budiman tidak turun ke bawah.


“Tapi enggak sekarang,” ucap Adinda.


“Kenapa?” tanya Faris yang menghempaskan bokongnya di hadapan Adinda.


“Kenapa kamu harus pergi ke Amerika?” tanya Herman.


“Karena aku sendiri memang ingin melanjutkan S3 manajemen bisnis dan ekonomi” jawab Adinda.


“Jangan ke Amerika. Lebih baik kamu pindah fakultas?” tanya Adinda.


“Pokoknya kamu harus pindah fakultas,” jawab Herman.


“Lalu bagaimana dengan Kak Budiman?’ tanya Adinda.


“Aku sudah mendaftarkan kalian masuk ke fakultas di negara Finlandia,” jawab Herman.


“Ha? Finlandia?” tanya Adinda.


“Ya,” jawab Herman.


“Berikan satu alasan ketika aku harus pindah ke Finlandia?” tanya Adinda.


“Besok kamu tanyakan saja pada Kak Malik,” jawab Herman yang mengambil buah apel.


“Jadi?’ tanya Adinda.


“Tiga hari lalu Kak Malik memintaku untuk mendaftarkan kalian ke universitas di Turku dengan jalur beasiswa. Mereka langsung memberikan surat balasan. Kalian sudah diterima disana,” jawab Herman.


Adinda semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Herman. Ia tidak menyangka kalau tempat kuliahnya berganti tempat. Ia masih bertanya apa yang terjadi untuk saat ini.


“Kalau begitu ya sudahlah. Aku balik ke kamar,” pamit Adinda.


“Hati-hati,” balas Faris yang sebenarnya juga bingung.


Melihat kepergian Adinda, Faris menatap tajam ke arah Herman. Ia juga sendiri bingung apa maksudnya ini? Bukankah sang adik kuliah di Harvard?


“Besok pagi di kantor akan aku ceritakan semuanya. Aku tidak bisa menceritakan semuanya,” jawab Herman. “Ayo tidur.”


Faris menganggukan kepalanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi tidur. Sementara itu Adinda masuk ke dalam. Ia melihat tidak sengaja melihat Budiman sedang mengotak-atik ponselnya.


“Kenapa bangun?” tanya Adinda.


“Aku bangun karena tidak mendapati kamu di sampingku,” jawab Budiman yang melemparkan ponselnya di ranjang.


“Biasanya kamu tidur sendiri sebelum menikah,” ledek Adinda sambil menaruh teko di atas nakas.


“Sebelum dan sesudah itu beda. Sebelum itu aku sendirian. Sesudah aku sekarang berdua. Jika kamu tidak berada di sampingku, rasanya ada yang hilang,” ucap Budiman.


Adinda menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia mulai memiringkan tubuhnya dan menatap Budiman. Ia memegang tangan kekarnya sambil berkata, “Kayaknya kita enggak jadi kuliah di Harvard.”


“Oh... aku sudah mendengarnya di kanto beberapa waktu lalu. Papa sudah mengatakan ini ke aku. Aku lupa menyampaikannya ke kamu,” ucap Budiman yang memiringkan tubuhnya dan wajahnya mendekati Adinda.


“Kenapa?” tanya Adinda.


“Yang aku dengar informasinya, Gilang sedang menguasai negara itu. Jika ke sana nyawa kita terancam,” jawab Budiman.


“Apakah kamu serius?” tanya Adinda.


“Ya... Bahkan dia sendiri sudah bekerja sama dengan mafia,” jawab Budiman.


“Semakin saja mengerikan saja,” celetuk Adinda.


“Itu benar. Papa mendapatkan informasi itu dari para kliennya. Mereka juga sangat ketakutan jika menginjakkan kakinya di negara Amerika. Jalan satu-satunya adalah pindah tempat kuliah. Papa memberikanku tiga pilihan negara yang kita tuju untuk kuliah. Yaitu Jerman, Belgia dan juga Finlandia. Berhubung di Finlandia ada apartemen papa. Aku memutuskan untuk kuliah di sana. Itulah aku langsung menentukan pilihan sesungguhnya,” jelas Budiman.


“Terus kakak kerja sama dengan Paman Herman?” tanya Adinda.


“Memang. Kami memang bekerja sama dengan ayah Malik. Awalnya ayahmu mengotot untuk pergi ke Harvard. Sistem pendidikannya sangat bagus untuk mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Lalu Papa menjelaskan semuanya, Ada apa di Amerika? Ayah langsung terkejut dan mencari informasi tersebut. Memang benar informasi yang didapatkan oleh ayah. Ayah akhirnya menyetujui rekomendasi tempat kuliah yang aku berikan,” sambung Budiman.


“Kenapa jadi mengerikan seperti ini? Padahal kita itu kuliah bukan macam-macam,” tanya Adinda yang masih bingung dengan Budiman.