Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 64



"Mau nggak mau kamu harus menurutiku. Seenaknya saja kamu membentak mereka semuanya. Kamu nggak tahu kalau mereka itu kerja keras demi memajukan perusahaanmu. Kalau kamu kayak gitu ya habislah."


Kesel Adinda yang membuang wajahnya agar tidak melihat wajah Budiman.


"Kamu nggak usah kesal gitu sama aku. Mulai saat ini aku akan mengubah sikapku. Kalau kamu kesal seperti itu. Lalu bagaimana dengan aku?"


Tanya Budiman yang sangat menelas sekali.


"Rubahlah sikapmu menjadi orang baik. Aku tidak mau kamu menjadi orang jahat terus-terusan seperti itu. Aku nggak mau memberikanmu tanda sebagai manusia terkejam di dunia ini. Bisa nggak kamu berubah? Jika kita memiliki anak, terus sifatmu tidak mau berubah. Anakmu akan jadi berantakan. Yang baru biarlah berlalu. Buatlah semuanya menjadi pelajaran. Jangan sampai terulang lagi. Bukankah kita adalah makhluk sosial? Yang di mana makhluk sosial itu membutuhkan orang lain. Anggaplah mereka adalah keberuntunganmu. Sudah itu saja. Aku sudah memaafkanmu."


Jawab Adinda yang menatap wajah Budiman sambil merentangkan kedua tangannya.


Budiman melihat Adinda yang merentangkan kedua tangannya. Dengan senyum sumringahnya, Budiman langsung berhambur di dalam pelukan sang istri. Pria bertubuh kekar itu ternyata orang yang tidak berdaya sama sekali. Bagaimana bisa dirinya telah menghancurkan banyak orang? Bagaimana kalau ia diputar posisinya kepada para karyawannya itu? Pasti perih.


Menikahi Adinda, Budiman mendapatkan nilai plus-plus. Yang di mana nilai plus-plus itu tidak akan pernah didapatkan dari Kanaya. Meskipun Adinda terlahir dari keluarga konglomerat. Namun Adinda sendiri tidak pernah merendahkan sesamanya. Jika dirinya tidak suka, maka lebih baik ia pergi menjauh. Agar tidak menimbulkan kekerasan maupun kekejaman di dalam hatinya.


"Bantu aku menjadi pria dewasa. Andai saja Kalau waktu bisa diputar. Aku akan menikahimu setelah lulus sekolah."


Bisik Budiman yang bangga terhadap istrinya itu.


"Kamu itu ada-ada saja. Aku nggak pernah terpikirkan untuk menikah muda. Ya sudah kita jalani apa adanya. Aku harap kamu bisa belajar hidup sederhana. Karena aku sendiri ingin hidup sederhana."


Ucap Adinda sambil mengusap-ngusap punggung Budiman.


"Apakah kamu masih marah tentang kejadian itu?" 


Tanya Budiman tiba-tiba saja ingat kejadian siang panas membara.


"Yang mana? Yang sama Kanaya?"


Tanya Adinda balik.


"Sesudahnya. Yang di mana aku memperk*samu."


Jawab Budiman malu-malu untuk mengungkapkan siang membara itu.


"Yang namanya kejadian ya sudah. Terus aku mau apa? Meskipun nggak cinta kalau udah kejadian. Apakah aku harus marah sama kamu? Nggak semudah itu aku harus marah sama seseorang. Lapor polisi pun pasti ditertawakan habis-habisan. Soalnya sudah jelas kalau kita memiliki surat nikah. Kecuali kalau kamu selingkuh baru aku laporkan."


"Jadi kamu nggak marah?"


Tanya Budiman yang masih ragu atas jawaban Adinda.


"Ya nggaklah. Percuma marah-marah terus. Kamu itu ada-ada saja. Terus aku harus apa? Menangisi keadaan karena telah kehilangan mahkotaku sendiri? Dasar kamu aneh."


Diam-diam Budiman tersenyum mendengarnya. Syukurlah, Adinda tidak memiliki trauma yang berat atas dirinya. Ia yakin kalau Adinda memiliki mental yang sangat kuat. Bahkan mentalnya sendiri pun sangat lemah ketimbang mentalnya milik Adinda.


"Sebelum kamu tinggal di rumahku. Kamu izin gih Sama mama papa. Agar mereka tidak khawatir lagi."


Pinta Adinda. 


"Baiklah kalau begitu. Kamu tahu rumahmu itu banyak sekali kenangan indah. Makanya aku tidak mau pergi dari rumahmu itu."


Jelas Budiman yang membuat Adinda kebingungan. 


"Kamu itu gimana sih? Bukankah orang sudah nikah itu harus berpisah dengan kedua orang tuanya?" 


Tanya Adinda yang benar-benar bingung. 


"Ya nggak gitu kali. Aku mampu membeli rumah sebanyak sepuluh bangunan. Tapi aku nggak mau. Karena rumahmu itu memiliki filosofi yang epic. Yang di mana filosofi itu, mengingatkanku pada masa-masa sekolahku dan teman-temanku. Selain itu juga, rumah itu adalah camp favoritku. Maka dari itu aku memutuskan untuk tinggal di rumah kamu."


Adinda hanya menggarukkan kepalanya. Jujur sampai saat ini dirinya masih bingung. Padahal ia bermimpi ingin sekali berpisah dari kedua orang tuanya setelah menikah. Namun ini tidak, sang suami malah ingin tinggal di kamarnya itu. Mau tidak mau Adinda mengalah dan membiarkannya saja. Selain itu juga jarak kantor milik Budiman sangat dekat sekali. Bisa dikatakan Budiman menempuh dengan jalan kaki saja. Akan tetapi Budiman tidak mau melakukannya. Karena Tio maupun sopirnya selalu saja mengantarkannya. Jadi terpaksa dirinya mengalah.


"Jujur, selama ini kekerasan dalam rumah tangga sedang meningkat. Sang perempuan selalu saja menjadi korbannya. Lalu, kamu kok berani melawanku? Banyak sekali perempuan jika berhadapan denganku pada waktu marah. Mereka akan mundur satu persatu. Mereka tidak mau menemuiku lagi."


Ucap Budiman yang terkekeh.


"Kamu nggak tahu kalau aku memiliki sifat bar-bar. Sifatku itu nggak bisa berubah. Aku pernah tawuran sama anak sekolah lainnya. Bahkan aku sering melawan preman. Kalau kamu nggak tahu Tanya saja sama Andara. Kalau kamu masih di bawahnya preman. Preman lebih ganas ketimbang kamu. Maka dari itu, gertakanmu itu tidak ada apa-apanya."


Jelas Adinda yang mengungkapkan isi hatinya itu.


"Bahkan aku sendiri sering berdarah-darah kalau pulang. Sampai-sampai ayah dan ibu kebingungan. Kenapa putriku ini suka tawuran? Padahal ayah dan ibu tidak pernah tawuran."


Budiman tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Adinda. Ia sendiri tidak pernah tawuran sama sekali. Jika ada tawuran, Herman atau Faris akan menariknya pulang. Mereka sangat peduli sekali terhadap Budiman.


"Kamu tahu, kalau aku tidak suka dengan namanya tawuran. Padahal dulu aku sering diajak tawuran. Ujung-ujungnya paman dan abangmu itu menarikku pulang. dia menjelaskan dari a sampai z agar aku tidak ikut tawuran. Lalu kenapa kamu kok suka ikut tawuran?"


Tanya Budiman yang masih mengingat momen-momen tersebut.


"Kamu tahu kenapa aku suka tawuran? Jawabannya adalah aku pernah dikejar sama anggota tawuran tersebut. Aku disangka menyusup tapi aku bukan menyusup saat itu. Dengan kesalnya aku dituduh. Jujur aku nggak akan mungkin lapor masalah itu ke ayah ibu. Bisa-bisa ayah akan menertawakanku. Cucunya Pak Agung Santoso kok kalah sama orang-orang seperti itu? Lalu aku berpikir… gimana caranya biar tawuran ini semakin semarak. Aku mulai menjadi kepala di sekolahku. Setiap mau tawuran, aku berada di sana. Setelah itu aku kabur. Jika ada yang mengejarku. Mereka akan mendapatkan balasannya. Yaitu aku akan melaporkan mereka ke aparat setempat."


Jelas Adinda yang membuat Budiman salut kepadanya.


"Ya secara kamu itu perempuan. Kamu nggak pantas untuk tawuran. Tapi kamu juga tawuran. Ya sudah deh. Ngomongin masa-masa sekolah itu lebih indah. Ketimbang masa-masa sekarang."


Bisik Budiman sambil memegang tangan Adinda. 


"Sekarang aku tanya. Memangnya kamu hidup di masa sekarang nggak ada indahnya? Kalau nggak ada indahnya itu berarti aneh. Kamu nggak bisa menikmati hidupmu selama ini."


Tanya Adinda yang membuat Budiman berpikir ulang.