
"Aku berharap Adinda tidak akan pergi dariku. Jika pergi maka kemungkinan besar Adinda bisa menggantikanku dengan pria lain," jawab Budiman yang membuat Kamila menahan tawa.
"Kamu ini ada-ada saja sih. Mana ada aku mengganti kamu dengan pria lain. Memangnya pasangan hidup itu seperti baju ya? Sering diganti dengan yang lain. Istilahnya kalau ada baju baru yang lama dianggurin dan dibuang gitu? Ya nggaklah. Memangnya aku Kanaya apa?" jelas Adinda yang membuat Budiman paham.
"Tuh denger apa kata Adinda. Jangan asal nuduh saja. Nggak semuanya wanita itu seperti Kanaya. Giliran kamu punya uang didatengin. Minta barang-barang brandedlah. Minta mobil mewahlah. Terus sekarang ke mana itu Kanaya? Kalau kamu susah pun dia nggak akan pernah datang. Kalau kamu sakit siapa yang merawat? Ujung-ujungnya mama kan. Mama dan Papa sudah memperingatkan kamu dari awal bagaimana Kanaya itu. Kamunya sih yang nggak percaya kepada kami. Bahkan Dinda secara terang-terangan juga memperingatkanmu. Dinda memperingatkanmu tidak memakai bahasa halus. Malahan Dinda memakai bahasa dengan kasar. Agar kamu paham siapa itu wanita ular sebenarnya. Eh ujung-ujungnya kamu malah memusuhi kami," sambung Kamila.
"Itu benar ma. Tapi untunglah semuanya sudah berakhir dengan sempurna. Kita makan dulu ya ma. Kok akhir-akhir ini aku suka lapar," ucap Budiman.
"Memangnya tadi siang kamu nggak makan?" Tanya Kamila.
"Makan. Gara-gara banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Tenagaku terkuras habis. Jadi ujung-ujungnya aku lapar lagi," jawab Budiman.
Adinda pun akhirnya mengalah dan menyuruh Budiman makan. Mereka segera mencari tempat makan yang nyaman. Saat mencari Adinda tidak sengaja melihat Gilang. Begitu juga dengan Gilang, pria itu langsung memasang wajahnya dengan penuh kemurkaan.
"Kenapa Ada orang gila di sini ya? Apakah dia akan membuat kerusuhan? Dia belum tahu menghadapi anak bekas tawuran," ejek Adinda kepada Gilang.
Budiman dan Kamila menatap wajah Gilang. Akan tetapi Adinda menggelengkan kepalanya. Agar mereka tidak usah menatap wajah Gilang.
"Adinda pemilik perusahaan SM Company. Yang di mana perusahaan itu memproduksi makanan kaleng. Dan makanan kaleng itu sudah mendunia ke mana-mana. Tapi sayang kamu berlindung di balik topengmu," ejek Gilang sambil tersenyum iblis.
"Woi, nggak salah lu ngomong gitu sama gue! Seharusnya gue yang ngomong itu ke lu!" ejek Adinda balik. "Yang namanya pelaku akan menjadi korban secara mendadak. Dan itu dinamakan playing victim."
"Begitu ya... Kamu sangat pintar sekali. Memang kamu menjadi kebanggaan di setiap orang yang mengenalmu. Tapi sayang kamu itu bodoh. Kamu menikahi seorang pria pengangguran seperti dia," tunjuk Gilang ke arah Budiman.
"Ish... Ada-ada saja kamu ini. Kata siapa suamiku pengangguran? Kalau pengangguran suamiku akan berusaha untuk mencarikan aku uang untuk menyambung hidupku ini. Kenapa kamu bilang seperti itu sama Budiman?" tanya Adinda dengan nada ketus.
"Ternyata kamu sangat bodoh ya jadi itu perempuan. Kamu itu sedang dimanfaatkan oleh Budiman. Dia adalah calon suami dari Kanaya," jawab Gilang sengaja membuat Adinda marah.
"Bukankah Kanaya adalah istri kamu. Bahkan kalian sendiri sudah memiliki dua anak yang berusia kurang lebih tiga tahun. Kamu jangan mengarang yang tidak-tidak. Aku tahu bahasa Indonesiamu sangat bagus sekali. Bahkan kamu sendiri sering ditunjuk oleh guru ikut perlombaan pengarang," ujar Adinda dengan nada santainya.
"Apa yang kamu bilang? Kanaya tidak pernah menikah denganku. Kedua anak itu bukanlah anak-anakku. Kamu itu adalah seorang wanita yang sering berada di klub malam," ejek Gilang.
Adinda pun tertawa terbahak-bahak mendengar Gilang. Adinda tahu kalau Gilang sedang menyindir istrinya itu. Kenapa dirinya sekarang kena sasaran? Itulah Adinda Kalau bertemu dengan Gilang selalu saja menjadi kambing hitam.
"Ya okelah... Lu itu selalu saja membuat masalah sama gue. Yang melakukan siapa sini yang selalu kena. Bukalah matamu untuk melihat Kanaya sebenarnya. Dia adalah seorang wanita yang selalu berada di klub malam dalam maupun luar negeri. Jadi, kalau lu bermain seperti ini. Semuanya sudah terbaca. Lu belum tahu saja, kalau kejelekan lu sendiri sudah berada di tangan gue. Cepat atau lambat lu yang akan kena akibatnya. Oh iya Gil, gue bilangin sekali lagi. Jangan sekali-sekali kamu mengambil tender gue. Gue bisa saja berbuat gila. Bahkan lebih gila daripada Kanaya istri lo itu. Manis di luar tapi iblis di dalam. Gue nggak pernah makai topeng dan bersembunyi di belakangnya. Adinda adalah Adinda. Kanaya adalah Kanaya. Adinda tidak bisa disamakan dengan Kanaya. Adinda juga tidak selevel sama Kanaya. Kalau lu masih menyangkut pautkan gue sama Kanaya. Lu bakalan end," ancaman Adinda dengan nada santai tapi menyakitkan.
Kamila dan Budiman hanya bisa melihat Adinda melawan Gilang. Jujur mereka berdua ketakutan. Mereka tidak menyangka kalau Adinda memiliki keberanian bertubi-tubi. Bahkan Adinda sendiri akan melawan Gilang hingga titik penghabisan.
"Kamu!" geram Gilang sambil menunjuk Adinda.
Gilang sangat geram sekali kepada Adinda. Bisa-bisanya Adinda mengatakan seperti itu kepada dirinya. Gilang tidak akan tinggal diam dan mulai melakukan aksi penghancuran SM Company.
Apa yang akan dilakukan oleh Adinda? Adinda sudah mempersiapkan langkah awal untuk melindungi SM Company. Yang dikatakan oleh Gilang, tidak akan terpengaruh dengan saham SM Company. Bukti kejahatan Gilang sudah berada di tangan Adinda. Belum lagi bukti kejahatan dari Budiman. Yang di mana bukti itu akan dikumpulkan menjadi satu. Bisa saja Adinda melaporkan setiap kepolisian yang berada di beberapa negara.
Adinda, Budiman dan Kamila memilih untuk diam sambil mencari restoran. Mereka tidak ingin membahas apapun soal Gilang. Namun hati Budiman sedang kacau total. Bagaimana tidak sang istri berani melawan orang seperti Gilang? Tak lama mereka menemukan kedai mie ramen. Berhubung Budiman tidak ingin makan berat-berat, Budiman memutuskan untuk makan yang ringan saja. Budiman berdiskusi sama mama dan istrinya. Mereka menyetujui makan mie ramen bersama.
"Kita makan di sana saja. Nanti malam kita makan lagi," ajak yang mendapatkan persetujuan dari mereka.
Mereka memasuki restoran itu. Tak lama ada seorang pelayan yang mendekatinya. Pelayan itu mengarahkan bagaimana caranya memesan mie ramen dengan melalui aplikasi. Setelah mengajarkan, pelayan itu akhirnya mundur.
"Kamu mau makan apa?" tanya Adinda sambil membuka menu.
"Boleh nggak makan kamu? Mumpung masih sore. Kamu sangat lezat sekali. Apalagi kamu di atas ranjang," jawab Budiman Kalau ngomong tidak memakai saringan.
Mata Kamila membulat sempurna. Bagaimana bisa Sang putra berbicara tanpa disaring di depannya? Jujur, untuk saat ini Kamila sangat malu. Ia ingin melemparkan putranya ke ujung pulau Jawa.
Duakkkkkkkkk!
"Augh!" Teriak Budiman dengan cepat memegang kakinya.
Saat memegang kakinya, Budiman menatap Adinda yang matanya sudah menyalang. Ia sangat malu sekali pada perkataan Budiman. Bisa-bisanya Budiman berbicara dengan kata-kata seperti itu. Mana lagi tidak disaring di hadapan sang mama.
"Aish.... Kamu galak banget neng sama Abang," ucap Budiman yang wajahnya berubah menjadi sendu seperti anak kecil yang dimarahin sama ibunya.
Tidak sengaja Kamila melihat wajah Budiman yang berubah sendu. Ia menahan tawanya agar tidak menertawakan Sang putra. Sedetik dua detik akhirnya Kamila tertawa terbahak-bahak.
Adinda yang melihat Mama mertuanya tertawa hanya tersenyum saja. Betapa bahagianya Adinda bisa melihat Kamila tertawa lepas seperti itu. Adinda baru paham kalau Budiman adalah putra kesayangannya.
Sore ini adalah sore yang sangat membahagiakan. Pertemuan Gilang tidak merusak suasana hati Adinda. Ia semakin bersemangat sekali menjadikan momen kebersamaan. Adinda yakin dengan Budiman bersama Kamila membuat hubungannya menjadi lebih baik lagi.
Selesai memesan makanan, mereka menunggu dan melihat suasana kedai mie ramen sangatlah epic. Tiba-tiba saja Budiman mendapatkan ide. Kenapa dirinya tidak membuka restoran di sini? Budiman mulai meraih ponselnya mengirimkan pesan kepada Tio. Ia mulai menceritakan ingin membuka beberapa gerai restoran. Namun Tio belum menanggapinya. Karena Tio sendiri masih sangat sibuk sekali.
Tak selang berapa lama, mie ramen pesanan Budiman akhirnya datang. Mereka menikmati mie ramen itu dengan santai. Budiman memberikan beberapa toppingnya ke Adinda sambil berkata, "Makanlah yang banyak. Aku tidak mau melihat tubuhmu sangat kurus sekali."
"Tumben kamu perhatian sekali kepada Adinda," ledek Kamila.
"Kalau aku gemuk bagaimana?" tanya Adinda.