
"Motifnya belum aku temukan. Makanya aku sengaja kesini untuk menemui kamu. Aku tidak bisa berbicara dengan tenang jika mereka melakukannya," jelas Goerge.
"Bagaimana dengan London?" tanya Budiman.
"London aman-aman saja. Oh... ya ada informasi tentang Kanaya. Kanaya diusir dari London dan di blacklist. Ia sudah mengancam banyak pria yang berprofesi sebagai tentara melakui sosmednya," jelas Goerge.
"Sedari dulu dia memang begitu. Dia hanya berani berteriak-teriak di sosial media," celetuk Adinda.
"Benarkah itu?" tanya Goerge.
Adinda menceritakan siapa sebenarnhya Kanaya. Disini Goerge yang tidak tahu lengkap tentang Kanaya terkejut. Ternyata Goerge langsung menilau kalau Adinda adalah wanita yang sangat cerdas sekali. Ia bahkan memuji Adinda sebagai informan valid.
Mereka memutuskan untuk mengobrol sampai hadwal selanjutnya tiba. Untuk urusan sadap menyadap, Adinda langsung memutuskan untuk membantu Budiman. Ia sudah menghubungi Yuki sembari meminta virus dan anti virus buat ponselnya Budiman. ia juga tidak lupa akan memproteksi ponselmya juga.
Malampun tiba, acara pertemuan dengan dua klien milik Budiman selesai. Meskipun klien pertama tidak menanamkan modalnya. Tapi mereka tidak marah.
Justri itu mereka mendapatkan informasi ntuk berjaga-jaga. Agar Gilang tidak menyerang secara bertubi-tubi.
"Kita tidak mendapatkan investor untuk memperbesar perusahaan," ucap Adinda.
"Semuanya tidak menjadi masalah. Nanti aku menceeritakan semuanya kepada mama dan papa. Biar mereka harus waspada atas screaning yang dilakukan oleh Gilang. Kalau nggak gitu kita mana tahu. Soalnya ini masalah berat," ujar Budiman yang sedang membawa mobil dengan santai.
"Untunglah semuanya akan terbuka pada waktunya. Aku baru mengerti. Kenapa semuanya bisa seperti ini?" tanya Adinda.
"Itulah manusia yang gak pernah puas sedikitpun. Padahal Gilang sendiri sudah diberikan kelebihan untuk menjadi seorang CEO di bagian properti. Aku malah pengen mencoba bagian properti. Tapi untuk saat ini aku masih belum bisa melakukannya. Aku disuruh memegang perusahaan pembuatan kaleng itu dari kakekku. Aku tidak bisa menolaknya dan harus membawanya ke atas seperti dulu lagi," jelas Budiman.
"Aku akan mendukungmu. Karena kamu adalah milikku. Kalau pria yang sudah memiliki ikatan suami istri. Pria itu sangat beruntung sekali ketika sang istri mendukungnya hingga ke atas," ucap Adinda.
"Iya kamu benar. Aku sangat berterima kasih sekali mendapatkan kamu. Semoga hubungan kita hingga kakek dan nenek. Jika aku memiliki banyak cucu. Aku akan menceritakan ketangguhanmu. Bagaimana caranya kamu bisa menyembuhkan aku dari orang-orang yang ingin menghancurkan hidupku ini," sahut Budiman sambil tersenyum manis.
Sementara Herman sudah sampai di rumah Husein. Herman sengaja datang bersama Faris. Sudah hampir dua tahun Faris tidak bertemu dengan Husein sama sekali. Bahkan Husein sendiri meminta Herman untuk mengajak Faris.
"Rumahnya sudah berubah ya?" tanya Faris sambil tersenyum simpul.
"Kamu benar. Rumah milik Kak Husein sudah diperbaiki oleh Andra. Bisa dikatakan Andra seorang pelatih beladiri. Tapi dia memiliki jiwa arsitektur. Di samping itu Andra memang ingin mengambil jurusan arsitek. Kak Husein sengaja membiarkan Andra melakukan renovasi rumah itu sendiri," jelas Herman yang mengajak Faris masuk. "Ayo masuk!"
"Ke mana Adinda?" tanya Faris.
"Adinda masih di jalan bersama Budiman. Kak Husen juga menyuruh Budiman untuk ikut pertemuan ini," jawab Herman.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah Husein. Di sana sudah ada Malik bersama Ali sedang menikmati kopi Hitam. Mereka berdua sedang mengobrol tentang masalah politik. Hal ini membuat Herman dan Faris memegang kepalanya karena pusing.
"Tumben ke sini," celetuk Ali.
"Yah abang Ali kebiasaan banget sih jadi orang. Kalau nggak ngumpul nanti ditanyain habis-habisan. Kalau ke sini ditanya juga. Memang sungguh aneh diriku ini. Lama-lama aku menjadi sangat terkenal sekali gara-gara Abang," keluh Herman.
Ali terkekeh mendengar keluhan sang adik kecilnya itu. Betapa tidak? Herman itu jarang sekali berkumpul dengan keluarganya. Bukannya sombong karena Herman sendiri memiliki banyak pekerjaan. Mulai dari kasus-kasus yang sedang ditanganinya sampai masalah perusahaan. Inilah kenapa Herman memutuskan untuk tidak berkumpul dengan keluarga besarnya itu.
"Tumben ke sini Bang? Ada apa memangnya Bang?" tanya Herman.
"Ada banyak yang harus kita bicarakan. Ini adalah rencana pernikahanmu bersama Netty," jawab Ali.
"Sudah aku bilang di grup chatting keluarga. Kalau aku sendiri batal menikah dengan Netty," ucap Herman yang sebenarnya tidak ingin membahas tentang pernikahannya itu.
"Nikah nggak nikah itu harus dibahas. Kamu terserah nggak nikah sama Netty. Tapi kamu harus menjelaskan kenapa bisa terjadi?" tanya Ali yang menatap adik kecilnya itu.