
"Jadi selama ini kamu sudah mengetahui tentang nilai sebenarnya," ucap Herman.
"Memang aku sudah mengerti gelagatnya. Hanya dia yang menampik perkataanku secara terus-menerus. Aku sendiri saja masih bingung sama dia. Padahal aku bilangnya baik-baik. Nggak pernah nyolot sama sekali. Yah itulah karakter Mila sebenarnya. Di depan kalian baik banget. Di belakang Kalian ada maunya. Kamarnya Paman Herman sama Kak Faris juga pernah dimasuki. Kalau nggak salah sih kamarnya tidak terkunci. Aku nggak tahu apa yang dicari oleh Mila saat itu. Setahuku jam-jam mewah milik Paman itu berada di apartemen," jelas Adinda yang membuat mereka terkejut.
"Sudah keterlaluan rupanya. Ya sudah kalau begitu. Masalah ini sudah selesai ya. Aku akan berkirim pesan lalu memecatnya. Terima kasih ya Din udah nyelamatin perhiasan ibu," ucap Tia dengan tulus.
"Sama-sama Bu. Maafkan jika aku nggak ngomong sama ibu. Aku lupa sebenarnya. Pengen ngomong sama ibu sering lupa. Lagian juga pekerjaan di kantor sudah menumpuk," Ujar Adinda dengan penuh bahagia.
"Untung saja tidak kena Faris atau Herman ya. Kalau kena mereka berdua pasti dapat hadiah bogem. Atau enggak tangan mereka melayang langsung mendarat di pipinya dengan mulus dan baik," celetuk Budiman.
"Yang gak lah. Kamu mau aku terkena pasal penganiayaan?" kesal Herman yang membuat mereka tertawa.
"Kalau kamu masuk penjara, Bagaimana jadinya dengan perusahaanku itu?" sahut Malik yang tidak terima jika Herman masuk dalam penjara.
"Bener juga apa yang dikatakan oleh paman. Ya sudah kalau begitu. Aku ingin ke pasar dan mencari bahan-bahan untuk makan pagi kalian," Ucap Adinda yang menatap Malik, Faris, Herman dan juga Budiman.
Dengan cepat mereka mengambilkan dompet lalu memberikan uang merah sebanyak satu lembar. Mereka tersenyum sambil menatap Adinda. Kemudian Herman berkata, "Pagi-pagi kita makan sandwich ya sama susu."
"Terus siangnya apa?" tanya Adinda.
"Bagaimana kalau kita memasak ayam diasapi lalu dimakan pakai saus tomat? Bahan utamanya adalah roti. Terus ada sayur-sayuran mentah yang sangat baik buat kesehatan. Tidak lupa aku tambah mayones," jelas Adinda yang membuat mereka menepuk jidatnya.
''Bilang saja kebab. Kok susah banget ngomongnya," kesal Malik.
Seketika mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka kalau Adinda makin lama makin absurd saja. Apakah mungkin Adinda memiliki otak jenius ya? Makanya Adinda sendiri menjadi absurd.
"Kamu ngomong kayak gitu. Kamu ingin berusaha menipu Budiman ya. Tapi Budiman sudah tahu kok rasa masakanmu," ucap Malik yang membuat Adinda menatapnya.
"Dari mana dia tahu rasa masakanku bagaimana?" tanya Adinda.
"Kamu tahu Di saat dia menumpang di rumah ini. Dia sering sekali makan di sini. Terus dia sangat menyukai masakanmu yang berbau sop ayam. Kalau makan bisa nambah tiga kali. Untungnya badannya nggak bisa gemuk sama sekali," jelas Malik yang membuat wajah Budiman menjadi merah karena malu.
"Apakah itu benar?" tanya Adinda yang baru sadar.
"Kalau kamu nggak percaya tanyakan saja pada orangnya. Tuh wajahnya sudah memerah karena tomat yang baru matang," jawab Malik dengan jujur.
"Salah perhitungan deh. Mau bohong juga susah. Ya sudah aku mau berangkat ke pasar atau minimarket terdekat," kata Adinda yang mengusap wajahnya berkali-kali.
"Lagian kenapa harus bohong?" tanya Budiman.
Mereka pun tersenyum melihat Budiman yang sedang bahagia. Akhirnya Budiman dulu sudah hilang. Sikap arogannya dan kulkas berjalannya itu sudah tidak ada sama sekali. Bahkan Budiman sekarang lebih banyak tersenyum ketimbang cemberut.
"Ayo kalau begitu kita belanja," ajak Tia sambil berdiri lalu diikuti oleh Adinda.
"Kami pamit dulu ya," pamit Adinda.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah. Mereka langsung menuju ke pasar. Mereka tidak malu untuk belanja di pasar. Menurutnya, mereka ingin membantu perekonomian pedagang pasar di sana. Pedagang pasar pun tahu jika Adinda dan Tia sering mengunjungi rapatnya. Mereka mengucap syukur karena orang sekelas Adinda mau mampir ke tempatnya. Diam-diam Adinda sering memposting dagangan mereka ke sosial media. Agar dagangannya laku setiap saat. Benar saja, para pedagang itu langsung laris manis. Banyak ibu-ibu kompleks yang berada di sana menyerbu dagangan mereka. Mereka juga berterima kasih kepada Adinda atas kebaikannya.