Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 192



"Sudah aku tebak semuanya. Firasat aku benar. Aku bisa memastikan Kalau Pak Gono tidak melakukan ini," ujar Adinda.


"Kita harus berpikiran positif saja Din. Kita nggak bisa menyalakan dari pihak Pak Gono. Pak Gono sendiri orangnya sudah terlalu baik sama keluarga kamu. Bahkan Pak Gono rela sering tidak pulang ke rumah demi membantu kalian," sahut Budiman.


"Aku juga begitu. Aku rasa tersangka utamanya adalah Netty. Apakah kamu akan melakukan penyidikan terhadap Netty?" tanya Andara.


"Aku males melakukannya. Biarkanlah mereka menanggungnya. Aku sendiri angkat tangan dan tidak ingin mencampuri urusan mereka," jawab Adinda.


Sebenarnya Adinda ingin menolong Netty. Berhubung Netty masih saudara Kanaya, Adinda memutuskan untuk melepaskan tangannya. Ia tidak mau menolong Netty untuk saat ini. Karena Netty sendiri sudah pernah tidur bersama Budiman. Apalagi dia jujur kepada Adinda, kalau Budiman tidak pernah memuaskan hasratnya.


"Sebenarnya aku ingin bantu. Tapi hatiku udah tersakiti seperti ini. Dia sudah jujur mengatakan kalau pernah tidur bersama Kak Budiman. Tapi dia membuat Kak Budiman menjadi sedih. Kamu tahu kan yang aku katakan beberapa hari yang lalu? Dia mengatakan kalau Kak Budiman tidak pandai untuk memuaskan hasrat di atas ranjang. Aku sebagai seorang istri sangat marah. Bisa-bisanya dia mengatakan Kalau suamiku tidak pandai. Jika dia laki-laki, aku pasti menghajarnya dan membantingnya ke lantai pada waktu itu," jelas Adinda.


Andara ingat apa yang dikatakan oleh Adinda pada waktu itu. Jujur dirinya juga merasa kesal dan membandingkan Budiman dengan pria lain. Andara tahu kalau Budiman bukanlah seorang gigolo. Andara mengatakan kalau Budiman adalah pria yang memiliki sopan santun dan tata krama dalam hidup.


"Kak Budiman nggak kayak gitu. Aku tahu Kak Budimanku adalah pria yang sangat sopan sekali. Bahkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting pun, Kak Budiman jarang sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan. Kemungkinan kamu saja yang sering mendengar Kak Budiman mengatakan yang aneh. Karena Kak Budiman sendiri sudah menikah denganmu," jelas Andara.


"Nanti aku kirimkan uang lima belas juta ke rekeningmu. Aku tahu kamu hanya berbasa-basi saja Nda," ejek Budiman.


Andara langsung menatap mata Budiman dengan horor. Budiman menyembunyikan dirinya di belakang Adinda.


"Din, adik iparmu ternyata sangat menakutkan ya? Mudah-mudahan kita tidak akan memiliki seorang anak seperti dia," ucap Budiman.


"Aku kan cantik kak. Saking cantiknya aku sering dikejar-kejar banyak pria. Namun Aku menolaknya. Karena aku sendiri tidak mau berpacaran terlebih dahulu," ucap Andara dengan sombong.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Memang benar, Andara dan Adinda adalah wanita yang sangat cantik sekali. Bahkan kedua pria yang berada di ruangannya itu jatuh hati.


"Semuanya udah beres. Apakah kalian akan pergi ke London?" tanya Tio.


"Kita harus pergi ke sana. Kita harus mengambil pendidikan S3. Kemungkinan besar aku bersama Adinda hidup di sana beberapa tahun ke depan. Perusahaan akan aku serahkan kepada kalian. Kalau ada apa-apa hubungi aku atau Adinda. Aku harap kalian bisa membangun perusahaan menjadi sangat besar," jawab Budiman yang memantapkan dirinya untuk mengambil pendidikan S3.


"Katanya kamu mau ngambil S3 di sini?" tanya Tio kepada Andara.


"Pengennya. Mungkin saja aku akan mendaftarkan diriku ke universitas yang berada di Jogjakarta. Sebenarnya aku memiliki rencana seperti itu," jawab Andara.


"Lebih baik kita bicarakan saja satu persatu dengan keluarga besar. Kamu juga sudah berusia dua puluh lima tahun. Kalau kamu nggak mengambil sekarang, kapan lagi? Jangan menunda pendidikanmu hanya demi menungguku!" pinta Budiman.


"Masih ada beberapa orang yang memiliki darah di keluarga kita baru saja selesai kuliah. Mereka sengaja ingin masuk dan untuk membangun perusahaan ini. Selain itu juga mereka sudah pernah memegang beberapa perusahaan dalam satu waktu sekaligus. Nanti kita bicarakan lebih lanjut lagi," jawab Budiman.


"Bagaimana dengan keluarga Gilang Kak? Mereka masih memiliki saham di perusahaan ini," tanya Adinda.


"Akan aku suruh seseorang untuk melepaskan semuanya. Dia sudah tidak memiliki hak apapun dalam perusahaan ini. Semakin hari kita bisa hidup tenang tanpa mereka. Kamu juga nggak usah mikirin soal keluarga Gilang. Biarkanlah mereka bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri," jawab Budiman dengan bijak.


Adinda akhirnya paham tentang semua ini. Meskipun baru menjabat dua tahun, kecerdasan Budiman bisa diunggulkan. Bahkan mereka adalah seorang pria yang memiliki otak di atas rata-rata.


Lalu Adinda bagaimana? Adinda juga sama. Jika digabungkan maka mereka bisa saja memiliki ide-ide untuk membangun perusahaan. Tapi apakah mereka akan menggabungkan perusahaannya? Lalu bagaimana dengan rencana kemarin yang sudah dibuat oleh kedua pihak keluarga?


Memang Adinda sudah merencanakan semuanya. Bahkan Adinda sendiri ingin menghancurkan perusahaannya Budiman terlebih dahulu. Akan tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Tuhan menyuruh agar sadar dari kesalahannya itu. Di dalam hati, Adinda mengucapkan terima kasih kepada sang pencipta. Tuhan masih sayang kepada Budiman. Maka dari itu Tuhan memberikan kesalahan Kanaya dengan cepat.


"Syukurlah. Aku tidak jadi menghancurkan perusahaan Njawe Groups. Soalnya Kakak sudah sadar lebih dahulu," celetuk Adinda.


"Semuanya sudah aku prediksi. Jika aku tidak sadar dan ingin menikahi Kanaya, seluruh fasilitas yang aku miliki akan ditarik semuanya. Lalu bagaimana dengan hidupku ini? Padahal dua tahun belakangan ini semuanya menjadi baik-baik saja. Omset yang telah aku dapatkan bisa membangun tiga perusahaan sekaligus. Tapi kedua orang tuaku tidak percaya sama sekali. Aku hanya bersabar untuk menunggu mereka percaya," jelas Budiman.


"Apakah aku harus melakukannya sekarang?" tanya Adinda.


"Nggak apa-apa. Hancurkan habis itu bangun kembali. Aku mau menjadikan perusahaan ini semakin besar di tangan kalian," jawab Budiman yang sengaja memerintahkan Adinda untuk menghancurkan perusahaannya.


Tio hanya mengirimkan kepalanya sambil menatap pasangan suami istri itu. Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Baru kali ini Budiman berbicara blak-blakan seperti ini. Bahkan hampir setiap hari Budiman selalu tersenyum dan menyapa orang-orang di sekitarnya.


"Bagaimana ini? Apakah aku harus menghancurkan perusahaan? Sedangkan diriku tidak bisa menghancurkan perusahaan manapun. Kecuali terpaksa dan mereka sedang membuat masalah denganku," tanya Adinda.


"Sebentar lagi masalah akan datang. Perutnya Adinda menjadi besar dan pelaku utamanya adalah Budiman. Apakah kamu akan menghancurkan perusahaannya?" tanya Tio.


"Wah menjadi berita viral," seru Andara sambil tersenyum manis.


"Kok bisa menjadi berita viral? Kan kami tidak melakukan apa-apa?" tanya Budiman.


"Nanti ada sebuah headline news di berbagai media. Headline newsnya mengatakan, Seorang istri dihamili suaminya. Lalu sang istri sengaja menghancurkan perusahaan. Karena sang suami tidak mau menanggung beban sang istri ketika hamil," jawab Andara sambil mengejek Budiman.


"Apakah itu benar?" tanya Budiman.