
"Apakah kamu akan membiarkan setiap masalah keluar ke luar? Ingatlah kita adalah seorang pengusaha. Nama kamu sekarang berada di atas angin. Sekali omongan karena Mila, Mila akan membuat kamu karir kamu hancur seketika," jelas Budiman yang tidak ingin nama istrinya hancur.
"Terserah apa katamu. Sejujurnya aku enggak tega dengan para pelayan dipecat," ucap Adinda yang memiliki rasa iba kepada Mila.
Budiman tersenyum manis melihat Adinda yang tidak tega dengan Mila. Baru kali ini ada seseorang yang menghiba kepada musuhnya. Ia berhak mengacungkan jempolnya sambil menggelengkan kepalanya.
Seandainya kalau dirinya sedang ditindas seperti itu, ia akan berbuat lebih kejam. Ia akan mengeluarkan orang itu dari rumah ini dan memblokir akses untuk bekerja.
Sesampainya di garasi mobil keluarga Adinda, Budiman masih melihat mobil mewahnya terparkir sempurna. Ia menyunggingkan senyumnya dengan manis. Berarti selama ini mobil kesayangannya tidak pernah hilang sama sekali.
"Din," panggil Budiman yang melihat Adinda Serdang memilih kunci mobil tersebut.
"Ada apa?" tanya Adinda.
"Mobilku masih berada disini?" tanya Budiman sambil mendekatinya.
"Iya... aku memang sengaja menaruhnya di garasi. Aku belum sempat meminta pak supir membawa mobil itu ke rumahmu," jawab Adinda.
"Apakah kamu masih menyimpan kuncinya?" tanya Budiman.
"Masih," jawab Adinda sambil menunjukkan kunci mobil itu di rak penyimpanan. "Apakah kamu akan memakainya?"
"Ya... aku ingin memakainya. Sekalian memanasi mesin. Kamu enggak perlu bawa mobil lagi. Aku ingin selamanya kita dalam satu mobil," jawab Budiman yang ingin satu mobil bersama Adinda.
"Tidak apa-apa. Aku akan memberikan kunci mobil itu kepadamu," ucap Adinda sambil meraih kunci mobil milik Budiman.
"Syukurlah... mobil itu masih ada. Aku kira mobil itu dibawa Kanaya," ujar Budiman dengan tembang.
"Enggaklah. Bukankah mobil itu datang pada awal pernikahan? Terus kamu lupa mengambilnya," tanya Adinda Kepada Budiman.
'Iya... dua hari sebelum menikah. Aku berada disini," ucap Budiman.
Adinda menyodorkan kunci mobil itu ke arah Budiman. Budiman langsung membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalam. Ia masuk ke dalam dan menyalakan mesinnya. Sementara Adinda hanya menghela nafasnya dengan kasar. Baru kali ini ia melihat Budiman sangat bahagia sekali. Entah kenapa dirinya tiba-tiba saja mendukung Budiman.
"Ayo masuk!" teriak Budiman sambil melambaikan tangannya ke arah Adinda.
Adinda segera masuk ke dalam mobil. Sebelum Budiman keluar, ada mobil berwarna merah metalik. Tak lama sang pemilik mobil itu keluar. Dia mulai mendekati mobil Budiman.
"Mau kemana?" tanya sang pemilik mobil itu.
"Aku ingin pergi ke taman untuk melepaskan penat sejenak. Tadi Kak Faris memberikan aku banyak pekerjaan,' jawab Adinda.
"Oke. Pulangnya jangan malam-malam. Paling telat jam delapan pagi. Ada yang ingin dibicarakan," ucap Herman.
"Baiklah kak," sahut Adinda.
"Budiman," panggil Herman yang matanya mengarah ke Budiman.
"Yo," sahut Budiman dan menatap wajah Herman.
''Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," pesan Herman yang berlalu pergi meninggalkan mereka.
Budiman hanya menatap kepergian Herman. ia menghela nafasnya sambil menatap wajah Adinda. Lalu Adinda tersenyum manis sambil berkata, "Sepertinya kamu harus bersabar menghadapi Paman Herman sama Kak Faris."
"Aku tahu konsekuensinya. Menikahi kamu dengan awal yang tidak enak membuat mereka menjadi geram sama aku. Aku juga salah dalam hal ini. tapi mau bagaimana lagi? Nikmati saja," ucap Budiman.
"Apakah kamu menyesali pernikahan ini?' tanya Adinda.
"Sepertinya tidak. Aku tidak akan menyesal menikah dengan kamu. Mereka hanya butuh bukti Arini. Apakah aku bisa membahagiakan kamu? Itulah yang menjadi pertanyaan untuk saat ini bahkan selamanya," jelas Budiman yang membuat dirinya sadar diri.
"Kamu benar. Apa yang kamu katakan harus kamu buktikan. Jangan sampai kamu menjadi seorang pria pengecut untuk menghadapi masalah kamu. Aku akan selalu mendampingimu," ucap Adinda yang bersedia mendampingi Budiman.
Budiman mulai menancapkan gasnya lalu keluar. Setelah keluar dari garasi, Budiman memacu mobilnya dengan santai. Mereka lebih memilih diam.
Saat perjalanan menuju ke taman pusat kota, Adinda mengambil ponselnya berada di kantong bajunya. Ia membaca semua informasi tentang Mila. Betapa terkejutnya ia, ia tidak menyangka kalau Mila adalah sindikat penipuan.
"Kak," panggil Adinda.
"Ada apa?" tanya Budiman.
"Ini sangat gawat sekali," jawab Adinda.
"Ada apa memangnya?" tanya Budiman yang memberhentikan mobilnya karena ada lampu merah menyala.
"Kok berhenti disini?" tanya Adinda.
"Tuh ada lampu merah," jawab Budiman.
"Hmmmp... Mila adalah sindikat penipuan. Dia sering sekali membuat korbannya merugi sebesar ratusan juta. Dia tidak segan-segan menghancurkan satu keluarga dalam waktu sekejap. Dia juga bisa melemparkan istri sang pemilik rumah dengan tipu daya dan wajahnya memelas itu," ujar Adinda.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau dibiarkan seperti ini. Bisa-bisa ayah dan ibu mendapat kerugian," jelas Budiman.
"Terus apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Adinda.
"Kamu harus mencari pangkal masalahnya terlebih dahulu. Setelah kita mendapatkan pangkal masalahnya. kita bisa merangkumnya," jawab Budiman yang sudah memiliki rencana menjebak Mila.
"Apa itu Kak?" tanya Adinda.
"Nanti kalau sudah sampai taman. Aku akan menjelaskan semuanya. Kita bisa bekerja sama dengan Paman Herman sama Faris. Kamu bisa memanggil Irwan," jawab Budiman.
"Kenapa Kak Irwan?' tanya Adinda yang menatap wajah Budiman.
"Irwan itu berlokasi di sini. Kalau Roni berlokasi Tangerang. Makanya kasus penusukan itu Roni yang menanganinya," jawab Budiman yang mengetahui kedua temannya bertugas dimana.
"Hmmmp... baiklah. nanti jam tujuh kita pulang ke rumah. Jam delapan kita akan meeting dengan Paman Herman dan Kak Faris," jelas Adinda.
"Ini masih jam berapa sih?" tanya Budiman yang melihat jam di pergelangan tangannya.
"Masih jam empat sore," jawab Adinda.
"Ya sudah. Aku memang ingin pulang jam segitu. Sekalian Tio aku suruh ke rumah untuk menyerahkan beberapa dokumen untuk aku tanda tangani," ucap Budiman.
Sementara itu Malik yang masih berada di kantor meraih ponselnya. Ia tidak sengaja melihat pesan dari Adinda. Ia membuka pesan itu dan membacanya.
Beberapa saat kemudian datang Faris. Pria yang sangat mirip sekali dengan wajah Tia itu memutuskan untuk duduk di hadapannya. Ia langsung menaruh ponselnya di hadapannya itu.
"Yah,'' panggil Faris sambil memegang pulpennya Malik.
"Ada apa?" tanya Malik.
"Apakah ayah sudah mendapatkan pesan dari Adinda?" tanya Faris.
"Ini sedang ayah baca semuanya," jawab Malik yang menatap Faris.
"Apakah ayah tidak sadar? Kalau masalah yang sedang di hadapi di rumah sangat besar," tanya Faris.
"Ya... itu benar. Kok ayah baru tahu masalah ini ya?" tanya Malik.
"Secara ayah sibuk sekali dengan banyak pekerjaan. Jadi ayah tidak mengetahui masalah di rumah," jawab Faris sudah mengetahui masalah Malik.