
Adinda akhirnya bangun dan mempersiapkan baju formal yang akan dipakai oleh Budiman. Ia tidak sengaja teringat akan masa lalunya. Ia tidak pernah membayangkan kalau dirinya menjadi seorang istri. Jujur ia tidak pernah terpikirkan rencana menikah. Jangankan menikah, memiliki seorang kekasih tidak punya. Memang Adinda tidak pernah memiliki seorang kekasih satu pun. Bahkan setiap pria yang mendekat malah dihempaskan begitu saja. Padahal sang pria sering mendekat adalah pria tajir. Tidak segan-segan pangeran dari banyak kerajaan luar negeri pun juga ikut mendekat. Namun semua mundur alon-alon.
Budiman keluar dari toilet tanpa memakai apa pun. Ia lantas mendekati Adinda dan langsung mendekatinya dan memeluknya. Sontak saja Adinda terkejut apa yang dirasakan saat ini. Ia juga merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawa. Lantas ia mulai berteriak dan berontak.
“Argh... lepasin aku!” teriak Adinda yang membuat Budiman matanya mulai sayu.
“Jangan banyak bergerak! Jika kamu bergerak aku akan menghabisi kamu saat ini juga,” ucap Budiman yang sudah menahan hasrat.
“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Adinda.
“Akan aku lepaskan. Tapi kamu harus melepaskan aku pelan-pelan,” bisik Budiman yang melepaskan Adinda.
Setelah dilepaskan oleh Budiman, Adinda tidak sengaja melihat sang tongkat sakti berdiri tegak. Ia mengucek-ngucek matanya berkali-kali. Ia sadar lalu berteriak dan keluar dari kamar. Sementara Budiman melihat Adinda keluar dari kamar sambil menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Katanya nikmat tadi. Kok malah teriak ketakutan seperti itu.”
Budiman segera memakai bajunya sambil bertanya-tanya. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Adinda. Namun dalam hatinya Adinda sangat lucu sekali. Bahkan saking lucunya, Budiman menawan tawanya.
“Imut dan menggemaskan,” ucap Budiman yang tersenyum manis.
POV Budiman.
Menikah adalah hal terindah dalam hidupku. Aku tidak pernah menyangka seumur hidupku, kalau aku menikah dengan gadis bar-bar Adinda. Ya... Adinda adalah adiknya sahabatku sejak kecil yaitu Faris. Kami bersekolah semenjak TK.
Memang dulu Adinda adalah gadis kecil pendiam. Adinda tidak banyak bicara dengan siapa pun. Dia juga jarang say hello sama seseorang. Jujur aku menilai Adinda memiliki sifat pemalu.
Aku sebenarnya kagum dengan prestasi yang didapatkan oleh Adinda. Adinda memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Di usianya lima belas tahun, dia pernah memimpin rapat pemegang saham. Dengan penuh keberanian dia pernah menganalisis pekerjaan sang ayah Malik. Dia juga berani menilai bagaimana sang papa bekerja.
Bagaimana dengan kisahku dan Kanaya? Semuanya sudah berakhir seperti bom waktu. Selama ini aku telah tertipu dengan kecantikannya. Kanaya memang lebih cantik ketimbang Adinda. Dia adalah wanita yang sangat polos sekali. Namun siapa sangka kepolosannya telah membuatku aku bodoh. Kanaya diam-diam bekerja sama dengan Gilang. Sedari dulu aku memang tidak pernah berbicara dengan Gilang. Meskipun dia adalah sepupuku dari pihak papa.
Sudah sering aku melihat ulah Gilang. Dia tidak pernah kapok melakukannya lagi. Bahkan sifat licik dan cuci tangan selalu mendominasinya. Da selalu lepas terjerat dari hukum dan tidak pernah tertangkap.
Aku sangat terkejut sekali tentang informasi kudapatkan dari seseorang teman berasal dari Inggris. Dia adalah seorang agen mata-mata dari negara Inggris. Aku mulai berkenalan dengannya ketika aku menjadi tetangga dekat. Kami sering mengobrol tentang bagaimana menjadi agen mata-mata? Sempat aku tertarik dan ingin mendirikan agen mata-mata di negara ini. Akan tetapi aku sendiri telah mengejutkan niatku. Aku tidak mungkin masuk ke dunia militer.
Kemarin ada pembunuhan seorang pebisnis terkenal. Pembunuhan itu melibatkan Gilang. Aku tidak percaya akan hal itu. Lalu aku diminta data-datanya. Aku langsung membacanya. Aku sengaja tidak memberitahukan kepada Tio apalagi kepada orang tuamu. Ini sangat mengerikan sekali. Aku tidak habis pikir dengan Gilang. Apakah ada dendam sehingga bisa membunuh seseorang dengan seenaknya? Entahlah... hanya Gilang yang tahu akan hal itu.
Saat Adinda tertidur pulas di rumah sakit. Aku berbalas pesan dengan temanku itu. Aku mendapatkan informasi. Yang dimana informasi itu sangat mengerikan sekali. Tanpa sepengetahuan kami, Gilang telah bekerja sama dengan mafia di Amerika. Jadi bisa dikatakan Amerika adalah daerah kekuasaannya.
Dia bilang kalau Gilang sudah sering mengeksekusi banyak orang. Mereka adalah para kliennya yang tidak pernah memberikan keuntungan sedikit pun. Itu hanya akal-akalan Gilang saja. Kemungkinan besar para klien sudah pernah mengetahui kejahatan Gilang. Lalu aku pernah membaca di akhir penyelidikannya itu. Aku terkejut kalau perusahaan istriku sedang diincar oleh Gilang. Ya... apakah kasusnya tentang tender besar. Yang dimana Adinda mendapatkan dengan tahap lolos seleksi ketat. Gilang tidak terima dengan apa didapatkannya oleh Adinda. Seharusnya Gilang mendapatkannya karena proyek itu adalah proyek paling terhormat untuk saat ini.
Namun siapa sangka, Adinda telah menceritakan semuanya. Ketika ikut Adinda tidak pernah melihat banyak peserta. Sesungguhnya Adinda saat hanya main-main saja. Adinda tidak mempedulikan kalah memang saja. Dia malah bilang begini, sudah ikut saja rasanya sangat senang sekali. Itulah kebahagiaan Adinda sebenarnya. Jujur saat Adinda pergi ke Harvard hatiku sudah gelisah. Adinda dalam bahaya besar. Cepat atau lambat Adinda diincar oleh Gilang. Dengan kata lain, nyawa Adinda akan direbut paksa dari raganya dari tangan kotorannya. Aku mulai berpikir, bagaimana Adinda bisa kuliah dengan tenang. Tanpa Gilang harus mengganggunya sama sekali.
Lantas aku berdiskusi tentang masalah ini papa dan ayah di kantor waktu itu. Mereka memberikan saran kalau tempat kuliahnya di pindah. Lalu bagaimana caranya Gilang tidak bisa memasuki negara itu? Aku memutuskan untuk meminta temanku itu mencari informasi tentang Gilang lebih dalam lagi. Aku langsung mendapatkannya. Aku sangat bersyukur sekali tentang informasi tersebut. Ada beberapa negara sengaja mencekal Gilang. Hal ini dipastikan karena kasusnya yaitu menipu banyak sejumlah klien di negara tersebut. Aku baru mengetahui kalau Gilang ternyata di Eropa termasuk di Inggris dicekal.
Aku memikirkan masa depan Adinda. Yang dimana Adinda harus meneruskan kuliahnya. Adinda bisa menjadi seorang pemimpin hebat untuk masa depan.
Aku memutuskan untuk merandom beberapa universitas di Eropa. Tiba-tiba saja aku tertarik dengan Universitas di Finlandia. Tapi di sana aku tidak menemukan jurusan perekonomian di sana. Lalu aku meminta Herman dan Faris untuk mencarikan jurusan yang sesuai kami butuhkan. Mereka meminta aku menunggu beberapa hari kemudian.
Aku sekarang bingung dengan keadaan saat ini. Kenapa aku bersama istriku sekarang terjebak dalam lingkungan orang jahat. Padahal kami ingin sekali hidup dengan tenang tanpa ada beban sedikit pun dan mengganggu orang lain.