Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 146



Adinda mengajak Budiman pergi ke dapur. Ada salah satu pelayan yang mendekati Adinda. Pelayan itu mengatakan kalau sarapan pagi sudah siap di atas meja. Adinda pun mengucapkan terima kasih dan mengajak Budiman untuk sarapan terlebih dahulu.


Setelah sarapan Budiman meminta kunci mobil Adinda. Kemudian mereka berpamitan untuk meninggalkan villa tersebut. Para pelayan pun sangat berterima kasih sekali atas kedatangan Adinda. Karena Adinda sering menyapa mereka dengan senyuman tulus. Ketika Herman mengunjungi villa tersebut. Mereka selalu bertanya tentang keadaan Adinda. Mereka berharap Adinda datang demi mengucapkan selamat datang di villa ini. Adinda sangat tersanjung sekali kepada mereka. Hampir setiap liburan, Adinda bersama lainnya sering mengunjungi villa tersebut.


Di dalam perjalanan menuju Jakarta, Budiman sudah tidak takut lagi menghadapi mereka. Budiman sendiri memiliki percaya diri yang sangat tinggi. Budiman tidak akan pernah ragu atas keputusan Adinda. Meskipun hari ini adalah penentuan karirnya, Budiman tidak pernah memperdulikannya. Karena Budiman percaya semuanya itu adalah kehendak sang pencipta.


“Apakah kamu mau ke kantormu?” tanya Budiman yang masih fokus membawa mobil.


“Untuk kali ini tidak sama sekali. Kemungkinan besar aku akan pulang ke rumah terlebih dahulu. Sepertinya aku harus berdiskusi dengan Paman Herman. Karena masalah ini adalah masalah keputusan tentang karir kamu,” jawab Adinda yang meminta Budiman untuk mengantarkannya ke rumah.


“Jadi kamu ingin pulang ke rumah?” tanya Budiman.


“Pengennya. Tapi aku akan mengurungkan niatku ini. Aku tidak akan pulang bersama sebelum kamu sampai di kantor. Entah kenapa aku memiliki firasat yang tidak enak. Aku harus mendampingimu saat ini juga hingga pulang dari kantor,” jawab Adinda yang tiba-tiba saja memiliki firasat yang tidak enak.


“Memangnya kamu memiliki firasat apa Din?” tanya Budiman.


“Aku sendiri tidak tahu Kak. Nanti saja kalau semuanya tidak terjadi akan aku ceritakan ketika sampai di rumah. Kamu tenang saja aku tidak akan pernah menyakitimu. Seharusnya aku akan melindungimu hingga titik penghabisan. Sebelumnya aku akan menghubungi seseorang untuk berjaga di perusahaanmu. Kamu jangan kaget. Kamu anggap mereka tidak ada. Karena semuanya ini adalah masalah perusahaanmu,” jawab Adinda yang meraih ponselnya di dalam tas lalu menghubungi seseorang.


Sementara di perusahaan Njawe Groups, Tio bersama Andara sudah menduduki kursi masing-masing. Akan tetapi Andara memutuskan untuk pergi ke ruangan Tio. Sesampainya di sana Andara menghempaskan bokongnya di sofa dan menatap Tio yang sedang menyiapkan pekerjaan Budiman.


“Kak Tio lagi sibuk ya?” tanya Andara.


“Seperti biasa. Sibuk nggak sibuk adalah hariku seperti ini. Yang namanya asisten harus bisa mempersiapkan pekerjaan bosnya. Meskipun aku menikah denganmu. Aku tetaplah asisten kakakmu. Aku harap kamu nggak akan kecewa,” jawab Tio yang meminta Andara agar tidak kecewa dengan dirinya.


“Apa salahnya menjadi asisten kakakku? Aku tidak memperdulikan tentang pekerjaanmu itu. Gara-gara kenal dengan Adinda. Aku dulu yang sombong dan meremehkan orang. Sekarang lebih menghormati orang. Aku tidak memperdulikan pekerjaan orang itu. Karena pekerjaan itu adalah saling menguntungkan satu sama lain. Bahkan Adinda sendiri kalau di rumah, sering banget bersih-bersih kamar sendiri tanpa harus memanggil mbak mbaknya yang berada di rumah. Aku salut Padahal dia sendiri adalah seorang CEO besar,” jelas Andara yang membocorkan siapa Adinda sebenarnya.


“Semuanya itu tidak menjadi masalah. Aku sudah mengetahuinya sendiri. Ketika sekolah Adinda sering sekali membersihkan kamarnya pas waktu liburan. Bahkan peralatan sekolahnya pun yang kotor dicuci pakai tangannya sendiri. Dia bukan wanita yang sangat manja yang selalu berteriak-teriak memanggil pelayannya di sana. Aku sendiri sampai heran kok mau kerja seperti itu. Buat apa ada pelayan di rumah tapi harus mengerjakannya sendiri?” ucap Tio.


“Sepertinya hubungan Adinda sama Kak Budiman sangat serius kali. Bahkan Adinda sendiri sudah tidak galak lagi dengan Kak Budiman. Jujur mereka selalu saja berantem karena masalah sepele. Tapi semuanya sudah berubah,” puji Andara kepada Adinda.


“Semuanya itu butuh waktu. Adinda tidak akan bisa merubah Budiman begitu saja. Memang Adinda memiliki watak yang sangat keras sekali. Tapi Adinda sangat sabar dan membiarkan Budiman melakukan yang dia suka terlebih dahulu. Kamu harusnya bangga memiliki kakak ipar yang barbar tapi memiliki jiwa keras. Sepertinya kamu harus belajar dari Adinda. Agar kamu bisa menghadapi masalah di perusahaan ini,” jelas Tio yang memberikan saran kepada Andara.


“Kapan ya ada waktu belajar sama Kak Adinda tentang mengurusi perusahaan ini?” tanya Andara.