Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 180



"Ya itu benar. Aku mendapatkan informasinya dari seseorang yang sudah lebih dulu terjun ke Jakarta," jelas Rizal.


"Berarti aku terkena pasal penganiayaan dong?" tanya Budiman.


"Ya enggaklah. Mana ada kamu terkena pasal penganiayaan? Yang ada hanya dia terkena pasal penculikan. Apalagi yang diculik enggak nanggung. Malah Ibu Tia diculik," jawab Rizal.


"Kenapa kamu meninggalkan Adinda?" tanya Budiman sambil menatap wajah Rizal.


Duaaaks....


"Argh," teriak Budiman yang memegang kakinya.


Rizal dan Yuki hanya tertawa melihat Budiman terkena tendangan dari Adinda. Mereka memang menggelengkan kepalanya karena kekonyolan Adinda.


"Apa yang sebenarnya yang terjadi?" tanya Budiman.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menjaga perasaan Yuki. Hubungan yang dulu telah berakhir. Aku tidak ingin mengingatnya lagi," jawab Adinda.


"Apa yang kamu ingat?' tanya Rizal sambil tersenyum konyol.


"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi," jelas Adinda.


"Ada," sahut Rizal.


"Apa itu?" tanya Adinda.


"Hubungan adik kakak yang tidak pernah terputus sampai sekarang," jawab Rizal.


"Maafkan aku," uap Budiman kepada Yuki.


"Tidak apa-apa,'' sahut Yuki.


"Yuki sudah mengetahui hubungan kita ketika berpacaran. Aku memang orangnya selalu terbuka sama Yuki. Aku tidak ingin tertutup dalam kehidupan masa laluku," ujar Rizal.


"Syukurlah. Jadi aku enggak akan merusak hubungan kalian jika bertemu di lain hari," jelas Adinda. "Kalau kebetulan."


"Aku tidak marah sama kalian jika kalian bertemu secara sengaja maupun tidak sengaja. Lagian kamu selalu bertemu dengan banyak orang kan?" tanya Yuki.


"Memang benar Aku lebih menjaga hubungan kalian dan hubunganku bersama suamiku ini," jawab Adinda,


"Semuanya enggak jadi masalah buat aku. Sekarang ceritakan semuanya, kenapa kamu meninggalkan Adinda?" tanya Yuki sambil menoleh ke arah Rizal.


"Sebenarnya ini berat aku ceritakan. Tapi kamu harus tahu tentang semuanya," jawab Rizal.


"Iya apa?' tanya Adinda.


"Sebenarnya aku sendiri sudah memikirkan masalah ini matang-matang. Aku dulu sangat mencintai Adinda. Bahkan aku sendiri ingin menikahinya ketika Adinda telah lulus. Tapi aku melihat Budiman yang sudah tertarik sama Adinda pada pertemuan pertama. Aku merasakan ada sesuatu yang sangat aneh ketika Budiman melihat wajah Adinda. Dia benar-benar jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu enggak menyadarinya akan hal itu.Hingga otak dan pikirannya diracuni oleh Kanaya. Jadinya dia lupa sama kamu," jelas Rizal.


Deg.


"itulah kenapa aku harus merelakan kamu untuk Budiman. Kamu adalah jodoh sehidup semati. Kamu memang ditakdirkan untuk menyelamatkan hidup Budiman," sambung Rizal.


"Maafkanlah aku yang telah merebut semua kebahagiaan kamu," ucap budiman yang penuh dengan penuh penyesalan.


Adinda menatap Yuki seakan ingin meminjam tubuhnya itu. Yuki yang paham akan keadaannya memutuskan untuk beranjak berdiri dan mendekati Adinda. Ia membungkukkan tubuhnya lalu memeluk Adinda sambil mengelus-elus punggung Adinda.


Di dalam pelukan Yuki, Adinda menangis. Ia baru menyadari akan cintanya Budiman yang sudah sejak dahulu bersinar. Andai saja kalau dirinya tahu, ia tidak akan mendekati Kanaya. Ia berusaha melindunginya.


"Kamu itu ya, keterlaluan banget sih," kesal Budiman yang mengambil bantal dan melemparkannya ke Rizal.


"Kenapa semuanya menjadi terlambat buat aku ya?" tanya Adinda yang melepaskan tubuh Yuki sambil menghapus air matanya itu.


"Memang jalan hidupnya begini. Tuhan sudah membuat jalan hidup manusia seperti ini. Semua pasti ada rintangan dan juga tantangannya. Meskipun kita enggak berjodoh, aku yakin hubungan kita akan menjadi saudara," jelas Rizal.


"Iya sih. Jujur sampai saat ini aku masih dendam dengan Kanaya," ucap Adinda.


"Kamu tertipu dengan trik aku yang sudah tersusun sedemikian rupa. Begitu juga dengan Kanaya. Kanaya juga tertipu dengan trik aku. Aku memang sudah bekerja sama dengan Roni dan Irwan. Sampai saat ini mereka masih bungkam. Aku tahu semenjak SMA, Kanaya sudah bekerja sama dengan mafia. Meskipun itu mafia kelas teri. Namun nyatanya dia tidak memiliki apa-apa." beber Rizal yang membuat mereka terkejut.


"Kamu kerja dimana?" tanya Budiman yang mulai curiga terhadap Rizal.


"Aku bekerja di kepolisian Amerika," jawab Rizal dengan jujur.


"Apa?" pekik Adinda. "Keren banget ya?"


"Enggak keren. Yang keren kalian berdua. Dari dulu tebakan aku benar. Aku memang memberitahukan kamu. Kalau kamu menjadi seorang CEO di perusahaan keluarga," puji Rizal. "Semua pekerjaan pasti ada resikonya. Aku tidak menyukai pekerjaan kantor,Lebih baik aku memilih sebagai pekerjaan lapangan seperti ini."


"Apakah kalian sudah bekerja sama?' tanya Adinda lagi.


"Dia adalah polisi wanita di Amerika," jawab Rizal yang membuat Adinda terkejut. "Kami sering bertemu di acara lapangan lalu jatuh cinta."


"Apa?" pekik Adinda yang benar-benar terkejut.


"Oh... jadi kamu benar-benar menghilang untuk menjadi polisi ya?" tanya Budiman sambil berdecak kesal.


"Hmmp... tidak juga. Aku hanya iseng-iseng mendaftar menjadi kepolisian disana. Yuki sebenarnya sudah menjadi polisi duluan semenjak kamu kuliah. Jadinya keluarga Yuki memang sudah bertempat tinggal disana," jawab Rizal yang menjelaskan dirinya menjadi dan juga Yuki.


"Itu benar apa yang dikatakan oleh Rizal. Aku memang adalah polisi wanita," tambah Yuki.


"Aku hanya ingin memberitahukan kepada kalian. Aku mau melibatkan kalian dalam penangkapan Gilang bersama keluarganya," pinta Rizal.


"Waktu kita enggak banyak. Aku tahu keluarga Gilang akan menghadiri pernikahan Albert. Kamu tahukan Albert bagaimana? Ada tiga keluarga nanti yang akan diserang oleh Gilang esok. Esok bukan ajang pesta pernikahan. Malahan besok adalah ajang serangan Gilang bersama keluarganya. Aku enggak mau pernikahan kakak angkatku berantakan," ungkap Rizal sambil menatap wajah Budiman.


"Jadi kamu?" tanya Adinda.


"Dia adalah saudara sepupuku," jawab Budiman. "Aku memang sengaja menutupi rahasia ini dari kalian semuanya."


"Jadi kamu tahu tentang kematian Rizal?" tanya Adinda sambil menatap wajah Budiman.


"Enggak sama sekali," jawab Budiman. "Aku kan belum waras saat itu."


Adinda malah menahan tawanya kareena jawaban Adinda. Memang benar apa yang dikatakan oleh Budiman. Ia mengakui kalau otaknya tidak waras.


Semuanya terbuka jelas apa yang dikatakan oleh dikatakan oleh Rizal. Ia memang ingin terbuka atas masa lalunya dan meminta maaf kepada Adinda. Namun Adinda memaafkannya dan menyambung tali silaturahmi dengan erat kepada Rizal.


Malam ini mereka sedang merencanakan sesuatu. Yang dimana Adinda akan membantu Rizal untuk menangkap Gilang dan sekeluarga. Jujur mereka sudah gerah dengan kegiatan keluarga Gilang. Yang hobinya mengancam setiap orang-orang yang baru saja menapakkan kakinya ke atas tanah. Ini sungguh aneh sekali.


Jakarta Indonesia.


''Apakah kamu merasakan ada sesuatu yang aneh terhadap Netty?" tanya Faris.


"Apa perlu kita selidiki sendiri?" tanya Herman dengan gerah.


"Aku malas melakukannya," jawab Faris yang tidak berselera jika mendengar nama Netty.


"Semuanya sudah jelas. Netty sudah melakukan penipuan terhadap aku dan juga Adinda. Lalu apa yang harus aku lakukan terhadap keluarganya?" tanya Herman yang menaruh tab-nya dan menyodorkan ke hadapan Faris.