
"Kenapa hidup gue kok diatur sih? Bisa-bisanya dia ngatur gue," ucap Adinda di dalam hati dengan kesal.
"Aku tahu hatimu sangat kesal sekali. Jangan pernah kesal seperti itu. Jika seorang wanita sudah menikah maka harus menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Jika tidak akan fatal berakibat buruk," sambung Budiman yang paham apa yang dirasakan oleh Adinda untuk saat ini.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Adinda.
"Ya... enggak gimana-gimana. Seenggaknya kamu harus menuruti keinginan suami kamu. Kalau baik kamu jalankan. Kalau buruk kamu tinggalkan. jujur aku memang pria brengs*k, tapi apakah aku akan begini terus? Ya tidak. Aku ingin berubah demi masa depanku. Aku ingin hidup bahagia seperti lainnya. Mulai saat ini aku akan mencoba memperbaiki diriku. Tidak ada orang sempurna di mata Tuhan," jelas Budiman.
Adinda tersenyum manis sambil melihat Budiman. Di dalam hatinya, ia merasa bersyukur Budiman bisa berubah. Ia ingin sekali melihat sang suami bisa berubah. Melupakan masa lalunya dan juga kenangan indah bersama Kanaya.
"Oke... jika kamu ingin memperbaiki diri. Aku akan mendampingimu. Begitu juga dengan aku. Aku juga sama akan memperbaiki diriku menjadi seorang istri baik," sahut Adinda.
"Jika ada kesalahan, kamu bisa menegurku. Katakanlah apa yang enggak suka dariku. Jangan kamu pendam seperti tadi. Aku orangnya suka terbuka," imbuh Budiman.
Adinda menganggukan kepalanya. Ia memegang tangan Budiman sambil menggenggamnya. Ia tidak sengaja melihat sebuah cincin emas putih melingkar di jari manisnya itu.
"Kamu memakai memakai cincin?" tanya Adinda.
"Iya... aku memakainya. Aku memang sengaja. Biar semua orang tahu. kalau aku adalah seorang pria sudah beristri," jawab Budiman. "Aku tadi mendapatkan pesan dari Nda. Katanya enggak biasa datang. banyak tugas harus diselesaikan di kantor. Dia bisa datang kalau bertepatan dengan hari Minggu."
"Tidak apa-apa. Aku tahu kesibukannya sangat membludak sekali. Aku sendiri tidak mengharapkan datang. Apalagi akan ada rapat Akbar," jelas Adinda.
"Rapat dewan direksi?" tanya Budiman.
"Yupz... aku adalah salah satunya sebagai anggota. Aku juga memiliki saham sebesar dua puluh lima persen," jawab Adinda berkata jujur.
Jederrrr.
Bagai petir di siang bolong. Ia tidak menyangka kalau sang istri sudah memiliki aset banyak. Padahal yang ia tahu, Adinda tidak pernah memakai pakaian bermerk. Budiman sudah mengecek semua bajunya Adinda. tasnya pun tidak mewah-mewah sekali. Tas dengan harga murah namun memiliki kualitas sangat bagus sekali.
Diam-diam sang istri memiliki saham sebesar dua puluh lima persen milik Njawe Groups. Ia menggelengkan kepalanya sambil membuang nafasnya. Seakan tidak percaya, Budiman bertanya, "Apakah itu benar?"
"Iya," jawab Adinda.
"Apakah aku sudah gila?" tanya Budiman yang mengerutkan keningnya.
"Kamu belum gila. Sekarang kamu tahu aku siapa sebenarnya? Aku biasa membalikkan keadaan Kanaya dalam waktu sekejap. tapi enggak sekarang. Tunggu aku mengungkap kasus tentang Gilang. Aku sudah memiliki seluruh kejahatan. Dan kamu tenanglah... santai saja dulu," jelas Adinda.
"Aku tidak menyangka kalau kamu pandai berbisnis. Aku kira kamu adalah wanita yang menampilkan kemewahan," ucap Budiman dengan serius.
"Tidak. Aku bukan wanita yang suka menghambur-hamburkan uang begitu saja. Aku tidak menyukai barang-barang mewah sekalipun. Kamu tenang saja, aku tidak akan meminta barang-barang mewah darimu. Karena aku sendiri tidak mengoleksi barang-barang seperti itu. Aku hanya mengoleksi saham dari beberapa negara," jelas Adinda yang berkata jujur hingga membuat Budiman terkejut.
"Seharusnya kamu meminta tas branded kek, baju mahal, mobil mewah dan lainnya. Kenapa aku disuruh tenang? Jika istriku tidak meminta apa-apa?" tanya Budiman yang menurutnya itu sangat membingungkan.
"Terserah kamu saja. Mau kamu belikan aku terima. Mau enggak ya sudah. Aku sendiri tidak menuntut kamu untuk membelikan aku barang-barang mewah," jelas Adinda tidak menuntut apapun.
"Terus kamu mau menuntut apa?" tanya Budiman semakin frustasi mendengar pernyataan dari sang istri kecilnya itu.
"Cuma itulah permintaan sederhana itu? Aku tidak mengira kalau meminta itu padaku. Aku akan membuat kamu bahagia di sampingku. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kamu sebagai istri yang sempurna," jelas Budiman sambil mendapatkan anggukan dari Adinda.
Betapa sederhananya permintaan Adinda ke Budiman. Ia pusing harus berbuat apa. Satu banding seribu wanita di dunia ini, Adinda adalah wanita langka. Saking langkahnya, Budiman tidak akan pernah melepaskannya sedikitpun. Ia mulai bersyukur kepada Tuhan, kalau Adinda adalah wanita baik sengaja dikirimkan oleh Tuhan kepada dirinya. Seharusnya ia sadar sedari dulu, kenapa dirinya selalu mengingat Kanaya? Ada seorang bidadari cantik berada di hadapannya. Apakah Budiman tidak menyadari akan hal itu?
Sore pun tiba, persiapan pulang terjadi. Adinda yang masih belum kuat berjalan memaksakan dirinya untuk berjalan. Sementara itu Budiman melihat sang istri kecilnya langsung mendekati ya sambil menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya kamu tidak usah berjalan seperti ini," ucap Budiman.
"Aku harus berjalan. Biar tidak kaku. Aku sudah berbaring di ranjang selama beberapa hari. Aku capek untuk tetap berbaring," sahut Adinda yang merasakan perutnya masih ngilu.
"Tapi sudah tidak ada darahnya kan?' tanya Budiman.
"Sudah tidak ada. Tinggal mengeringkan lukanya saja. Kata Kak Kevin, aku tidak boleh jalan dengan cepat. Aku sendiri harus berjalan dengan sangat pelan sekali. AKu tidak tahu harus apa?" jawab Adinda yang kesal jika jalannya terlalu lambat.
"Mau aku gendong?" tanya Budiman menawarkan dirinya untuk menggendong Adinda.
"Apakah kamu kuat?' tanya Adinda.
"Ya... aku kuat. Aku akan menggendongmu sampai ke rumah," jawab Budiman yang mendekati Adinda lalu memegang wajah Adinda.
"Bisa saja kamu," ucap Adinda tersenyum manis.
"Ya bisalah. Aku sendiri memang Serena bisa. Tapi tunggu Tio datang ya," sahut Budiman yang sengaja mencium bibir Budiman.
Andara yang selesai mengerjakan tugasnya tersenyum manis. Ia langsung berbenah membersihkan mejanya lalu meninggalkan ruangannya. Ia sengaja pergi ke ruangan Tio sambil tersenyum bahagia.
Sesampainya di sana Andara masuk ke dalam ruangan Tio. Tanpa mengetuk pintu, Andara masuk ke dalam dan melihat Tio baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Kak," panggil Andara.
"Hey, Nda," sahut Tio.
"Apakah kakak ingin menjemput Kak Budi?" tanya Andara.
"Ya.. aku akan kesana. Kak Budiman akan tinggal bersama Adinda di dalam kamarnya," jawab Tio yang membuat Andara bertanya-tanya.
"Kok bisa ya?" tanya Andra.
"Mereka sudah menjadi suami istri," jawab Tio yang tersenyum lucu melihat Andara bingung.
"Bukan itu maksudku. Dimana Kak Budiman akan tinggal?" tanya Andara.
"Dia akan tinggal di rumah Adinda. Jarak antara kantor dan rumah sangat dekat sekali. Kalau jalan kaki akan sampai," jawab Tio.
"Huaha... Ini enggak bisa dibiarkan. Lalu aku tinggal sama siapa?" tanya Andara.